
Runi berjalan mencari Gea. Di mana–mana ia tak menjumpai Gea. Sampai akhirnya ia berpapasan dengan Nana. Runi menghentikan langkah Nana.
"Na kamu tahu Gea di mana tidak?" tanya Runi dengan wajahnya yang panik. Ia mulai mengkhawatirkan Gea.
Nana berpikir sejenak. Tadi ia sempat berpapasan dengan Gea tapi ia tak melihat kemana sebenarnya Gea pergi. Ia mengingat kembali dan menerka ke mana Gea.
"Tadi dia berlari ke arah sana sembari membungkam mulutnya sendiri dengan sebelah tangannya," ucap Nana dengan tangan yang menunjuk ke arah kanan. Dari sana memang banyak pilihan ruangan. Antara ke toilet, atau ke ruangan atasan–atasan di perusahaan itu.
"Astagaa jangan–jangan Gea mengalami morning sickness," gumam Runi dalam hati. "Eh tapi kan katanya ia tak pernah mengalami itu sekalipun," lanjutnya lagi dalam hati.
Gea telah memberitahu Runi perihal kehamilannya beberapa hari lalu. Sehingga Runi sudah tidak kaget lagi jika ia mengetahui Gea mengalami tanda–tanda kehamilan.
"Makasih ya Na," ucap Runi.
Nana mengangguk. Ia pergi melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Sedangkan Runi berpikir sejenak. Ia mengira–ira kemana Gea pergi. Tanpa berpikir panjang Runi berlari ke arah yang Nana tunjuk.
Runi berhenti di depan toilet wanita. Ia mendengar suara seorang wanita yang muntah–muntah.
"Wah gak bisa dibiarkan ini. Itu pasti Gea. Aku harus memberitahu Bos Briel perihal ini," ucap Runi yang terengah–engah, engap karena pasokan oksigen berkurang akibat berlari.
Tak berlama–lama lagi ia berlari ke ruangan Briel. Secepat mungkin agar Briel lekas memberikan yang terbaik untuk Gea.
"Permisi Bos! Buka pintunya Bos!" ucap Runi. Ia sudah tak peduli dengan jabatan Briel yang lebih tinggi. Ketakutannya telah menghilang. Yang terpenting adalah Gea untuk saat ini.
"Masuk!"
Terdengar suara samar dari dalam. Pintu ruangan itu terbuka. Runi segera masuk menghampiri Briel.
"Selamat pagi Bos," ucap Runi dengan badan yang sedikit membungkuk hormat.
"Pagi. Tidak biasanya kamu datang ke ruangan saya langsung. Ada apa Run?" tanya Briel. Ia menatap Runi heran.
"Bos Gea Bos…" Runi menjeda ucapannya karena masih terengah–engah napasnya. Namun kekhawatiran nampak sekali di wajahnya.
Briel menghentikan aktivitasnya, memusatkan perhatian penuh kepada Runi. "Ck katakan dengan benar!" Briel gemas dengan Runi sekaligus khawatir akan sesuatu hal yang terjadi pada Gea.
Runi berusaha mengatur napasnya. "Gea muntah–muntah di toilet. Sepertinya ia mengalami morning sickness Bos."
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang lagi Briel berlari menghampiri Gea padahal Runi belum selesai memberitahukan info di mana posisi Gea sekarang. Briel mencari Gea mulai dari toilet–toilet yang ia temui sepanjang perjalanan.
Dan benar saja Briel langsung menemukan Gea di sebuah toilet. Namun ia melihat Gea tengah berhadapan dengan dua orang wanita lainnya. Briel yang awalnya ingin langsung masuk ke dalam pun tertahan. Ia ingin melihat terlebih dahulu apa yang terjadi.
Dari persembunyiannya, amarah Briel begitu memuncak. Apa yang ia dengar benar–benar melukai harga dirinya. Apalagi ia sudah melihat tangan itu bergerak melayang ingin menyentuh wajah istrinya. Ia menahan tangan itu. Briel berdiri di belakang wanita itu.
🍂
"Gea!" panggil Runi tiba–tiba.
