Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
137. Bayi Tua


__ADS_3

"Semua sudah hadir di ruang meeting Bos. Meeting akan dimulai sebentar lagi," ucap Adam yang mengingatkan Briel. Mereka akan melakukan meeting bulanan yang diadakan sebulan sekali, sebagai evaluasi kinerja karyawan perusahaan.


"Baik, persiapkan semua hal yang saya butuhkan. Jangan sampai ada yang terlewatkan!" titah Briel.


"Baik Bos." Adam mengangguk hormat. Ia berdiri menunggu Briel yang masih saja duduk sembari memainkan hp pintarnya.


"Aneh ni orang, senyam senyum kek orang gila," batin Adam heran. Sesekali Adam mencoba mengintip layar itu. Ia penasaran dengan apa yang Briel lakukan.


Merasa ditunggu dan diperhatikan, Briel mengalihkan perhatiannya ke arah Adam. Ia melirik Adam sekilas.


"Sepertinya ada setan kepo nih," gumam Briel samar. Ia tak suka diperhatikan seperti itu.


"Kenapa kau masih di sini?" tanya Briel heran. Briel mengerutkan dahinya.


"Ya kan aku masih menunggu kau di sini," jawab Adam jujur. Meeting–nya akan dimulai 10 menit lagi. Maka dari itu ia memilih untuk menunggu Briel.


"Ck … gak usah menungguku. Sana pergi dulu ke ruang meeting. Ada hal yang harus kulakukan."


"Apaan sih?" tanya Adam sembari menyondongkan badannya ke arah, Briel, mencoba mencari tahu apa yang Briel lakukan. Secepat mungkin Briel menutupkan gawainya ke meja sehingga Adam tak bisa melihat apa yang Briel lakukan.


"Kenapa kau kepo sekali. Sudah sana! Tak ada hubungannya juga dengan kau," jawab Briel kesal. Ia tak suka Adam bertanya padanya.


"Iya–iyaa …." ucap Adam malas. "Dasar gila!" gumam Adam kemudian.


Briel memelototkan matanya. "Bilang apa kau tadi?"


"Apa?" tanya Adam sok polosnya.


"Hilih … pura–pura tak tahu!" cibir Briel.


"Oh itu … Dasar gila! Sekali gila tetep gila!" ucap Adam lebih diperjelas. Briel memutar bola matanya malas.


Adam pergi dari ruangan Briel setelah mengatakan demikian. Ia tak peduli dengan mata Briel yang seolah–olah mengulitinya.

__ADS_1


"Jangan lama–lama! Tak kunjung datang, kuambil alih perusahaan ayahmu tahu rasa kau!" ucap Adam sembari berjalan ke luar ruangan.


"Terserah! Sana pergi!" usir Briel. Aktivitasnya terganggu karena kehadiran Adam.


"Dasar! Dulu saja susah di suruh nikah. Tiap hari kata frustasi seperti tak akan pernah pergi." Adam mengingat bagaimana Briel beberapa bulan yang lalu. Briel yang selalu mengeluh karena dia harus menikah.


"Lalu setelah menikah, apaan coba? Senyam senyum sendiri kayak orang gila akut." Adam tersenyum mengingat kebodohan Briel yang dimabuk cinta bahkan tersenyum sendiri seperti orang gila. Sekilas, Adam berhasil mengintip pesan singkat Briel dengan Gea tanpa Briel ketahui.


"Memang ya, cinta dapat merubah segalanya," gumam Adam.


Adam terus berjalan menuju ruang meeting.


"Selamat pagi," sapa Adam yang sudah masuk ke dalam ruang meeting.


"Pagi, Tuan," jawab semua orang serentak.


"Sebentar lagi meeting akan segera dimulai. Persiapkan semuanya sebelum Bos datang. Jangan sampai ada yang terlewatkan!" titah Adam seperti apa yang Briel minta.


🍂


"Ihh kenapa Bayang seperti sih," ucap Gea pada dirinya sendiri heran. Di pesan terakhir mereka bertukar pesan, Briel memintanya untuk melakukan panggilan Video dengan Briel. Ia membaca ulang teks bertukar pesan dengan Briel.


"Hufft dasar bayi tua," gerutu Gea. Ia malas melakukan permintaan Briel yang terbilang aneh itu dan tidak biasanya itu.


Gea menekan ikon panggilan video. Pada detik pertama tanda berdering, panggilan itu langsung terhubung. Wajah sumringah terpampang jelas di layar itu.


"Akhirnya …" ucap Briel di sebrang sana.


"Ada apa sih Bayang? Sampai pagi–pagi begini minta video call. Kurang kerjaan sekali Anda, Bos," ucap Gea langsung. Bibirnya sedikit manyun ke depan.


"Wih wih wih, Nyonya Bos cembeyut nih," goda Briel.


"Ga ada kamu di sini ga asik Geyang. Baru pergi dari apartemen aja sudah kangen," ucap Briel dengan wajah melas.

__ADS_1


Tiba–tiba saja pipi Gea memanas. "Astaga pipiku …" keluh Gea dalam hati. Pipinya mulai memerah, tersipu karena ucapan Briel. Briel tertawa renyah melihat wajah Gea yang memerah.


"Ihh apaan sih Bayang … sudah sana kerja. Cari uang yang banyak buat Dedek Utun," ucap Gea.


"Iya kan Dek?" ucap Gea sembari menunduk dan mengelus perutnya sendiri.


"Iya…" Gea menjawab pertanyaannya sendiri dengan menirukan suara anak kecil.


Lalu Ia menjulurkan lidahnya ke layar. Briel terkekeh dibuatnya. Inilah yang Briel tunggu. Tertawa dari tawanya, istrinya.


"Kiss jauh dulu dong, Geyang," pinta Briel semakin menjadi.


Gea berdecak. "Aihh Bayang. Kayak anak kecil saja. Sudah sana kerja! Kasihan karyawanmu menunggu. Buat peraturan on time, tapi Bos nya sendiri yang gak on time," sindir Gea yang diselingi candaan.


Briel tertawa lagi. "Kiss dulu, biar aku lebih semangat kerjanya. Baru aku pergi kerja deh," bujuk Briel sekali lagi.


"Ck dasar bayi tua!" gumam Gea. Suaranya masih bisa di dengar Briel, namun Briel tak mempermasalahkannya.


Gea melakukan apa yang Briel minta. Tak lama setelah itu, Gea mengakhiri panggilannya.


🍂


"Selamat pagi, paparkan kinerja kita selama sebulan ini."


Briel memulai meetingnya pagi itu. Ia lebih bersemangat setelah mendapatkan amunisi khusus dari Gea. Adam hanya bisa menggelengkan kepalanya ringan. Ia heran dengan Briel. Di ruangan Briel tadi, ia melihat Briel yang bermalas–malasan. Namun sekarang? Briel terlihat seperti gawai yang energinya baru saja terisi penuh.


"Sungguh, cinta memang ajaib," gumam Adam dalam hati.


🍂


//


Happy reading gaess

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2