Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 Satu Langkah


__ADS_3

Malam semakin larut. Bermenit menit terasa seperti berjam–jam. Perjalanan itu terasa amat panjang, melelahkan dan menguras tenaga. Waktu berjalan begitu lambat bagi mereka. Tak ada seorang pun dari mereka untuk mengobrol. Mereka terdiam, sibuk dengan berbagai pikiran dan kekhawatiran yang mereka pendam sendirian.


Briel menekan alat komunikasi kecil yang ia pasang di belakang telinganya. "Hati–hati. Jangan sampai pergerakan kita diketahui oleh mereka!" ujar Briel mengingatkan.


Mereka memarkirkan mobil cukup jauh dari lokasi yang mereka tuju. Kehadiran mereka dengan sorot lampu mobil, hanya akan mengundang kesadaran musuh. Mereka akan kehabisan tenaga sebelum eksekusi strategi dimulai.


Satu persatu mereka turun dari mobil. Gea, dengan stelan jaket kulit dan celana jins pun turut turun dari mobil. Briel menghampiri sang istri. Ia ingin bersama istrinya mencari Rio sekaligus memastikan keselamatan Gea dari tangan musuh.


"Sudah siap?" tanya Briel pada Gea.


Gea menoleh ke arah Briel. Ia mengangguk sekilas, "Siap!"


Mereka bergegas. Cepat, namun hati–hati. Lawannya kali ini cukup untuk membuat mereka kelimpungan. Salah sedikit, mungkin di antara mereka bisa saja terluka atau bahkan fatalnya kehilangan nyawa.


Tiba–tiba Briel menangkap sinyal alat komunikasi itu terhubung kembali. Briel menekan alat komunikasi kecil itu untuk mendengar dari sang penghubung.


"Ada 4 pintu dari 4 penjuru mata angin. Namun sepertinya pintu–pintu itu sedikit tersembunyi sehingga membutuhkan kejelian kalian," suara Bima yang terdengar.


Briel mengangguk dan anak buahnya mengangguk. Mereka saling tatap satu sama lain. Tanpa banyak bicara, mereka saling berpencar untuk mencari celah. Hanya dari tatapan mata saja mereka mengerti apa yang harus mereka lakukan.


Banyak hal yang Briel pikirkan. Mereka akan masuk dari segala sisi untuk mengacaukan pertahanan mereka. Menyerang dari salah satu sisi hanya akan mempermudah mereka untuk melarikan diri, begitu salah satu pikir Briel. Kali ini Briel memilih masuk melalui sisi samping bersama dengan istrinya adalah salah satu bentuk penjagaannya akan keselamatan sang istri.


"Sayang, berjalanlah di belakangku!" titah Briel tegas tak terbantahkan. Tangannya mearih tangan Gea kala Gea mulai berjalan mendahului Briel. Gea sendiri tidak cukup sabar untuk menunggu. Ia melupakan suaminya sebagai pendahulunya saat ini. Ia bukan lagi melakukan penelusuran pribadi.


Pada akhirnya Gea hanya bisa mengangguk pasrah. Lagi pula tidak ada untungnya jika ia tidak menuruti perkataan suaminya. Menurut lebih baik dari pada merepotkan lantaran sesuatu terjadi karena kecerobohannya.


Sedangkan anak buah Briel yang bersama dengan Briel, memberikan perlindungan di depan dan di belakang. Mereka juga tidak ingin tuannya terluka. Kesetiaan mereka tidak bisa dibeli dengan uang bahkan nyawa pun bisa mereka relakan.


Di sisi lain, Nathan dan juga Nichol terpisah barisan. Mereka berusaha mencari celah pintu masuk. Gedung kosong itu sangatlah luas. Mereka memerlukan waktu untuk mencari pintu masuk itu. Apa lagi di luar bangunan, tanaman merambat menutup segala sisi bangunan itu.


"Ck bangunan apa rumah hantu ini?" ujar Nichol. Kepalanya mendongak ke atas kanan dan ke atas kiri untuk memastikan jika di area itu tidak ada tanda–tanda kehidupan gaib. Di antara semuanya, Nichol adalah anak buah yang paling percaya akan kehidupan mistis.


"Aduh Bos! Hari gini masih percaya hantu? Come on, Bos. Sudah bukan lagi masa penjajahan ini!" celetuk salah satu dari anak buah Nichol.


"Masih dijajah. Itu buktinya anak game mau aja kita kibulin. Kalau bukan masih masa penjajahan apa namanya?" sahut Nichol. Perlu diketahui, Nichol adalah salah satu dari pencetus aplikasi game online yang ramai digunakan, terutama di kalangan anak–anak hingga remaja dewasa.

