Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Madam


__ADS_3

Seorang berhodie hitam dengan topi yang menutup kepalanya berjalan mengendap–endap. Beberapa kali ia menoleh ke samping dan kebelakang untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain yang membuntutinya.


Orang itu berjalan menuju sebuah tempat yang sangat jarang orang awam mengetahuinya. Yang mereka ketahui hanyalah gudang bekas pabrik yang terbengkalai. Tempat itu jarang disinggahi. Terkesan angker untuk orang yang percaya akan hal–hal mistis.


"Ke mana saja kamu?!"


"Ma–maaf Bos," ucapnya terbata. Ia menundukkan kepalanya hormat.


"Panggil dia Madam!" ucap salah satu anak buah yang bersama dengan orang yang di sebut "madam".


"Maaf Madam," ucapnya mengulang kalimatnya.


"Sudah kau pastikan semuanya aman?" tanya Madam dingin.


"Sudah. Saya sudah memastikannya."


"Bagus. Bagaimana?" tanya Madam tanpa banyak membuang waktu.


"Semuanya sesuai dengan rencana. Rumah itu sekarang cukup kacau. Bahkan Gea terlihat begitu depresi dengan adanya teror itu," jelasnya melaporkan apa yang sudah ia amati di keluarga Briel.


Madam tersenyum licik. Senyuman yang membuat siapapun bergidik ngeri.


Madam mengangguk–angguk. "Awal yang cukup bagus. Awasi keluarga itu dan laporkan perkembangannya. Aku tunggu kabar baiknya," ujar Madam.


"Baik Madam."


"Lakukan apa yang sudab aku perintahkan. Lebih cepat lebih baik!" titah Madam. Seketika ia terdiam. Perintah yang satu itu sulit untuk ia lakukan. Ia harus mengorbankan perasaan yang sudah terlanjur sayang. Dilema besar mengguncang jiwanya.


"Aku harus bagaimana?" gumamnya dalam hati.


"DENGAR TIDAK?!" bentam Madam. Ia tidak suka diabaikan bahkan hanya sebentar saja.


"I – iya Madam, dengar," ucapnya tergagap. Ia memutuskan untuk memikirkannya nanti saja sembari waktu berjalan.


Tak lama setelah itu, ia pergi meninggalkan orang berhodie hitam itu bersama dengan anak buah yang mengawalnya.


Orang berhodie itu menghela napas. Ketar ketir ia rasakan dalam hatinya. Harap–harap cemas kala melaporkan apa yang ia dapatkan. Hidupnya ada di tangan Madam. Terlebih keluarganya akan menjadi taruhannya jika sampai ia membuat Madam marah.


"Aku harus segera kembali." Orang itu kembali celingukan, memastikan tidak ada seorangoun yang melihanya. Ketika dirasa aman. Mulai pergi bersama tukang ojek yang sebelumnya memang ia suruh untuk menunggunya di jalan kurang lebih 1 kilo meter dari gudang itu.


"Jalan Pak," ujarnya.


🍂


"Dari mana kamu Nah? tanya Dini yang melihat Minah datang dari luar. Wajahnya celingukan ke belakang, seperti tengah dikejar sesuatu.


"Hah? Ee itu... Anu ..." Minah masih belum bisa menjawab pertanyaan Dini.


"Anu apa Nah?"


"I–itu anjiinng milik tetangga depan mengejarku!"

__ADS_1


Wajah Minah terlihat pucat. Keringat membanjiri tubuhnya. Ia harus berlari kencang kala annjiing milik tetangga itu mengejarnya kencang. Kalau tida dirinya bisa digigit. Ngeri juga jika sampai terkena rabies. Bisa–bisa dirinya menjadi zombie jadi–jadian.


Membayangkanya saja sudah membuat Minah bergidik ngeri.


Dini tertawa mendengar cerita Minah. "Astaga Minah ... Kamu apain guguk itu?"


"Aku juga tidak tahu. Tiba–tiba saja mengejarku. Untung saja pemiliknya keluar rumah," ujar Minah menjelaskan.


"Ya sudahlah, aku ke dalam dulu. Tadi itu Nyonya Tere menyuruhku ke pasar."


"Tapi kok lama? Kemana aja kamu?" tanya Dini mengerutkan dahinya.


"Biasalah macet," jawab Minah. Ia berlalu meninggalkan Dini yang saat itu ingin membuang sampah ke tempat pembuangan yang tidan jauh dari sana.


🍂


"Bagaimana? Bisa?" tanya Madam pada anak buahnya. I


"Maaf Bos Madam. Tidak bisa sepertinya nomke rekening itu diblokir. Mungkin mereka sudah mengetahui motif kita," ujar sang anak buah pada tuannya.


"Sial!


Madam menggeram marah. Bagaimana tidak marah. Uang yangs seharunya bisa ia pindahkan, tidak bisa dipindahkan.


"Aaargh bagaimana mungkin?"


