
"Mi lihat Mi! Sebentar lagi si cowok bakal kissing sama si cewek Mi!!"
Dela menunjuk sang pemeran utama dengan antusias.
Yeahh kali ini Dela dan juga Clara tengah menonton drama dari negeri gingseng bersama. Seorang aktor tampan sebagai pemeran utamanya menjadi idola mereka saat ini. Genre romantis menjadi pilihan mereka. Apalagi suasana ruangan yanh redup semakin memperkuat aura romantis di mini bioskop itu. Sewadah popcorn dan dua kaleng minuman bersoda menjadi teman nonton mereka.
"Aaaaa Mamiii so sweetnya mereka."
Dela menangkup kedua pipinya sendiri. Ia bersikap seakan–akan pemeran wanita yang menjadi pasangan sang idola. Lantas ia menggoyangkan tubuh Clara dengan menggerakkan lengan atas Clara cukup kencang.
"Astaga Dela! Bisa diam tidak sih?" keluh Clara. Ia segera melepas cekalan Dela pada lengannya. “
Sikap mereka benar–benar terbalik. Biasanya orang yang heboh itu yang lebih tua, namun ini malah sebaliknya. Clara kesal dengan tingkal Dela yang cukup mengganggunya itu.
"Ihh Mami!! Mengganggu kesenangan aku aja!" sungut Dela. Baginya interupsi dari Clara lah yang mengganggu kebahagiaannya.
"Makanya diam saja dan lihat. Mami juga ingin menikmati dramanya."
"Iya–iya," sahut Dela dengan wajah yang sedikit tertekuk lantaran kesal dengan maminya itu.
Dela kembali ke posisi semula. Ia mengambil bantal kecil yang sebelumnya ia letakkan di sebelah kirinya lalu meletakkannya di pangkuannya kasar. Wajahnya benar–benar tak enak lagi untuk dipandang. Tangan kanannya yang tak sibuk dengan apapun pun mulai mengambil popcorn lantas memasukkan ke dalam mulutnya tanpa aturan.
"Nah gitu dong," celetuk Clara kemudian.
Mereka pun menonton kembali drama yang belum usai.
"Video apa ini?"
Mereka berdua panik. Tiba–tiba saja apa yang mereka lihat di layar telah berubah. Bukan lagi drama korea, namun sekarang telah berganti menjadi video yang tak asing bagi mereka. Sebab merekalah pemeran utamanya dalam rekaman video.
"Mi apa ini? Kenapa ini yang Mami putar?"
"Apa apaan sih kamu? Bukannya kami ya tadi yang menyiapkan videonya. Kenapa jadi Mami yang salah?"
Mereka berdua sibuk saling menuduh satu sama lain tanpa sedikitpun bukti yang memberatkan salah satunya. Video–video itu adalah video yang telah disimpan rapat–rapat, bahkan mereka hilangkan secara diam–diam.
"Mana ada Mi? Lagi pula kan aku di sini bersama Mami!"
Deg
Seketika dunia Dela seakan berhenti. Ia terperanjat lantaran video yang ia lihat adalah video yang telah ia hilangkan.
"Bagaimana mungkin video itu masih ada?"
Dela menyadari kejanggalan itu. Ia berbicara berbisik ke dekat telinga Clara.
"Ya mana Mami tahu! Bukannya kamu telah menghapusnya?"
Dela menelan pahit ludahnya. "Mi ..."
Seketika ketakutan pun menghampiri Dela.
"Ehmmm!"
Tak menunggu waktu lama, apa yang Dela takutkan terjadi. Edi datang dengan suara tepuk tangan yang menggema di ruangan itu.
"Bagus kan filmnya?" sindir Edi tepat. Seulas senyum miring mengembang di sebelah sudut bibir. Kekecewaan itu membara hebat di dalam dadanya. Sedangkan baik Clara maupun Dela menggeleng tak percaya lantaran Edi mampu mendapatkan rekaman video itu.
__ADS_1
"Video apa ini Pi?"
Clara menunjuk tegas ke arah layar dengan video yang masih berputar.
"Jelaskan apa yang perlu kalian jelaskan!"
Edi tak mendengar apa kata Clara. Ia sudah tak percaya lagi dengannya.
"Pi ... Video itu semuanya editan. Mana mungkin kami melakukan hal seperti itu Pi!" Dela mulai angkat bicara. Ia melakukan pembelaan diri agar mereka tak disalahkan.
Seketika itu juga Edi pun tertawa sumbang. Bahkan tawanya itu terdengar gila.
"BOHONG!!!" bentak Edi. Tak ada lagi kelembutan melainkan amarah yang telah menguasai. Matanya menatap tajam, tangannya pun mulai menunjuk tegss ke arah mereka berdua agar mereka bedua lekas mengakui apa yang mereka perbuat.
"Aku tidak percaya. Lagi pula tidak mungkin Bima melakukan kesalahan dan melakukan hal semenjijikkan itu hanya untuk menjatuhkan kalian!"
Nada bicara seorang Edi terdengar begitu mengerikan setelah selama ini Edi tak pernah meluapkan kemarahan kepada mereka.
"Hahahahaha!!"
Suara tawa yang cukup mengglegar itu terdengar. Clara tertawa kala Edi menyebut nama Bima dalam perbincangan mereka.
"Bima? Langsung begitu percaya saja kamu dengan Bima? Bukankah Bima dekat dengan Gea? Bisa saja kan dia memalsukan video itu. Dia seorang ahli IT. Bukankah itu adalah pekerjaannya?"
"Dan lagi. Bukankah dia membenci kami?"
