
Seharian ini telah Gea lalui bersama dengan Briel. Mereka menghabiskan waktu seharian berdua dengan melakukan apapun hal yang mereka sukai. Dan seharian itu pula pekerjaan Adam meningkat dua kali lipat dari biasanya.
Di hari yang mulai petang ini, Adam masih duduk di tegak di sebuah kursi. Kantor sudah sepi, hanya tinggal beberapa orang saja. Adam masih berkutat dengan tumpukkan kertas yang menggunung dan sejumlah pesan elektronik yang masih belum ia jamah. Manik matannya terfokus pada kertas putih bertinta hitam untuk meneliti satu persatu ketepatan dokumen itu dengan bolpoin di tangannya.
"Arrggh capek sekali ...." keluh Adam sembar meletakkan kasar bolpoin yang ada di genggamannya ke meja.
Adam merenggangkan tangannya ke depan, atas, samping kanan, dan samping kiri secara bergantian. Pun dengan lehernya. Ia mematahkan ke kanan dan ke kiri hingga terdengar bunyi ringan patahan tulang di lehernya yang terasa kaku. Rasanya lebih mendingan. Setidaknya rasa pegal dan ototnya yang kaku berkurang.
"Isss Briel kurang ajar sekali. Mentang–mentang bos seenak jidatnya aja," geruntunya. Tangannya melempar dokumen yang ia pegang ke atas meja.
"Merana kini aku merana 🎶 " Adam melantunkan sebuah lagu asal–asalan yang hanya dia sendiri yang tahu bagaimana lagu itu, meratapi nasibnya yang tak kunjung pulang juga.
"Arrghh bodo amat. Aku mau pulang. Capek!" seru Adam. Tanpa menunggu semuanya selesai, Adam memilih meninggalkan kantor untuk mengistirahatkan tubuhnya. Karena percuma juga. Mau dia kerja lembur 24 jam nonstop pun Adam tak mungkin bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu secepat itu.
Adam membereskan mejanya. Ia beranjak pergi meninggalkan ruangaannya.
Brak pyar
"Heehh!" seru Adam.
Baju Adam basah tersiram air. Air itu cukup panas ia rasakan, namun untung saja tak sampai membuat kulitnya melepuh. Baju putih itu telah berubah warna coklat di bagian yang tersiram air. Tangannya sibuk membersihkan bajunya yang basah. Tiba–tiba saja ada tangan asing yang mulai ingin membantu Adam membersihkan baju Adam, namun Adam menepisnya.
"Maaf Tuan maaf Tuan," seru sang penabrak yang ternyata adalah wanita.
Adam menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya ia bahwa Runilah orang yang menabrak dan menumpahkan air minum ke bajunya.
Bibir Adam mengerucut geram. Adam menunjuk ke arah Runi. Wajahnya benar–benar tak bersahabat. "Kamu lagi kamu lagi," seru Adam jengkel.
__ADS_1
Rasa lelah dipadukan dengan kesialan mendadak. Apa lagi biang keroknya adalah Runi. Lengkaplah sudah.
Runi hanya menampilkan deretan gigi putihnya. Ia juga merasa bersalah karena telah membuat baju Adam kotor sepert itu.
Yeah dia Runi. Kali ini Runi tengah lembur kerja untuk menyelesaikan beban kerjanya yang masih belum selesai. Karena rasa kantuk yang menyerang, ia memilih untuk mengambil secangkir kopi panas di pantry. Namun sayang seribu sayang. Tak jadi minum kopi, berurusan dengan Adam pun yang terjadi. Kesialan baginya yang hakiki.
Adam memejamkan matanya sekejab, menetralisir emosi marah yang bisa saja meledak saat itu juga.
"Runi ..." ucap Adam dengan nada rendah diikuti dengan geraman.
"Aduh tamatlah riwayatmu Runi," gumam Runi dalam hati sembari memejamkan matanya dengan kepala yang menunduk.
"Haihh bajuku ...!" seru Adam. Ia meratapi warna kopi yang menempel di baju putih itu meskipun air sudah tak sebanyak sebelumnya.
"Ya maaf," ucap Runi lagi. Ia mendekap nampan yang ia gunakan untuk membawa secangkir kopi panas.
"Maaf maaf ... Baju mahal ini," ucap Adam sombong.
"Cih sombong, tukang perintah lagi," gumam Runi dalam hati, meski apa yang keluar dari bibirnya mengiyakan perintah dari Adam.
"Tak usah mengumpatiku!" Adam memutar bola matanya malas sedangkan Runu mengaga tam percaya. Ia heran kenapa Adam bisa tahu apa yang ia lakukan dalam hatinya.
"Ck tausah banyak tanya. Ikut saya," seru Adam.
"Iyaaa ..." ucap Runi malas. Ia tak punya pilihan lain kecuali mengikuti Adam.
Adam berjalan menuju mobilnya di basement bersama dengan Runi yang mengikutinya. Sesampainya di mobil, Adam masuk ke dalam mobil. Tak berapa lama, Adam keluar dengan sebuah kaos oblong yang melekat di tubuhnya itu.
__ADS_1
"Nih cuci sampai bersih!" Adam melempar baju kotornya ke aran Runi. Runi yang tak siap dengan lemparan baju Adam pun bersusah payah menangkap baju itu.
"Kalau tidak ... Ada suatu hal menunggumu nanti," ancam Adam dengan senyum licik bin jahilnya.
Runi menenggak ludahnya sendiri susah payah. Pasti ada udang di balik mendoan jika Adam sudah seperti itu. Dalam hati Runi hanya bisa mengumpati Adam dan menggumamkan sumpah serapah yang tumbuh subur di benaknya. Adam tak peduli. Ia meninggalkan Runi yang masih berdiri dengan rasa jengkel di sana, tanpa dosa.
🍂
//
Ada yanv tau service otak konslet dimana?
Yang tau segera hubungi asa 😃😂😂😂😂
🍂
//
Sembari menunggu Asa up, kalian bisa mampir ke novel–novel seru di bawah ini 🤗
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 💕💕