Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
70. Arti Sahabat


__ADS_3

Di sebuah café ternama, H'Young Café, segerombol wanita muda tengah berkumpul, bersenang–senang bersama. Mereka bertiga kerap menghabiskan waktu mereka bersama dengan bercanda tawa tanpa memikirkan hidup mereka dengan rumit.


Semua terasa begitu mudah bagi mereka. Ketika sebuah keinginan mereka inginkan, dengan mudah mereka mendapatkannya hanya dengan sekejab saja. Kehidupan mereka yang bergelimangan harta serta paras mereka yang anggun menawan hati, mampu membuat mereka melambung tinggi tanpa takut terjatuh.


"Eh kalian tahu gak? Beberapa hari lalu aku baru dibelikan liontin mahal oleh kekasihku. Terus dia mengajakku dinner romantis di taman yang dihias dengan lilin–lilin cantik dan apapun itu. Haahh … rasanya seperti banyak kupu–kupu yang menggelitik perutku …" ucap Letta, salah satu wanita di antara mereka.


"Waahh pasti so sweet sekali?" sahut Alissa dengan antusias. Ia membayangkan bagaimana kencan romantis Aletta dengan pasangannya. Sedangkan Letta tersenyum bangga dengan apa yang ia alami. Dia merasa dirinya yang paling hebat karena memiliki kekasih yang tampan dan juga kaya raya, romantis pula.


Salah satu di antara mereka masih tetap mendengarkan sembari memakan dessert yang telah ia pesan.


"Kalau kamu bagaimana Lis?" tanya Letta sembari memasukkan sesuap puding ke dalam mulutnya.


"Humm …" gumamnya tatkala puding itu terasa begitu lembut dan enak di mulut. Matanya juga melebar saat rasa itu benar–benar cocok di lidah.


"Aku?" tunjuk Alissa pada dirinya sendiri.


"He'em …."


"Kemarin aku habis dilamar sama kekasihku. Astaga dia romantis banget. Dia ajak aku nonton. Di sana ada banyak orang. Nah film yang ditayangkan itu bukan film yang mau aku tonton. Tapi video kebersamaan kami. Setelah itu, ia melamarkuuu ...."


Alissa menangkup kedua pipinya sendiri. Ia membayangkan betapa bahagianya dia kemarin. Kenangan indah bersama sang kekasih disaksikan banyak orang. Sungguh manis dan romantis.


"Astaga … ada–ada saja kekasihmu. Selalu saja unik," timbrung Ayu. Setelah sekian lama hanya mendengarkan, akhirnya ia berbicara. Mereka bertiga tertawa bersama. Kesenangan yang terpancar seakan tak pernah sirna di antara mereka.


"Lalu bagaimana dengan dirimu, Yu?" tanya Alissa.


"He'em …" Letta membenarkan ucapan Alissa. "Katanya kamu kan dijodohkan dengan seorang pria dari keluarga kaya. Bagaimana kelanjutannya?" lanjutnya.


Ayu mengedikkan bahunya. "Yang jelas, setelah camer (calon mertua) sudah keluar dari rumah sakit, mereka nanti akan membahasnya ulang."


"Sudah pernah bertemu dengannya?" tanya Letta.


"Sudah."


"Terus?" Alissa langsung menyambar ucapan Ayu.


Ayu menampilkan wajah murungnya.


"Kenapa?" Mereka berdua bertanya bersamaan. Ia penasaran kenapa wajah Ayu cemberut.


"Ganteng bangeeeetttt!" ucap Ayu antusias. Ia mengingat–ingat bagaimana rupa Briel. Briel adalah tipe pria idaman Ayu. Tak heran jika ia begitu antusias dengan perjodohan ini.


Letta dan Alissa menepuk dahi mereka. Mereka tak habis pikir dengan cara Ayu mengekspresikan kekagumannya. Sedangkan Ayu tertawa melihat respon mereka.


"Astaga …. Ku kira kamu dijodohkan dengan aki–aki Yuk, Yuk," ujar Letta. Alissa mengangguk menyetujui ucapan Letta.


Ayu masih tertawa. "Mana mungkin aku mau kalau dia aki–aki. Udah ku tendang duluan lah!"

__ADS_1


"Memang kalian mau kalau yang dijodohkan sama kalian itu aki–aki?" Ayu menyedot minumannya perlahan.


"Ogah!" jawab mereka bersamaan.


Mereka bertiga melanjutkan obrolan mereka sampai puas. Mereka tak takut diusir karena terlalu lama. Mereka telah memesan privat room yang ada di sana seharian. Mereka bebas melakukan apa saja tanpa ada gangguan.


🍂


"Run …."


Gea memanggil Runi untuk kesekian kalinya. Namun nihil. Runi masih tetap sama, tak merespon setiap jawaban Gea. Ia masih kesal saja dengan Gea. Karena Gea ia terkena imbasnya.


"Run …." rengek Gea. Suara Gea melemah. Ia menatap Runi dengan tatapan yang memelas. Runi pun tak tega melihat sorot mata itu.


