
Gea memandang rumah megah itu. Ia menatap ragu. Hatinya bimbang. Rasa takut telah menghantuinya. Ia tidak siap dengan kata penolakan yang nantinya terlontar dari mulut orang tua Briel. Ia masih berada di dalam mobil, sedangkan Briel telah menunggunya di luar.
Yeahh … Briel langsung membawa Gea pulang ke kediaman utama Keluarga Yohandrian seusai meeting. Waktunya masih tersisa 30 jam sebelum usai sesuai dengan perjanjiannya dengan sang ayah. Namun ia ingin secepat mungkin membawa Gea ke hadapan kedua orang tuanya
Tiba–tiba pintu mobil itu telah dibuka. Gea tersadar dari lamunannya. Rupanya Briel tak sabar dengan Gea yang terlalu lama membuka pintu mobil itu. Briel menghela napas dalam dan menghembuskannya kasar. Ia melihat Gea yang diliputi keraguan yang begitu besar.
"Ayo, Gey!"
Gea menatap Briel terlebih dahulu. Ia mencari suatu penguatan lagi untuk meyakinkan hatinya.
"Jangan takut. Yakinlah. Aku akan selalu bersamamu," bujuk Briel. Ia berusaha untuk menenangkan Gea agar keraguan itu hancur dari padanya.
Gea masih menatap Briel lagi. Briel hanya mengedipkan kedua matanya sembari mengangguk. Tangannya ia ulurkan untuk Gea seorang. Gea meraih uluran itu. Mereka berdua berjalan ke dalam rumah. Briel menggenggam erat tangan Gea, seakan tidak ada hari esok untuk menggenggamnya lagi.
"Bunda … Ayah … Briel membawa menantumu pulang!" ucap Briel cukup keras karena ia belum juga menemukan di mana keberadaan kedua orang tuanya.
"Den, mencari Tuan dan Nyonya?" tanya Eli. Tiba–tiba saja ia datang tatkala mendengar Briel memanggil orang tuanya berulang kali.
"Iya, Bi. Dimana mereka?"
"Ada di teras samping Den. Mungkin kalau tidak, mereka berjalan–jalan di taman belakang, Den."
"Baik, Bi. Makasih ya, Bi."
"Iya, Den."
Briel mengulas senyuman yang benar–benar tulus. Kemudian ia berjalan ke teras samping. Dan benar saja. Tere dan Frans tengah bercengkerama santai di sana. Mereka terlihat bahagia. Senyum dan tawa renyah terdengar dari sana.
"Bunda … Ayah …"
Sepasang suami istri itupun menghentikan aktivitas mereka. Mereka memusatkan perhatian mereka ke arah sumber suara. Mereka menatap lekat pasangan baru di depan mereka dengan sorot mata yang datar. Tatapan itu membuat Gea menundukkan kepalanya.
Kemudian Tere beranjak dari duduknya. Ia berjalan menghampiri Gea dengan tatapan yang tak teralihkan. Ia berdiri di depan Gea. Tangannya bersidekap di atas perutnya. Perlakuan Tere membuat Gea semakin gugup.
"Bagaimana ini? Tuhan … aku tidak siap menerima penolakan dari mereka," rintih Gea dalam batinnya. Ia memejamkan matanya. Siap tidak siap, ia harus menerima keputusan Tere.
Grep
Tere memeluk erat Gea. Ia tersenyum di balik tubuh Gea terbengong. Ia masih bertanya–tanya dalam benaknya. Ia tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Benarkah ini? Apakah ini nyata? Atau hanya sekadar mimpi?" Gea masih belum bisa mencerna semuanya yang terjadi.
__ADS_1
"Menantuku … selamat datang di keluarga Yohandrian," ucap Tere. Seulas senyum bahagia terlihat jelas di wajah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu. Tangannya ia gunakan untuk menepuk pundak Gea. Bahkan ia menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan dengan lambat.
Gea yang mendengarkannya hanya bisa tergugu, menangis bahagia. Ia tak mengira kalau ia benar–benar diterima oleh orang tua Briel.
Briel dan Frans yang melihatnya hanya tersenyum bahagia. Briel lega karena Tere mau menerima Gea setelah apa yang Tere ucapkan waktu itu.
Tere menuntun Gea. Ia mengajak Gea untuk duduk di kursi yang masih tersisa. Gea hanya bisa mengikuti kemauan ibu mertuanya itu.
"Siapa namamu, Sayang?"
"Ge–Gea Agatha, Nyonya." Gea mengucapkannya dengan terbata. Ia sangat gugup untuk kali ini.
Tere menajamkan matanya ke arah Gea. Gea yang tak sengaja menatap mata itu pun menunduk kembali.
"Bun, jangan buat istriku ketakutan, Bun," protes Briel. Ia merasa sikap Tere membuat Gea ketakutan.
