
"Hufft nasib–nasib. Bayi gagal gugur, harus tinggal pula di rumah kecil seperti ini."
Dela tidur terlentang di sebuah kursi panjang dengan kepala yang menjadikan tangan kursi sebagai sebagai bantal. Ia menghadap ke sebuah televisi yang menyala. Tangannya sibuk membuka kulit kacang tanah, mulutnya sibuk mengunyah butir–butir isi kacang itu. Kulit kacang itu ia buang langsung ke tempat sampah yang ia taruh tepat di samping kursi itu.
Tiba–tiba ia menegakkan badannya, Ia duduk dengan kaki yang masih sejajar lantas mengamati sekitarnya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
"Hmmm ... yeah ... benar. Teramat–amat kecil dan kumuh. IyuuUuh." Dela menatap rendah rumah yang ia tempati itu.
Sungguh ia tidak percaya dengan ini semua. Semua terjadi sekejab saja. Ia tidak menyangka jika ia harus tinggal di kontrakan petak yang ia sendiri juga tidak tahu. Di pagi hari saat itu, setelah ia kabur dari rumah sakit, ia terbangun di rumah kontrakan yang sekarang ia tinggali. Dan lagi–lagi ia tidak tahu siapa yang membawanya ke situ.
Mau tidak mau ia harus tinggal di situ. Sepeserpun uang pun tidak ada. Baik kartu debit ataupun kartu kredit juga tidak tahu entah di mana, begitupun juga dengan gawainya. Yang ada hanyalah uang beberapa ratus ribu dengan sebuah catatan kecil di atas nakas. Lagi pula orang itu telah menyiapkan segala bahan makanan untuk beberapa hari kedepan. Setidaknya ia tidak perlu pusing memikirkan hidupnya.
Dela masih belum usai menatap sudut ruangan. Ia kembali merebahkan diri, mengulang posisi yang sama seperti sebelumnya.
"Haiihhhh ... Siapa sih orang itu?! Gara–gara dia apapun rencanaku pasti gagal." Dela menggerutu. Ia benci hal itu. Dan karena itu, ia masih harus membawa janin itu terus di dalam dirinya.
Seketika Dela mengingat, pagi tadi ia membeli nanas yang masih belum matang di tukang sayur yang lewat depan kontrakannya. Awalnya ia hanya ingin membeli makanan matang yang ia ketahui sering dijual pula oleh tukang sayur itu. Tanpa berpikir panjang ide gila itu muncul kembali.
Dela tersenyum miring lantas pergi ke dapur dengan langkah tergesa. Wajahnya pun terlihat sumringah layaknya orang yang mendapat lotre besar. Ia mengambil nanas muda yang ia taruh di dalam kulkas. Tangannya gesit mengambil sebilah pisau lantas mulai mengupas kulit nanas itu. Cukup sulit baginya melakukan pekerjaan itu lantaran baru pertama kali ini ia mengupas buah serumit itu. Dahulu ia tinggal meminta Bi Roinah untuk mengupaskan buahnya, tidak perlu repot–repot seperti ini.
"Iissss!! Kenapa susah sekali sih?! Andai Bi Roinah ada di sini, pasti semuanya cepat beres. Tak perlu repot–repot seperti ini!!" gerutu Dela sembari terus mengupas kulit nanas itu.
Meski nanas itu telah terkupas, namun hasilnya benar–benar berantakan. Kulitnya berceceran ke mana–mana. Bahkan daging buahnya banyak yang terbuang bersama kulit yang terkelupas.
"Aaiihh kenapa harus di tempat seperti ini sih harusnya ke hotel kek atau ke mana gitu? Sudah sendirian, rumah kontrakan, besarnya hanya sebesar petakan kamarku dulu, gak ada ac eh kepanasan pula! Tahu gini mending biarin aja aku mati, tidak usah menolongku. Gak guna juga!"
Sepanjang ia mencuci nanas itu, tidak berhenti–berhenti Dela mengomel. Bibirnya manyun ke depan. Yang ada hanyalah kekesalan yang bercokol di dalam hatinya.
__ADS_1
"Kenapa pula sih aku dulu menikah sama Davin. Kukira dia pangeran ternyata badjingann! Aarrgghh gak ada yang benar perasaan, salah mulu!"
Dela membelah nanas itu menjadi beberapa bagian lantas memotongnya menjadi bagian yang lebih kecil. Suara pisau dan talenan yang saling bergesekan itu terdengar cukup nyaring. Dela menggunakan seluruh tenaganya saat memotong nanas yang sebenarnya tak membutuhkan banyak tenaga untuk menyalurkan kekesalannya.
