Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – 180 Derajat


__ADS_3

"Hoammm"


Dela terbangun. Tangannya tertarik ke atas. Ia mulai merenggangkan badannya yang terasa makin pegal semenjak ia berbadan dua. Hmm kalau boleh ia minta, ia ingin meninggalkan janinnya agar tidak bersama dengannya. Dilepaskan sejenak, agar terpisah di badannya namun masih tetap hidup.


Lehernya ia gerakkan ke kiri dan ke kanan untuk mengurangi kepegalan hingga bunyi "klek" pun terdengar. Aihh benar–benar hari yang sangat melelahkan.


"Aihh sampai kapan aku akan tinggal di sini. Semua badanku sakit semua rasanya."


Blak blak!


Dela memukul ranjangnya, mengetes tingkat keempukan ranjang yang beberapa waktu ini selalu ia gunakan.


"Kasurnya juga keras lagi. Bagaimana badanku tidak sakit jika ditepuk aja masih berbunyi nyaring."


Dela mulai mengeluh di pagi hari. Bahkan mungkin setiap pagi. Beberapa minggu terakhir tinggal di sana masih belum membuatnya bisa beradaptasi dengan baik. Tubuhnya masih menolak untuk hidup sederhana seperti itu.


Dela menatap ke arah jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan waktu cukup siang, pukul 11:00.


Dan jam itu benar–benar siang untuk kategori wanita pengangguran yang tidak melakukan hal apapun. Mulutnya hanya bergumam "oh" dengan entengnya, tidak ada beban sedikitpun di pundaknya. Ia memilih untuk jalan ke dapur untuk mengambil apapun makanan yang bisa ia jadikan pengganjal perutnya. Tangannya dengan lincah menggulung rambut indah panjangnya itu.


"Ke mana dia?"


Dela celingukan, matanya menyapu penjuru ruangan. Ia penasaran di mana keberadaan Gaza yang di siang itu sudah tidak ada di kontrakan.


Dela mengedikkan bahunya tidak peduli. "Ngapain juga aku memikirkannya. Ini juga kontrakannya. Kalau dia niat pulang pasti pulang," ucap Dela bodo amat. Dela menuangkan segelas air putih ke dalam gelas kosong yang ia pegang, lantas meminumnya untuk menghilangkan rasa dahaga yang menyergapnya.


Selama ini ia tidak peduli dengan bagaimana kehidupan Gaza, tidak peduli bagaimana Gaza mendapatkan cukup uang untuk menghidupinya. Bahkan susu ibu hamil tersedia kala ia ingin meminumnya. Ia tidak peduli. Yang terpenting adalah, semua kebutuhan pokoknya tercukupi.


Dela berjalan menuju ke kulkas. Ia mencari makanan yang bisa ia makan. Namun tiba–tiba saja ia menautkan kedua alisnya. Tangannya sibuk mencari cari di dalam kulkas itu.


"Hah?? Apa ini? Kenapa tidak ada sedikitpun makanan yang tersisa? Bukankah semalam saja masih cukup banyak stok makanan di sini?"


Dela panik. Ia tidak menemukan sedikitpun makanan di dalam kulkas. Bahkan satu buah pun tidak ada. Ia membanting pintu kulkas itu cukup keras, hingga bunyinya pun terdengar cukup nyaring. Ia mendesah kesal.


"Aihhh ... Bagaimana aku mau makan kalau begini. Dia kemanakan makananku!"


Dela tidak habis pikir dengan semua ini. Misal Gaza menghabiskan semuanya, kenapa dia tidak menyisakan sedikit makanan untuk Dela.

__ADS_1


Dela memilih berjalan ke dapur lagi dengan langkah kaki yang sedikit dihentakkan untuk menyalurkan kekesalannya. Ia memutuskan untuk membuat segelas susu ibu hamil yang sebenarnya selama ini jarang untuk ia sentuh, bahkan terbilang tidak pernah lantaran ia tidak suka dengan susu seperti itu.


Dentingan gelas dan sendok terdengar menggema. Dela berdecak kesal.


"Siaaall! Kalau bukan karena kepepet aku tidak mau meminum ini. Iyuuuhh ... Baunya saja sangatlah menjijikkan!"


Dela menjauhkan gelas berisi susu yang semula ia cium aromanya. Aroma yang cukup amis untuk ia cium. Entah mengapa semenjak ia hamil, ia tidak suka dengan bau amis seperti itu. Ingin ia menumpahkan susu itu, namun apa daya. Ia butuh sesuatu untuk mengurangi rasa laparnya.