Tidak ada yang berani menjawab perkataan itu. Tidak ada yang tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Baik Bos Madam," ujar mereka mengiyakan.


Mereka pergi melaksanakan titah Madam junjungan mereka.


Setelah kepergian anak buahnya itu, Madam merenung di kursi kebesarannya. Ia menggerakkan kursinya itu ke kanan dan ke kiri. Tatapan matanya menerawang jauh.


"Ini semua ku lakukan demi kamu," ujar Madam. Tangannya meraih sebuah gelas berisi wine yang ada di atas meja. Ia menyesapnya sedikit demi sedikit untuk menemani kesendiriannya.


"Huff ... Aku tidak akan membiarkan semua orang mengacaukanku. Akan kupastikan semuanya berjalan sesuai rencana."


Madam menyesap kembali wine miliknya. Ia tersenyum licik. Tidak ada cara adil di dalam kamus hidupnya. Yang ada adalah strategi cantik yang satu persatu harus ia realisasikan.


🍂


"Bubu ..." Gea memanggil kucing kesayangannya itu. Kink kucing itu telah tumbuh dewasa. Semakin besar tubuh kucingnya itu semakin menggemaskan. Unyuk.


"Mauww" suara kucing itu. Bubu memang peka kala Gea yang memanggilnya. Gea bagaikan penyelamat hidupnya. Untuk itu Bubu akan terus berada bersama dengan Gea, berusaha menemani Gea hingga dia tidak ada nyawa.


Bubu menghampiri Gea. Ia mengusapka tubuhnya sendiri ke kaki Gea manja. Manja namun menggemaskan. Ia meminta perhatian dari pemiliknya.


"Aduh duh duh duh ... Lucunya bubu ..."


Gea mengangkat tubuh Bubu. Ia menggendong kucing kesayangannya itu. Sebelah tangannya mengelus kepala Bubu. Bubu mendengkur manja menikmati sentuhan demi sentuhan yang Gea berikan. Dimanjaka oleh Gea adalah kebahagiaanya.

__ADS_1


"Eh Bayang ke mana ya? Tumben sekali sore–sore begini dia tidak kelihatan batang hidungnya," gumam Gea. Ia mencari Briel di halaman belakang.


Ternyata Briel ada di sana. Ia tengah memanjat pohon yang tida begitu tinggi. Di bawahnya ada Tere yang mengarahkan Briel untuk mengambilkan buah jambu yang Tere inginkan.


"Itu Bri, yang sebelah kanan."


"Yang mana Bun?"


"Itu ke depan sedikit." Tere sudah lelah mengarahkan Briel. Anaknya itu tidak paham–paham dengan instruksinya.


"Udahlah Bun, ini saja!" Briel sudah menyerah. Bundanya itu terlalu banyak maunya. Dan ia sendiri pusing menuruti kemauan sang bunda.


"Ah payah...! Mana?" Tere mendengkus kesal. Pada akhirnya ia hanya bisa menurut dengan anaknya itu.


"Tangkap Bun." Briel melempar jambu ke bawah. Tere menangkap jambu itu dengan sempurna.


Gea yang melihat dari kejauhan itu pun bergabung bersama denga Bubu.


Kehadiran Bubh bersama dengan Gea membuat Briel oleng seketika. Hampir saja ia terjatuh. Secepat mungkin ia meraih dahan pohon untuk menahan dirinya agar tidak jatuh ke bawah.


"Sayaaang ... Bawa Bubu menjauh" rengek Briel.


"Huss... Huss..." briel berusaha mengusir kucing oren itu.


"Bri... Bri... Sudah punya anak masih saja takut kucing. Kalau anakmu gedhe pasti diketawain mereka!" ledek Tere. Ia tersenyum puas melihat anaknya tersiksa.


"Gak tau itu Bunda. Gea juga heran kenapa bisa Bayang takut sama kucing. Padahal kan kucing menggemaskan. Iya kan Bu...?"


"Mauuww"


Seolah mengerti ucapan Gea, Bubu menyahuti ucapan Gea dengan suaranya yang lucu. Ia mendusel manja dalam gendonga Gea.


"Eh kurang ajar kau Bu! Dilarang manja manjaan dengan istriku!" Briel tidak rela kucingnya itu mendapat perhatian lebih dari istrinya. Bahkan mendusel manja seperti itu. Yang boleh hanya dirinya.


Iseng, Gea mengarahkan Bubu pada Briel. Briel berteriak–teriak di atas pohon. Tere dan Gea menertawakan Briel yang ketakutan.


"Tuh kan takut," ledek Tere di sela tawanya.


"Bukan takut, Bunda. Tapi gelii" kilah Briel.


"Sama aja."


"Bedaaa. Takut ya takut, geli ya geli."


Tidak tega dengan suaminya itu, Gea membawa masuk Bubu. Briel bisa tidur 24 jam di pohon itu, selama Bubu masih di bawah pohon.


🍂


Happy reading gaes


Jangan lupa bahagia 🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2