
"Akhinya aku keluar juga dari sini ..." ujar Dela. Ia masih duduk santai di atas ranjang, mengamati Gaza yang sibuk berberes.
Setelah beberapa hari ia berada di ruangan yang membosankan, akhirnya ia diperbolehkan untuk pulang. Tidak betah rasanya berlama–lama di sana. Rasa makanan juga hambar. Ia tidak suka itu.
Biaya Dela selama perawatan di rumah sakit telah ditanggung Gea. Gea tidak tega jika harus meminta uang pertanggungjawaban dari keluarga Angga. Ibarat untuk hidup saja mereka pas–pas an. Buta hati nurani jika semua kerugian ditanggungkan pada mereka. Sedangkan Angga telah keluar dari rumah sakit terlebih dahulu, tepatnya hari setelah kecelakaan terjadi.
Melihat Gaza telah selesai dengan semuanya, Dela ingin turun dari ranjangnya. Belum sempat kakinya menginjak lantai, Gaza bersuara kencang mengentikan Dela.
"Kau mau ke mana?!" Terlihat raut kepanikan di wajah Gaza.
Dela menyipitkan matanya. "Ya mau pulanglah. Mau berapa lama lagi di sini, bosan," ucap Dela. Ia bingung juga kenapa Gaza sepanik itu.
Gaza menghela napas. "Jangan asal turun juga. Hati–hati," ucap Gaza melunak. Kondisi Dela membuat Gaza panik. Beberapa hari yang lalu hampir saja kandungan Dela keguguran. Berjalan dengan satu kaki dengan sedikit lompatan, membuatnya ngeri sendiri.
Gaza mengambil kursi roda yang tidak jauh dari sana. Ia mendorong kursi itu dan berhenti tepat di samping ranjang. Gaza tidak ingin mengambil risiko. Lagi pula, dokter yang menangani Dela juga menyarankan untuk menggunakan kursi roda kala Dela berjalan cukup jauh.
"Untuk apa pakai kursi roda begitu. Aku masih bisa berjalan!" protes Dela. Ia tidak mau memakai kursi roda.
"Tidak usah ngeyel. Sudah, kalau harus pake ya dipakai!" Gaza tidak menerima bantahan. Hal itu membuat Dela kesal. Kakinya hanya kesleo. Terlalu lebai jika harus menggunakan kursi roda.
Dela memejamkan matanya, berdecak kesal. "Pakai tongkat kan bisa. Kenapa harus pake kursi roda. Aku tidak lumpuh!"
"Aaaa ..." teriak Dela. Tubuhnya serasa melayang seketika.
Jengah dengan sikap Dela, Gaza mengangkat tubuh Dela tanpa persetujuan. Ia tidak suka waktunya terbuang habis hanya untuk berdebat memperdebatkan hal yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan.
"Turunkan aku!" Dela meronta. Namun Gaza mengabaikannya. Tenaganya masih lebih besar dari pada tenaga Dela.
"Dah tenang, duduk yang anteng," ucap Gaza seperti tengah menasihati anak SD.
Dela berdecak kesal. Wajahnya yang semula mulus, kini seperti pakaian yang belum diseterika, kusut.
"Nah gitu kan bagus," ungkap Gaza dengan senyum penuh kemenangan. Gaza mendorong kursi roda itu meninggalkan ruangan itu.
Dela mengeluh dalam hatinya. "Ahh tapi setidaknya aku keluar dulu dari sini. Selamat tinggal penjara berbau obat!" ucap Dela dalam hati.
🍂
"Papa..."
Gea menghampiri Edi yang saat ini main ke rumah Briel.
Gea mencium tangan Edi lantas memeluknya.
"Baru datang, Pa?"
"Enggak, sudah lumayan lama. Tadi papa ngobrol dulu dengan kedua mertuamu.
Gea mengangguk–angguk.
"Ayah dan Bunda di mana?"
"Ada di bawah. Mereka menyuruh Papa untuk ke sini. Papa sudah ajak mereka, tapi kata mereka, mereka mau menyusul nanti," ujar Edi.
Gea mengangguk mengerti.
"Oeeeekk... oeeekk"
__ADS_1
Tangisan Nino dan Rio bersahut–sahutan, menggelegar memenuhi ruangan itu. Gea dan kedua baby sitter nya itu berlari menghampiri duo kembar. Begitupun juga dengan Edi.
Melihat telah banyak orang yang menangani, Minah berinisiatif membuat susu sambung untuk duo kembar.
Dengan hati–hati agar tangannya tidak terasa sakit, Gea membawa Rio ke dalam dekapannya. Sedangkan Nino bersama dengan Dini. Mereka mulai menimang kedua bayi itu agar Rio dan Nino tidak terlalu lama menangis. Terlalu menangis tidak baik untuk kesehatan bocah mungil itu.
"Biar saya saja, Bik," ujar Edi. Ia ingin menimang Nino pula. Dini memindahkan Nino ke dalam dekapan sang kakek.
"Ini, Nyah, Tuan."
Minah datang membawa 2 botol susu. Ia menyerahkannya pada Gea dan juga Edi. Gea dan juga Edi mengarahkan botol itu pada duo kembar. Mereka meminumnya lahap. Sepertinya mereka kehausan.
Setelah beberapa waktu kemudian, duo kembar terdiam. Duo kembar telah terlelap dalam tidur mereka. Namun lucunya, bibir mereka belum berhenti menghisap walau isi dari botol itu sudah habis. Bahkan sampai dilepas pun, bibir mereka masih sibuk bergerak seakan masih menghisap ujung botol.