"Heleh ... Sekarang diakui istri. Kemana saja kemarin hingga tak mengenalkannya pada Bunda?"
"Gimana mau menganalkannya, Bun? Bunda aja gencar menjodohkanku dengan Ayu itu, Bun!" ceplos Briel. Tere hanya menampilkan deretan giginya itu.
"Siapa suruh tidak jujur pada kami sejak awal." Frans mulai angkat bicara. Ia ingin membela istrinya itu. Karena Briel juga menyimpan rahasianya sejak awal.
Briel membelalakkan matanya. Ia terperangah mendengar perkataan Frans.
"Iya. Ayah yang menelusuri. Ayah sudah curiga semenjak di rumah sakit kala itu. Kamu seperti menyembunyikan sesuatu dari kami. Mulai saat itu Ayah mulai mencari tahu apa yang kamu sembunyikan."
"Dan benar saja. Kamu menyembunyikan rahasia besar dari kami."
"Dasar anak durhaka!" canda Frans.
"Bukan begitu, Yah. Briel harus mencari waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya pada kalian," kilah Briel mencari pembenaran untuk dirinya sendiri.
"Hilih, buktinya kamu harus dipancing dulu untuk bicara," cibir Tere. Ia masih kesal dengan Briel yang tak jujur dengannya. Rahasia sebesar itu Briel sembunyikan dari padanya. Terutama ia kesal karena tak dapat melihat anaknya sendiri menikah.
Tere melengoskan wajahnya. Ia beralih menatap wajah cantik Gea. Ia membelai wajah Gea. Kemudian tersenyum hangat.
"Gege …." panggil Tere lembut.
Perlahan Gea mengangkat wajahnya. Ia masih menatap takut ibu mertuanya itu. Tere hanya tersenyum melihat ketakutan yang terlihat di sorot mata Gea.
"Maafkan kami yang dengan tega berbicara pada kalian agar Briel menceraikanmu. Bunda ingin menguji cinta kalian berdua."
__ADS_1
"Dari peristiwa kemarin, Bunda akhirnya tahu kalau kamu sungguh mencintai Briel, bukan sekadar obsesi, tapi dengan ketulusan hati. Kamu rela mengalah demi mencegah adanya luka di antara kami."
"Mulai saat ini, kamu menantu Bunda. Mulai saat ini, kamu panggil saya 'bunda' bukan 'nyonya'. Itu hukumnya wajib. Tidak bisa nego."
"Iya, Bu–Bunda," ucap Gea yang masih ragu menyebut kata 'bunda' yang ia sertakan untuk Tere.
"Dan juga panggil saya ayah, seperti Briel memanggil saya." Frans juga tidak mau ketinggalan.
"I–iya Ayah," ucap Gea.
Frans mengulas senyum hangatnya. Begitupun juga dengan Tere. Tere menarik kedua ujung bibirnya ke atas. Ia menyolek hidung mancung Gea dengan telunjuknya. Kemudian ia mencium seluruh bagian wajah Gea dengan penuh sayang. Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa bahagianya Gea kala itu.
"Bunda … jangan ciumi Gea seperti itu, Bun!" protes Briel. Ia merajuk. Ekspresinya terlihat sangat lucu.
Briel sangat kesal melihat istrinya diciumi oleh Tere. Ia tak rela Gea dicium seperti itu oleh orang lain.
Bukannya berhenti, Tere semakin menjadi. Ia terus menciumi wajah Gea. Perlakuan Tere membuat Gea merasa geli. Akhirnya Gea pun tertawa. Briel pun semakin kesal dengan Tere.
"Apa?" tantang Tere. Briel berdecak kesal.
"Dasar suami posesif!" cibir Tere. Mereka semua tertawa melihat ekspresi Briel yanh terlihat lucu.
"Sudah–sudah! Mari kita makan siang," lerai Frans. Perutnya sudah meronta–ronta meminta makan.
"Ayah berhutang penjelasan pada kami."
"Iya. Nanti akan ayah jelaskan setelah makan."
Mereka berempat menuju ke ruang makan. Dengan sabar, Tere mendorong kursi roda yang Frans pakai. Gea dan Briel juga merasa lapar karena mereka tak memakan makanan yang disajikan. Mereka terlalu sibuk dengan hati mereka masing–masing.
🍂
Sementara itu, Bima tersenyum bahagia sekaligus lega. Laporan dari anak buahnya mengenai Gea sangat menenangkannya.
"Akhirnya mereka bertemu sebagaimana semestinya. Semoga kamu bahagia, Gey."
Itulah doa dan harapan Bima untuk Gea dan juga Briel. Akhirnya ia bisa tersenyum lega karena Gea menemukan pendamping hidupnya yang tepat.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading guys,
Jangan lupa bahagia💕💕