"Sudah ngomelnya?" ucap seseorang dari arah belakang. Suaranya tidak keras, namun masih terdengar jelas dan cukup mengagetkan.
Dela menegakkan kepalanya. "Sepertinya aku mengenal suara ini."
Suara yang Dela dengar tidaklah asing di telinganya. Ia menegakkan kepalanya lantas mengingat–ingat siapa dan di mana ia pernah mendengar suara yang familiar itu. Tak kunjung ia ingat dalam waktu singkat, Dela sedikit memutar tubuhnya. Betapa terkejutnya ia melihat pria yang saat ini ada di sana. Dela tidak menyadari kehadiran pria itu.
Pria itu bersandar pada dinding di sampingnya dengan tangan yang bersedekap di depan dada. Ia menatap Dela dengan tatapan yang tidak ramah. Sudah sejak Dela mulai mengupas kulit, pria itu bersandar di dinding sembari terus mendengarkan omelan Dela tanpa berniat menegur Dela sejak awal.
"Sudah selesai ngomelnya?" tanya pria itu sekali lagi. Pria itu berjalan menghampiri Dela. Langkah itu hanyalah langkah biasa, namun berhasil membuat Dela terpana. Dela masih mencerna setiap kejadian yang terjadi saat itu. Hingga tanpa sadar pria itu telah mengambil alih pisau yang ada di tangan Dela dengan cepat.
Pria itu mengamati pisau itu. "Buat apa ini hmm?" tanya pria itu dengan pisau yang ia ketukan di talenan. Suaranya terdengar cukup nyaring di telinga, membuat Dela sedikit terperanjat.
Pria itu tertawa miris. Tawa itu tidak keras namun menunjukkan betapa mirisnya ia melihat wanita di depannya itu. Wanita yang selalu berniat, berusaha bagaimana caranya menghilangkan janin di dalam rahimnya. Kedua tangannya bertumpu pada meja di depannya, menyangga tubuh tegapnya itu.
Sekali lagi, pria itu menggerakkan pisaunya ke talenan itu cukup keras. Diam–diam ia menghela napas dalam.
"Ck sialan! Bisa tidak sih tidak mengagetkanku?!" omel Dela dengan tangan yang mengelus kasar dadanya. Namun pria itu tidak meladeninya.
"Oo bagus! Dimakan kan ya?" Ia berbalik menghadap ke arah Dela, menatap manik mata Dela sejenak. Manik mata itu membuat Dela mengingat manik mata yang pernah menatapnya sewaktu pertama kali mereka bertemu namun dengan tatapan yang berbeda.
"Tapi ..." Pria itu menurunkan pandangannya lantas tangannya sibuk memainkan pisau itu. "... mau tidak kuajari hal yang lebih cepat? Aku kira dengan memakan nanas seperti itu hanya akan membuatmu tersiksa terlalu lama. Bahkan bisa dipastikan ada kemungkinan janinmu juga tidak akan keguguran."
Pria itu diam sejenak, menunggu respon Dela yang menatapnya dengan tatapan penuh dengan tanda tanya.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Dela mengerutkan dahinya.
Tiba tiba saja pria itu menghunuskan pisaunya keras pada belahan nanas yang masih utuh. Pisau itu menancap sempurna bahkan nanas itu hampir terbelah karena ulahnya.
Dela berjengit kaget. Ia sedikit membelikan kedua matanya. Lehernya seperti tercekap. Bahkan ia kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.
"Mau apa dia?" tanyanya dalam hati.
"Hmmm lebih mudah bukan jika aku membantumu seperti apa yang kulakukan pada nanas itu?"
Senyuman itu, begitu menakutkan bak psikopat yang ingin mengeksekusi korbannya. Dela mundur perlahan seiring langkah pria itu yang mendekati Dela dengan pisau di tangan kokohnya. Dela mundur, teratur, hingga tidak ada lagi celah di mana ia bisa bergerak mundur.
Deg
Jantungnya seketika berhenti. Napasnya terasa cukup sesak. Kaki yang menyangga tubuhnya menahan gemetar yang menjalar ke seluruh tubuhnya agar pria itu tidak bersenang hati sebab mengetahui ketakutan Dela.
Dela menelan salivanya dengan tenggorokan seperti tercekat.
" Tamatlah riwayatku ... Selamat tinggal dunia ..."
Dela memejamkan matanya erat.
🍂
//
Happy reading gaess
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