Gea tersenyum miring. Sedangkan Rebe kesal karena tangannya tertahan. Amarahnya sudah berada di ubun–ubun, bersiap meledakkan amarahnya. Ia tersenyum miring. Bahkan suaranya terdengar sinis.
"Hahaha berani beraninya menggunakan teman sebagai tameng untuk melindungimu," ucap Rebe. Suara Runi yang ia dengar adalah buktinya.
Susi tertawa merendahkan Gea. Namun seketika ia terdiam. Ia bahkan menunduk takut. Ia bahkan mengkode Rebe agar Rebe berhenti melakukan hal konyol itu, namun Rebe tak mengerti apa yang Susi maksudkan. Ia masih terus melancarkan aksinya.
Gea masih diam. Gea melengos sejenak. Ia tertawa merendahkan Rebe .
"DAN EL—"
Ucapan Rebe yang ingin mencaci Runi pun terhenti. Amarah Rebe langsung memadam. Nyalinya menciut saat ia membalikkan badannya. Bagaimana tidak? Ia menatap orang paling berkuasa di perusahaan itu.
Briel menatap Rebe datar, lalu bergantian menatap Susi. Panas dingin menjalar di tubuh mereka. Karir mereka di ujung tanduk. Bisa saja Briel memecat mereka secara langsung.
Briel menghempaskan tangan Rebe kasar.
"Oh jadi ini ya kerjaan karyawan saya kalau dibelakang bosnya?"
Breil tertawa sinis. Bahkan suara tawanya membuat mereka semua diam terpaku karena ketakutan. Sedangkan Runi tersenyum di dalam hatinya.
"Hahaha akhirnya tertangkap basah juga," gumam Runi dalam hatinya. "Belum juga aku menjelaskan pada Bos Briel, namun semesta seakan mengabulkan apa yang kupinta. "
Briel merogoh gawainya. Ia menghubungi Adam.
"Kumpulkan semua karyawan di aula!" titah Briel. Hanya satu kalimat itu, Briel langsung mengakhiri sambungan itu tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari lawan bicaranya.
Briel menghampiri Gea. Ia merangkul Gea dengan niat ingin membawa Gea keluar dari sana.
__ADS_1
"Semuanya ikut saya!" ujar Briel dingin.
Rebe dan Susi tertegun
"Matilah aku ..." tangis Rebe dan Susi dalam hati. Mereka sudah tidak peduli lagi siapa Gea. Mereka berfokus pada kemungkinan buruk yang akan terjadi pada mereka. Namun melihat reaksi Brel, mereka semakin memandang Gea begitu rendah.
"Wahh benar–benar jaallaang! " umpat Susi kasar dalam hati.
"Hah! Begitu saja menggunakan kekuasaan Bos Briel."
Begitulah kira–kira arti sorot mata Rebe. Rebe masih menatap Gea dengan tatapan merendahkan. Gea hanya diam. Baginya, apa yang Briel katakan adalah yang terbaik untuk menjelaskan semuanya. Percuma juga Gea sendiri yang bebicara. Dia tak akan didengar. Yang ada dia hanya akan mendengar cemoohan dari mereka.
Mau tak mau mereka mengikuti Briel dari belakang.
Semua karyawan telah berkumpul di aula saat Briel datang bersama yang lainnya.
"Saya mendengar desas desus yang tengah beredar," ucap Briel to the point. Ia tak mau berbasa–basi.
Briel tertawa sumbang. Semuanya terdiam membisu Suasananya terasa sangat menegangkan.
"Tanpa saya perjelas pun, saya yakin kalian semua pasti sudah tahu apa itu!"
Mereka semua terdiam. Mereka merasakan badai akan melanda mereka, tatkala melihat amarah Briel.
"Mau tau dia siapa?"
Semua orang menunggu jawaban Briel.
Briel menghambis napas dalam lalu ...
"Gea Agatha Yohandrian .... DIA ISTRIKU! Istri sah saya, menantu Keluarga Yohandrian," ucap Briel dengan lantang.
Jawaban Briel membuat semua karyawan membulatkan matanya. Mereka semua terkejut. Mereka semua juga merasa akan ada hal buruk yang terjadi pada mereka.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaess,
Jangan lupa bahagia 💕💕