__ADS_1


"Astaga Bos, Bos. Itu bukan penjajahan, tapi pembodohan!" Anak buah Nichol geleng–geleng kepala.


"Sama saja! Ah sudahlah! Pusing berdebat denganmu," gerutu Nichol yang kini mulai fokus lagi dengan tujuan utamanya.


🍂


"Kapan sampai? Lama sekali kau menyetir mobil ini. Jangan jangan dulu kau tidak lulus tes mengemudi?" sarkas Bima. Ia menilai jika kemampuan Adam dalam mengemudi tidak selihat itu.


"Enak saja mulut Anda berbicara!" sahut Adam kesal. Hendri berusaha menutup telinga. Ia tidak ingin energinya terkuras karena dua manusia di hadapannya itu.


🍂


Satu persatu pertahanan mulai di bobol. Anak buah Mrs. L mulai mengerahkan semua anak buah untuk menahan bahkan memukul mundur Briel dan antek–anteknya. Suara dentuman pukulan terdengar di mana mana. Teriakan kemenangan dari setiap sesi pukul memukul terdengar ke sana ke mari.


"Nyonya! Mereka menyerang markas kita tiba–tiba dengan anak buah yang tidak kalah banyak," lapor salah satu anak buah Mrs. L. Kepalanya menunduk dengan kecemasan yang kian menggebu di dalam hatinya.


Mrs. L yang semula duduk di sofa dengan santai, kini ia berdiri. Ia menautkan kedua alisnya. Ia terkejut jika markasnya akan ditemukan secepat itu padahal ia sudah berusaha menghilangkan tempat itu dari peta digital. Gelas berisi wine yang semula ia genggam, kini ia letakkan kasar di atas meja, hingga membuat itu dari gelas itu keluar.


"Kurang ajar! Habisi mereka! Jangan sampai mereka bisa masuk ke sini!" titah Mrs. L.


🍂


Briel menarik cepat tubuh Gea ke dalam pelukannya, menyingkir dari sebuah benda tajam yang musuh mereka ayunkan ke arah Gea untuk melukai Gea. Pisau itu berakhir menghunus udara kosong.


"Makasih Bayang," ucap Gea kala dekapan perlindungan itu ia terima.


Brak


Tubuh seorang anak buah musuh terpental menabrak tumpukan drum. Tendangan maut Briel gerakan kala seorang berusaha untuk meraih keberadaan Briel dan Gea.


Briel beralih menatap sang istri. "Lain kali lebih berhati–hati, Sayang," ujar Briel lembut.


Gea mengangguk mengiyakan.


Sedangkan di tempat persembunyian, Mrs. L melihat aktivitas mereka dari rekam CCTV. Matanya menyipit. Ia mulai panik melihat anak buahnya yang satu persatu mulai tumbang.

__ADS_1


"Arrghh... Siaaal!!" umpat Mrs. L melempar gelas yang ada di depannya itu.


Ia mulai memikirkan hal yang bisa membuat mereka tak berkutik.


🍂


Semua musuh mereka di pintu samping sudah selesai mereka bereskan. Hingga sekumpulan anak buah musuh kembali menyerang.


Suara perkelahian mulai terdengar kembali. Briel dan yang lainnya tidak menyangka jika akan ada serangan tambahan.


"Masuklah terlebih dahulu Geyang. Aku akan membereskan kekacauan di sini terlebih dahulu!" teriak Briel yang kini menahan serangan lawan.


Gea yang juga berusaha menumbangkan lawan pun mengangguk.


Baaam


Briel mengayunkan kepalan tangannya ke perut lawan, hingga membuat sang lawan mundur beberapa langkah. Saat itu juga Briel mengambil alih lawan Gea lantas membiarkan Gea pergi terlebih dahulu.


Tanpa berpikir lama, Gea berlari meninggalkan yang lainnya dengan berat hati. Namun ia juga tidak ingin hilang kesempatan untuk menemukan puteranya. Gea berlari dengan pasti. Sesekali kepalanya menoleh ke segala penjuru arah.


"Bunda akan segera membawamu kembali, Rio," janji Gea dalam hatinya seraya terus berlari dengan langkah kaki yang mantap.


Gea terhenti. Ada sebuah notifikasi dari gawainya.


"Masuk sendiri, atau pedang ini memisahkan kepala dan tubuh anakmu."


Sebuah pesan singkat itu ia terima bersamaan dengan sebuah foto anaknya yang masih saja tertidur pulas dengan sebilah pedang tajam yang mulai menyentuh leher anaknya yang tertidur itu.


"Pesan singkat macam apa ini?!" ucap Gea lirih, geram, dengan tangan yang semakin erat meremas gawai itu.


🍂


//


Happy reading gaess

__ADS_1


Jangan lupa bahagiab🤗💕


__ADS_2