"Apa?!" ucap Runi malas. Ia masih enggan berbicara dengan Gea karena rasa kesalnya, namun ia tak tega mendiamkan Gea terlalu lama.


Gea menatap Runi dengan seulas senyum yang mengembang di setiap sudut bibirnya. Ia lega, akhirnya Runi meresponnya.


"Kenapa kamu marah?"


"Aku tidak marah."


"Tapi kenapa dari kemarin kamu mendiamkanku?"


Runi menghela napas kasar. "Karena dirimu, aku dimarahi habis–habisan noh sama Pak Heri. Kamu sih ijin mendadak. Mana kunci gudang kamu bawa lagi? Aku kena marahlah!" sungut Runi.


"Maaf, Run. Bukan maksud aku untuk membuatmu begini. Tapi ada hal yang harus aku lakukan saat itu."


Lagi–lagi Runi menghela napas kasar lalu ia mengangguk. Ia juga tak mau rasa kesal itu bersarang di hatinya terlalu lama. Baginya, Gea adalah sahabat yang tulus dengannya tanpa memandang siapa dia. Runi memaafkan Gea.


"Nah gitu dong, Run." Gea memeluk Runi. Runi membalas pelukan Gea dengan senyum yang merekah di wajahnya.


"Run …" panggil Gea tatkala ia telah melepaskan pelukannya.


"Hem?"


"Mau pindah ke rumah kontrakanku tidak?" tawar Gea.


Runi berpikir sejenak. "Memangnya kamu sudah tidak tinggal di sana?"


Gea menggeleng. "Tidak. Maka dari itu aku menawarkannya padamu. Kan sayang itu rumah kontrakannya tidak ada yang menempati, padahal itu masa sewa kontrakannya masih satu setengah tahun."


Runi terdiam. Ia tergiur dengan tawaran Gea. Rumah kontrakan Gea lebih bersih dan tenang ketimbang di indekos yang Runi sewa. Namun di sisi lain, Runi tidak enak sekaligus tidak bisa mengganti uang sewa yang telah Gea keluarkan.


"Udah … soal ganti sewa rumah tidak usah dipikirkan, Run. Aku tidak akan meminta ganti rugi padamu. Kamu tempati saja selama masa sewa itu masih berlaku, Run," ucap Gea sembari tersenyum. Ia mengerti kekhawatiran yang Runi rasakan.


"Tapi …"

__ADS_1


"Tempati saja Run. Dari pada aku tinggalkan tanpa ditempati? Kan mubazir, Run? Lagian aku sekarang sudah tinggal sama suamiku. Jadi tidak perlu memikirkan tempat tinggal lagi."


"Tapi–"


Dengan cepat Gea memotong ucapan Runi. "Apa lagi? Tidak enak karena masalah uang sewa?" tebak Gea. Runi mengangguk membenarkan ucapan Gea.


Gea menarik kedua sudut bibirnya. Tangannya memegang tangan Runi. "Gak usah dipikirkan. Uang itu tidak masalah bagiku. Aku sudah dinafkahi oleh suamiku. Jadi tidak perlu mengkhawatirkan aku kekurangan uang, Run. Lagian suamiku anak kolongmerat. Jadi aku tidak takut kekurangan uang." Gea tertawa. Ia geli sendiri dengan kalimat yang ia ucapkan.


"Dasar materialistis!"


Mereka berdua tertawa bersama.


"Tapi aku takut ditinggalkan, Run!" batin Gea di tengah ia tertawa sembari menatap wajah Runi yang tengah merasakan kelegaan. Ia menyembunyikan rasa itu sendirian.


Jujur, dia sudah meletakkan separuh hatinya untuk Briel. Kehadiran Briel dikala ia rapuh, membuat benih–benih cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Keceriaan Gea menutup luka yang Gea rasakan tanpa disadari oleh sahabatnya.


Akhirnya Runi menerima niat baik Gea. Ia bersyukur bisa bertemu dengan Gea yang sangat berbaik hati padanya. Dengan adanya rumah kontrakan Gea, Runi bisa mengirimkan uang untuk ibu dan adiknya lebih banyak dari biasanya. Rasa bahagia membara di dalam hatinya bahkan tercetak jelas di wajahnya.


"Ah enaknya dirimu, Gey," ucap Runi seketika tatkala membayangkan bagaimana nikmatnya hidup Gea bersanding dengan orang kaya.


"Hahaha kamu bisa saja, Run. Makanya sana nikah!" goda Gea.


"Nikah sama siapa?"


"Sama jodohmulah!"


"Sayangnya, Mas jodoh belum menemukanku."


Gelak tawa terdengar lagi di antara mereka.


🍂


//


Hai semuaa .... sambil mengunggu cerita Gea up, kalian bisa intip–intip dulu karya dari othor keceee di bawah ini 🤗🤗💃


Terimakasihh.....



🍂


//


Happy reading guys


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2