
Kini Briel berada di dalam sebuah ruangan bersama dengan Gea yang terbaring di ranjang dengan berbagai macam alat yang menempel di tubuh Gea. Briel setia menunggu sang istri di samping ranjang itu. Kedua tangannya memegang erat tangan Gea, mengelus perlahan berusaha agar tidak menyakiti istrinya itu.
Briel menatap istrinya penuh harap.
"Hei ... Sudah beberapa jam lalu kamu tertidur. Apakah kamu tidak berniat untuk bangun?"
Briel mengajak bicara Gea walau ia tahu, ia tidak akan mendapatkan jawabnya. Tapi ia yakin, Gea pasti mendengar perkataannya.
"Apakah kamu tahu? Baby twins kita itu lucu–lucu. Mereka tampan, tentunya seperti Ayahnya."
Tiba–tiba saja bibir Briel tertarik ke atas di kedua sudutnya. Briel mengingat betapa lucu dan manisnya kedua anaknya itu. Yeah ... walaupun kedua anaknya itu masih diinkubator di ruangan khusus. Ia menceritakan semuanya pada Gea, berharap Gea nanti akan meresponnya.
Briel menatap sendu wajah Gea yang yang terlihat begitu pucat. Mata indah itu terpejam sempurna.
"Bangunlah. Apa kau tidak mau melihat kedua anak kita itu?" Briel menjeda ucapannya. Ia menarik napas dalam.
"Tahu tidak? Aku masih belum memberi mereka nama. Aku bingung menentukannya. Nama yang kita sediakan satu cewek dan satu cowok. Tapi ternyata anak kita cowok semua."
Briel tertawa kecil mengingat hal itu. Yeah ... Awal mulanya, mereka tidak mengetahui jika anak mereka bakal kembar seperti itu. Dari hasil USG juga, Dokter tidak melihat bahwa bayi yang dikandung Gea itu kembar. Maka dari itu mereka hanya menyiapkan nama tunggal dengan 2 pilihan.
"Mereka mirip. Jika aku yang memberi mereka nama, takutnya aku lupa siapa dahulu yang kuberi nama. Sungguh aku membutuhkanmu. Ingatanku tidak sekuat itu," ujar Briel.
Di tengah kesedihannya ia tersenyum geli, menertawakan dirinya sendiri yang masih terheran dengan wajah kedua putranya yang terlihat mirip.
"Aku menunggumu. Aku ingin memberikan nama pada anak kita bersama denganmu. Bangun ya, sayang," ujar Briel.
__ADS_1
Matanya tidak bisa bohong. Ia benar–benar sedih akan hal itu. Sampai detik ini, Briel belum juga tertidur padahal semalaman ia terjaga. Meskipun begitu, anehnya, matanya tidak ada niat untuk tidur. Semuanya sudah teralihkan oleh Gea yang memenuhi hati dan pikirannya.
"Hmm baiklah." Briel menegakkan badannya. Ia meletakkan kembali tangan Gea yang semula ia genggam. "Waktunya membersihkan badanmu, Sayang."
Briel mengerutkan hidungnya. "Emmh bauk acem ini"
Briel beranjak mengambil sebuah handuk kecil dengan baskom berisi air untuk mengepel tubuh Gea agar walaupun Gea tidak mandi, tapi tubuhnya tetap bersih.
Telaten, Briel mengelap inci demi inci tubuh Gea. Ia melakukannya dengan perlahan. Terlihat jelas jika ia begitu menjaga istrinya.
"Dah selesai."
Briel tersenyum. Ia kembali berdiri lantas meletakkan baskom air dan handuk kecil itu di atas nakas yang tidak jauh dari sana.
"Tapi maaf. Aku tidak bisa merias wajahmu seperti biasanya kamu merias diri. Atau kalau kulakukan, wajahmu akan seperti badut."
"Hmm aku tinggal dulu ya. Sepertinya perutku juga minta diperhatikan. Dia iri denganmu yang mendapat perhatianku penuh."
Briel tertawa kecil. Perut Briel sudah meronta, mulai berdemo ria. Meskipun ia sendiri tidak berniat, namun ia sadar, bahwa ia harus tetap mengisi perutnya. Kesehatannya harus tetap terjaga agar dia juga bisa merawat istrinya dengan baik.
"Akhirnya..." ucap Tere kala Briel keluar dari ruangan. Tere menunggu Briel di depan ruang.
"Loh, Bunda masih di sini?"
Briel mengerutkan dahinya. Kemudian ia mengedarkan pandangannya. "Yang lain kemana?" Briel tidak menemukan orang lain selain bundanya.
__ADS_1
"Mereka semua Bunda suruh pulang istirahat. Kamu sudah makan belum?"
Briel menggeleng ringan sebagai jawabannya.
"Makanlah dulu. Biar Bunda yang menggantikanmu menjaga Gege sementara."
"Baiklah." Briel mengangguk pelan. Ide Tere adalah hal yang bagus. Ia tidak perlu khawatir dengan keadaan Gea lantaran ada yang menjaganya kala Briel keluar. Tere pun tersenyum lega. Awalnya ia mengira jika Briel akan menolak mentah–mentah perkatannya.
"Bunda sudah makan?" tanya Briel kemudian.
"Gampang. Yang penting kamu dulu. Setelah kamu selesai, gantian Bunda yang makan."
"Tapi Bund–"
Tidak ada kalimat protes. Tere tidak mengijinkannya untuk mengucap kalimat yang ingin Briel sampaikan.
"Tidak ada kata tapi," ujar Tere tegas.
Briel menghembuskan napasnya kasar. Lantas Briel hanya bergumam sebagai jawabnya. Ia akan berusaha makan secepat mungkin agar ia dapat kembali menjaga Gea. Ia akan tetap berada di samping Gea, bagaimana keadaan Gea, sesuai dengan janji yang telah ucapkan di hari pernikahannya.
🍂
//
Happy reading gaess
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