Clara menatap Edi tajam. Ia berusaha semampunya untuk terhindar dari amukan.
Edi kembali tertawa sumbang. "Jangan pernah berbohong lagi padaku! Aku sudah tahu semuanya! Tanpa Bima beri tau pun aku sudah tau apa yang sebenarnya terjadi. Mau ngelak bagaimana lagi hm?"
Edi menekan setiap kata yang ia ucapkan. Entah bagaimanapun caranya, ia ingin membuat Clara dan juga Dela jera.
Edi memalingkan wajahnya sejenak. "Aku telah melihat semuanya di saat Gea datang ke rumah ini untuk yang terakhir kalinya. Aku sengaja diam dan melihat semuanya!'
Mereka sekrang melongo dibuatnya. "What?!" batin mereka penuh tanya.
"Hahaha Papi bohong kan? Papi salah paham dengan kami, Pi!" Dela tak terima dengan apa yang sudah terungkap begitu saja.
"Ternyata perilaku kalian semenjijikkan itu! Dasar ular! Mulai malam ini, kita cerai! Aku akan segera mengurus berkas–berkasnya!" putus Edi tanpa menghiraukan ucapan Dela.
Seketika siara tawa mengglegar terdengar. Tawa Clara terdengar gila. Bahkan tepuk tangan terdengar lantaran ialah yang bertepuk tangan.
"Wow ... Benar–benar ayah yang baik." Clara berusaha menyindir Edi dengan berbagai macam kalimatnya. Clara mengangguk angguk ringan.
"Dia membela anak kandungnya dengan menajiskan anak kandungnya yang lain dan juga istrinya. HEBAT!"
"Kamu tahu? Kami melakukan ini karena apa?" Clara menjeda kalimatnya, menunggu bagaimana respon Edi.
Edi masih terdiam. Ia masih membiarkan Clara mengeluarkan segala perkataannya tanpa berniat memotong pembicaraan Clara.
"Anak kesayanhanmulah yang hampir membunuh Dela!!! Bukankah kau tahu itu?" Clara kembali tertawa.
"Dengan teganya ia hampir merenggut nyawa Dela begitu saja. Apakah adil buat kami?! Wajar bukan kalau kami membenci kehadirannya?!" Clara pun tersenyum miring.
Seketika, leher Edi seperti tercekat. Apa yang Gea lakukan beberapa tahun lalu itu begitu fatal. Namun apa yang mereka lakukan juga tak sepatutnya mereka lakukan.
Edi mengambil napas dalam. "Tapi bukankah kalian tak seharusnya membalasnya?" Suaranya kali ini telah melunak.
__ADS_1
"Kami bukan malaikat! Membenci adalah hak kami bukan?!"
Kali ini bukan Clara yang berbicara, namun Dela telah mulai angkat bicara. Edi menggeleng tak percaya akan apa yang diucapkan dan juga pemikiran mereka.
Edi mengambil napas dalam lagi lantas mengeluarkannya dengan kasar dan berat. "Baiklah. Memang lebih baik kita hidup sendiri–sendiri saja. Kalian dengan dunia kalian dan aku dengan duniaku."
"Gawat. Bukan ini yang aku mau," batin Clara dalam hati.
Sebulir air bening lolos begitu saja di pipi Clara. "Sebegitu tak berharganya sebuah arti pernikahan di matamu Pi? Tega ya Papi mengatakan semuanya itu?" Isakan mulai terdengar. Clara berusaha meluluhkan hati Edi yang pada dasarnya lembut dan mudah luluh.
"Kami melakukan perbuatan dengan alasan. Tak akan ada asap kalau tak ada api yang menyala. Kenapa Papi pilih kasih seperti itu? Huhuhuhu"
Dela mulai merangkul maminya itu berusaha menenangkan Clara lantas menatap tajam ke arah Edi.
"Aku tidak menyangka Papi bisa melakukan hal ini pada kami!" ucapnya lirih namun penuh dengan penekanan.
"Papi tega menceraikan Mami atas kesalahan yang bukan murni dari kami sendiri!"
Cukup lama Edi terdiam. Sedangkan Dela berusaha keras menenangkan maminya.
Edi pun menghela napas kembali. "Hmm baiklah. Aku memaafkan kalian, dengan syarat, kamu kembali pulang ke rumah suamimu."
Dela seketika membeliakan matanya. Keputusan ini tak adil baginya. Dia tak ingij kembali dengam Davin.
"Pi—"
"Baiklah. Dia akan pulang ke rumah suaminya."
Clara telah memotong terlebih dahulu ucapan Dela. Ia tak ingin kehilangan semuanya. Lantas ia menatap tajam mata Dela.
"Baiklah. Aku akan kembali padanya."
Malam itu, Edi telah kembali luluh namun dengan syarat. Dalam hati ia berharap, agar apa yang terjadi sebelumnya tak terjadi lagi. Karena bagaimanapun, ia juga mencintai istrinya itu.
🍂
"Wanita ular bagaimanapun akan tetap ular," ucap Bima dengan senyum miringnya.
Dia memantau aktivitas dalam rumah itu dengan sistem CCTV dan rekaman suara yang telah ia sambungkan ke komputer miliknya.
"Kenapa dirimu begitu bodoh Paman?"
Ia heran dengan Edi yang masih saja luluh dengan sikap Clara maupun Dela.
"Hmm tak apa, masih belum game over. Tunggu hingga semua bom itu akan meledak!"
🍂
//
Astaga om kapan si om sadar 😭
🍂
//
Happy reading gaess
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