
"Gea Agatha Yohandrian .... Dia istriku! Istri sah saya, menantu Keluarga Yohandrian," ucap Briel dengan lantang.
Jawaban Briel membuat semua karyawan membulatkan matanya. Mereka semua terkejut. Sesuatu hal buruk bisa saja terjadi pada mereka.
Terutama Susi dan Rebe. Mereka berdua adalah orang yang tertangkap basah menghina istri CEO, bahkan di depan muka Briel sendiri. Briel menatap nyalang mereka berdua. Gemetar dan rasa takut itu muncul denga sendirinya, menggerogoti tubuh mereka. Keringat dingin yang mulai membasahi tubuh mereka.
Mereka menunduk, tak berani menegakkan kepalanya. Sedangkan Gea berusaha menenangkan Briel. Namun percuma. Semua kode yang ia berikan untuk Briel, ditolak mentah–mentah. Briel tak menghiraukan Gea sedikitpun. Gea hanya bisa menghela napas kasar.
"Terserahlah!" gumamnya lirih.
"SIAPA LAGI DI ANTARA KALIAN YANG BERANI MEMBICARAKAN ISTRI SAYA SECARA TIDAK BENAR?!" bentak Briel.
Semua orang diam, menundukkan kepala. Tak ada yang berani menatap sorot mata yang tajam milik Briel.
Briel tersenyum simpul. Senyuman itu layaknya seyuman iblis yang ingin membinasakan lawannya. Briel memang memiliki hati yang baik, namun ia akan menjadi sangat ganas ketika kehidupan pribadinya diusik orang lain.
"Baiklah, tak ada yang mau mengaku! Saya bisa mencari tahunya sendiri dalam waktu sekejab."
Briel menjeda kalimatnya sejenak. Ia mulai menatap ke semua arah di depannya.
"Namun jangan salahkan saya jika sesuatu terjadi pada kalian setelah ini."
Semua karyawan semakin ketakutan. Bahkan mereka yang tak bersalah pun ikut merasakan akibatnya. Mereka cemas mereka akan ikut dipecat karena ulah yang lainnya.
Tiba–tiba saja Adam mendekat ke arah Briel. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Briel. Mimik wajahnya terlihat serius. Briel mengangguk paham.
__ADS_1
"Lima orang! Saya tunggu di ruangan saya. Atau kalian tanggung sendiri akibatnya!" ucapnya lantang.
Briel beralih menatap Runi.
"Dan kamu Runi, kamu juga ikut ke ruangan saya."
Setelah itu Briel meninggalkan tempat itu bersama dengan Gea yang ia genggam tangannya.
"Ahh kalian …. Siapa sih yang mulai menyebarkan gosip?! Semua jadi kena imbasnya kan!" keluh seorang karyawan setelah sosok Briel tak terlihat lagi di jangkauan matanya.
"Iya bener! Kehidupan kita semuanya di sini terancam!" ucap yg lainnya.
"Ahh bagaimana nasib anak istriku kalau begini," keluh yang lainnya lagi.
"Ck …! Udahlah__! Kalian yang merasa biang masalah silahkan ke ruangan Bos! Pikirkan nasib semua orang! Jangan korbankan banyak orang karena kesalahan kalian!" ucap yang lainnya lagi dengan kesal. Ia langsung pergi kembali ke ruangannya.
"Aih bodoh! Kenapa aku bisa sampai salah menyebarkan informasi?! Astaga …." Ia merutuki kebodohannya.
"Bagaimana ini? Bagaimana jika aku sampai dipecat?"
"Apakah aku harus ke ruangan si Bos?"
Yeah dia, Ira. Dialah yang menyebarkan gosip itu ke seluruh karyawan. Selain karena sudah lama iri dengan kecantikan natural yang Gea miliki, Gea yang sering keluar masuk ruangan Briel semakin memupuk rasa tak suka itu. Dengan beberapa hal yang ia lihat dari Gea, Ira mengumpulkan bukti–bukti itu tanpa menyelidikinya lebih lanjut. Dengan bukti yang ia anggap benar itu, ia mulai menyebarkan gosip miring mengenai Gea. Bukannya untung, tapi malah buntung. Gosip itu menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Ira mulai melangkahkan kakinya ke ruangan Briel. Namun ia berbalik lagi. Kakinya berat sekali untuk melangkah ke ruangan Briel.
__ADS_1
"Arrrggh ini namanya bunuh diri kalau aku ke sana! Duh harus bagaimana ini …."
Cukup lama Ira bergumul dengan dirinya sendiri. Akhirnya ia pun melangkah ke ruangan Briel. Ia tak mau bom nuklir yang lebih besar menyerangnya. Lebih baik sebilah pedang dari pada bom nuklir yang menghanguskan semuanya. Ia mengetahui seberapa besar kekuasaan Briel dalam dunia bisnis.
🍂
"Permisi, Bos," ucap Ira.
Tak lama, pintu itu terbuka. Di sana ia melihat Briel, Gea, Adam, Runi, dan keempat karyawan wanita. Keempat karyawan itu berdiri sembari tertunduk. Ira berdiri pula di samping mereka dan melakukan hal yang sama dengan mereka.
Briel duduk di kursi kebesarannya. Ia menatap datar kelima karyawannya dengan kaki yang disilangkan dan tangan di kedua sisi kursi sembari sedikit memutar–mutar kursi itu. Sedangkan Adam berdiri di samping Briel dan Gea beserta Runi duduk di sofa.
Suasana hening nan mencekam mendominasi ruangan itu.
"Masing–masing ambil satu amplop itu!" Adam menunjuk 5 amplop putih di atas mejanya. Briel hanya terdiam sembari menautkan kedua tangannya. Bahkan hanya dengan seperti itu saja Briel mampu mengintimidasi mereka.
Mereka berlima saling memandang satu sama lain. Apa ini? Itulah pertanyaan yang ada dibenak mereka semua.
Walaupun begitu, mereka tetap berjalan untuk mengambil amplop itu.
🍂
//
Happy reading gaess
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