Cukup untuk duo kembar terlelap, Gea dan Edi membaringkan duo kembar kembali dengan hati–hati. Mereka tersenyum melihat dua bayi mungil itu mengembang–kempiskan dada mereka teratur. Damai dilihatnya.
"Ayo, Pa, duduk dulu. Ngobrol gitu," ujar Gea.
Edi tertawa kecil. "Ngobrol apa hmm?"
"Ya apa aja Pa," ucap Gea menawarkan.
"Hmm ..." gumam Edi sebagai jawabannya. Mereka berjalan ke dua kursi yang letaknya tidak jauh dari jendela kaca. Mereka berjalan sedikit menjauh dari ranjang duo kembar.
"Minah, tolong ambilkan minum Papa ya. Jus dan air bening saja," titah Gea.
"Iya Nyah," ucap Minah. Ia sedikit membungkuk lantas membalikan badannya, pergi, untuk melaksanakan perintah Gea.
"Bagaimana? Apakah kamu happy?" tanya Edi memulai pembicaraan. Ia ingin tahu bagaimana anaknya itu secara perasaan.
Itulah yang Edi harapkan. Ia ingin mendengar kata happy itu terlontar dari bibir Gea sendiri.
"Papa gimana? Masih rutin check up?" tanya Gea kemudian.
"Masih dong. Tapi nanti sesekali saja."
Gea mengangguk–angguk.
"Pa ..." panggil Gea lirih, memecah keheningan yang sempat mendominasi.
"Apa Gey?" Edi menolehkan wajahnya ke arah Gea yang ada di sampingnya.
"Papa sudah tau kan jika Kak Dela itu kecelakaan?" tanya Gea hati–hati.
Edi mengangguk. "Iya, Papa sudah tau. Kan kamu yang memberi tahu Papa, Gey. Lalu?" Edi belum mengerti arah pembicaraan Dela.
"Papa sudah ke Kak Dela?"
Lama, Edi belum kunjung menjawab. Edi kembali menatap ke depan. Entah apa yang dipikirkan, hanya Edi yang tahu.
"Pa ..?" panggil Gea sekali lagi.
"Hem?"
"Gimana?"
"Belum, dan mungkin tidak."
__ADS_1
Gea menghela napas kasar. "Pa... Kak Dela kecelakaan sudah beberapa hari yang lalu. Tidakkah Papa berniat untuk menghampiri Kakak gitu? Minimal menjenguknya gitu?" tanya Gea pada Edi. "Dia juga anak Papa," ujar Gea lagi.
"Tidak sekarang, Gey. Nanti akan ada waktunya." Edi berucap tanpa ingin menjelaskan lebih detail.
Entah apa yang Edi pikirkan, Gea tidak mengerti. Sudah cukup lama Dela menderita di luar sana. Seharusnya sudah cukup, pikir Gea.
Gea menatap Edi cukup lama, hingga oada akhirnya ia menyerah. Terlihat sekali raut kekecewaan di wajah Gea. Namun Edi hanya tersenyum. Ia menatap Gea lantas menerawang jauh ke arah depan.
"Untuk sekarang kamu tidak akan mengerti. Namun nanti kamu akan mengerti," ujar Edi.
"Apa lagi Papa pernah menjadi ayah yang gagal untuk kalian," lanjut Edi bergumam dalam hati.
Gea menghela napas panjang. "Yeah ... terserah Papa."
Gea hanya berniat mengingatkan agar papanya tidak menyesal. Namun jika sudah menjadi keputusan Edi, Gea pun menerima tanpa memaksakan kehendaknya.
"Permisi Nyonya, Tuan."
Minah datang dengan 3 gelas di atas nampan. Dua gelas berisi jus dan satu gelas berisi air bening.
"Silahkan, Tuan, Nyonya."
"Makasih Minah," ujar Gea.
Kehadiran Minah mencairkan kembali suasana yang sempat menegang.
"Sayang ... Dasiku di mana?" teriak Briel dari kamar. Kamar mereka terhubung langsung dengan kamar duo kembar. Kebetulan hari itu Briel lagi malas bekerja. Jadi ia memilih untuk masuk siang.
"Ada di dekat baju!" jawab Gea berteriak.
"Mana! Tidak ada!"
"Astaga Bayang. Sudah kusiapkan pula masih saja memanggilku. Harusnya kan ada di situ," gerutu Gea. Kebiasaan suaminya tidak pernah berubah. Kebiasaan baru setelah mereka punya anak.
Edi tertawa kecil. "Sudah sana. Layani suamimu."
Gea berjalan menghampiri Briel dengan omelan–omelan kecil yang terlontar dari bibir Gea.
"Nih lihat!"
Semakin jengkel pula, kala Gea menemukan dasi Briel hanya tertutup dengan handuk Briel sendiri. Briel meringis, memperlihatkan gigi rapinya.
"Lain kali dicari bener–bener dulu, Bayang, baru protes." Gea mengomel.
"Maaf Sayang, emuach..."
Briel mencium pipi Gea cepat, sebagai hadiahnya. Sebenarnya Briel sengaja melakukan hal itu. Ia hanya ingin melihat istrinya terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor. Ia tahu istrinya sibuk dengan kedua anaknya. Dan itu adalah cara yang paling ampuh untuk menarik perhatian Gea.
Dalam hati Briel tersenyum puas.
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1