Perlahan dengan keraguan, Dela meminum susu itu. Rasanya sungguh luar biasa. Ingin ia memuntahkan semuanya itu. Rasanya tidak bersahabat dengan perut dan lidahnya.


"Uuugghh" Dela menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya. Ia berusaha menelan susu itu. Ia tidak ingin mati kelaparan. Sungguh tidak etis sekali jika ada media yang memberitakan dirinya.


"Anak mantan pengusaha sukses kini meninggal akibat kelaparan karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli sesuap nasi."


Bayangan berita itu terpatri secara nyata di pikirannya. Bangkrut saja sudah membuat hidupnya kolaps, apa lagi jika sampai ada berita semacam itu di media. Hancur sudah harga dirinya.


Dela mengambil napas dalam–dalam untuk mengurangi rasa mual itu. Sungguh mualnya itu sangatlah menyiksanya.


"Aaaarrrghh!!! Gaza sialan! Kenapa kau menyiksaku seperti ini!" teriak Dela tertahan. Mungkin jika Gaza ada di sana, ingin ia menjambak rambut Gaza sekuat tenaga agar rambutnya rontok semua.


Seusai dengan urusannya meminum susu, dengan wajah yang masih kusut, ia berjalan ke depan, ke ruang di mana televisi itu berada. Dengan sisa kekesalan yang masih ada dan bahkan belum mereda juga, ia mendudukkan diri di kursi panjang. Ia menyalakan televisi untuk menghibur dirinya. Barang kali dengan televisi kekesalannya bisa menghilang.


"Aaargghh ada apa sih ini?! Kenapa pula televisinya tidak hidup?"


Dela tidak bisa menghidupkan televisi itu. Bukannya berkurang, tingkat kekesalannya semakin menjadi. Ia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Belum masalah satu usai, masalah lain malah bermunculan.


"Arrrgghh!!!"


Dela membanting remot itu sampai remot itu terpelanting jauh. Untung saja remot itu masih utuh.


"Apa gunanya kau membawaku ke sini Gaza, jika pada akhirnya kau hanya semakin membuatku menderita! Tau begini mending waktu itu aku mati!"


Pikirannya sudah buntu. Kehidupan sebelumnya yang bergelimpang harta membuatnya frustasi kala hidupnya berubah 180 derajat.


Tanpa ia sadari, telah berdiri Gaza tidak jauh dari sana. Ia bersandar pada dinding yang masih kokoh untuk menahan berat badan tubuhnya. Ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak semudah itu untuk mati. Bagaimanapun caranya kalau takdirmu belum mati, kau tidak akan pernah bisa mati semudah itu."

__ADS_1


Kalimat yang Dela dengar membuat Dela menoleh ke sumber suara. Dela berdecak kesal.


"Ck kenapa kau disana?! Kehadiranmu semakin merusak moodku!" Dela menatap tajam ke arah Gaza.


"Dan di luar sana masih banyak orang yang berjuang untuk menyelamatkan nyawanya. Bersyukur Dela, bersyukur!"


Tak menggubris ucapan Dela, Gaza memilih untuk melanjutkan kalimat wejangannya. Ia berjalan menghampiri Dela


"Bodo amat! Tidak ada kamus bersyukur di dalam kamus besar hidup Delima Wiyarta!"


"Begini kalau diotak yang ada cuma kepahitan!"


Gaza mengetok dahi Dela ringan. Hal itu membuat Dela menepis tangan Gaza lantas mengaduh ringan. Tangannya mengelus dahinya yang terasa lumayan sakit.


"Enak saja! Kamu sengaja ya ingin membunuhku dengan tidak memberiku makan. Di mana makanan yang ada di kulkas?!" tanya Dela kesal.


"Bukan urusanmu! Nih makan!"


Gaza memberikan sebungkus makanan untuk Dela. Tak lupa ada 2 buah apel yang berada di plastik yang sama.


"Tidak mau!"


"Terserah. Kalau tidak mau aku saja yang memakannya."


Tangan Gaza ingin mengambil alih bungkus makanan itu, namun secepat mungkin Dela mengambil makanan itu.


Gaza hanya terkekeh.


"Tidak usah tertawa! Tertawa denda 500 ribu!"


Dela tidak suka dengan tawa Gaza yang menertawakannya. Ingin ia membungkam mulut itu. Gaza hanya mengedikan bahunya bodo amat.


Tanpa basa basi lagi, Gaza meninggalkan Dela dengan bungkus makanan yang Gaza bawa.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaes


Jangan luoa bahagia 🤗💕💕


__ADS_2