Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Kehidupan Suami Istri


__ADS_3

Hari semakin larut. Malam itu juga Dela harus kembali ke tempat tinggalnya dengan Davin lantaran keputusan Clara yang membuatnya muak.


"Ck ah! Kenapa sih Mami? Cerai tinggal cerai saja ah elah! Ini kan ini kan aku juga yang kena!"


Sepanjang perjalanan Dela ngedumel tanpa henti. Jalanan yang lenggang dan penerangan jalan yang kadang terang kadang gelap membuatnya ngeri juga mengendarai mobil sendirian di tengah malam.


"Mana jalanan sepi lagi. Nanti kalau aku diculik om om gimana? Ya kalau dia cakep. Kalau yang bentuknya bulet tamatlah riwayatku."


Dela menengok ke kiri dan ke kanan. Berharap ia tak sendirian mekewati jawalan itu. Minimal ada satu dua kendaraan yang bersama dengan mobilnya. Namun nihil. Tak ada satupun yang bergerak di belakangnya maupun dari arah depan.


"Ah tapi kalau om omnya cakep plus kaya aku mau juga sih. Oommm ... culik aku Om!"


(Bacanya pakai nada ya saudara–saudara 😂)


"Aihhh kapan pula ini sampai apartemen," keluh Dela. Perjalanan terasa lebih lama dari biasanya. Sepanjang perjalanan Dela berbicara sendiri untuk menghalau rasa takutnya yang tak kunjung hilang dari dalam hatinya. Tak bisa dipungkiri akan kegelisahan yang tak mampu ia bendung.


Sedangkan di apartemen yang lain, Gea tengah bertingkah kembali. Tak urung jua dengan segala keanehannya, kali ini Gea merebahkan diri di ranjang dengan paha Briel sebagai bantalannya.


"Geyang ... Tidak adakah hal lain yang bisa kulakukan?" tanya Briel. Ia berusaha menawar permintaan Gea yang harus Briel penuhi.


Gea menggeleng tegas. "No! Aki tidak mau!"


"Gey ..."


"No"


"Yang lain saja ya, aku tak pandai berdongeng lah Gey." Memang benar adanya. Sampai ia sebesar ini, ia paling tidak suka dengan yang namanya dongeng. Semenjak kecil pun ia tak suka mendengarkan dongeng sebelum tidur.


Seketika wajah Gea yang murung pun ia tunjukkan. Sungguh kali ini moodnya hancur hanya karena sebuah penolakan halus dari Briel. Wajahnya tertekuk sempurna. Tatapan mata Gea yang sendu membuat Briel harus mengelus dadanya pelan.


Apa ini apa ini?! Kali ini ia harus berdongeng di depan orang bukan lagi anak–anak melainkan orang dewasa yang tengah hamil. Ia tak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Gea walau dengan hati yang berat.


"Hufftt ... Baiklah."

__ADS_1


Seketika wajah Gea pun kembali seperti semua. Bahkan ia terlihat lebih antusias dari sebelumnya. Gea menatap Briel dari bawah. Wajah Briel yang tengah bercerita dengan serius pun menjadi daya tarik tersendiri bagi Gea.


".... Seorang pangeran gagah itu pun mencium sang putri. Tak lama setelah itu sang putri bangun dari tidur panjangnya. Mereka pun akhirnya hidup bahagia. Selesai."


Gea pun bertepuk tangan lantaran apa yang ia inginkan sudah terwujud. "Nah itu bisa kan Bayang!"


"Iya bisa. Tapi tetap saja ceritanya tidak bermutu. Tak berubah. Dari dulu begitu–begitu saja. Mana ada orang tidur panjang dan hanya bisa dibangunkan oleh sebuah ciuman."


Itulah alasannya. Bagi Briel dongeng hanyalah sebuah cerita penipuan yang terkadang tak masuk akal. Seperti adegan tak masuk akal sebagai bagian akhir cerita dari cerita putri tidur.


Plak!!


"Aww sakit Gey!"


Briel mengaduh kala sebuah tangan mendarat di pahanya dengan keras. Tangannya mengelus pahanya yang terasa panas.


"Rasakan tuh sakit! Namanya juga dongeng ya gak akan masuk akal lah Suamiku Sayang. Makanya jadi anak kecil tuh harusnya dulu yang normal. Kemana saja imajinasimu dulu."


Gea benar–benar tak habis pikir dengan tingkah suaminya yang tak masuk akal itu. Ia cukup kesal dengan segala macam jawaban Briel yang menurutnya lebih tidak masuk akal.


"Astaga ngambek maning"


Briel menepuk dahinya pelan kala melihat Gea telah menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut tebal dengan tidur membelakanginya.


"Ah sana Bayang jauh jauh! Tanganmu berat tauk!" keluh Gea yang memang benar. Tangan besar Briel menindih tubuhnya lantaran Briel memeluk Gea dalam baringnya dari belakang.


"Gak mau Sayang."


"Ih Bayang ..." keluh Gea sekali lagi. Ia berusaha menyingkirkan tangan Briel dari atas tubuhnya.


"Ayo tidur. Biarlah pangeranmu ini yang menidurkanmu,"


Kata demi kata itu keluar dari bibir Briel dengan lembut tanpa menghiraukan keluhan Gea. Suaranya terdengar begitu sopan masuk ke ketinga Gea, menenangkan. Tanpa sadar perbuatan Briel mampu menjadi alasan senyum manis terukir di wajah Gea. Tanpa menjawab apapun lagi, Gea mulai mencari posisi yang nyaman. Bahkan tak ada lagi niat sedikitpun untuk lepas dari dekapan Briel.

__ADS_1


🍂


Sesampainya di apartemen, Dela merebahkan diri di ranjang tanpa mengganti mini dress yang ia pakai. Ia tidur asal. Rasa lelah telah menerjangnya. Toh ia hanya sendirian di sana. Yang ia inginkan hanya membiarkan diri menyelami alam mimpi.


"Enngghh ..."


Tubuh Dela menggeliat. ******* demi ******* keluar dari bibirnya. Kenikmatan duniawi yang telah lama tak ia rasakan malam ini ia rasakan kembali. Matanya yang masih terpejam tetap membawanya hanyut dalam dunia yang masih ia anggap sebagai mimpi belaka.


Namun ternyata mimpi itu bukan sekadar mimpi. Pagi ini, tengah tertidur pulas dua insan yang sekian lama tak menghabiskan waktu bersama. Saling bergelung dalam balutan selimut yang membalut tubuh mereka berdua.


Sedangkan di tempat lain, sang suami telah terbangun terlebih dahulu dengan sebuah batu berbalut kertas bertinta merah ada di balkon apartemennya. Bahkan karena batu itu, sebuah pot bunga hancur dengan tanah yang berserakan di lantai.


"Ulah siapa ini?"


Dia memutar–mutar batu itu, mengamati secara detail sembari memikirkan apa maksud dari semua ini.


🍂


//


Hayo apa itu apa ituuuu ... 😃


Btw di novel ini jan pernah ada yang minta hal di atas umur ya karena asa masih di bawah umur. Di bawah umur versi asa 😂😂 walau kata temen yang lain asa dah udah gedhe. Anggap saja sinetronnya yang lagi viral 😭


kaborlahh 🛴😂💨💨💨


See you next eps 🤗


🍂


//


Happy reading gaess,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2