Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 Sakit Jiwa 2


__ADS_3

Beberapa waktu sebelumnya ....


“Tidak ada apapun di sekitar sini,” batin Dela. Mereka berhenti di sebuah jalan di tengah perhutanan yang gelap dan sepi. Hanya suara jangkrik dan burung hantu yang sesekali mengabsen.


Gaza turun dari mobil. Ia mengecek keadaan di sekitar untuk memastikan semuanya aman. Ia ingin mengecek beberapa kali untuk meyakinkan dirinya jika tempat itu adalah tempat yang memang harus ia tuju, untuk membuktikan dugaannya benar atau salah. Ia tidak berniat untuk membawa Marvel turut bersamanya. Cukup dia dan Dela.


“Ini tempat apa?” tanya Dela. Tidak bisa dipungkiri jika ketakutan itu mulai terselip. Tempat itu sepi dan gelap. Jauh pula dari pemukiman warga. Siapapun juga akan berpikiran buruk jika berada di situasi yang sama.


“Masih berpura-pura polos? Naif!” sahut Gaza yang tidak percaya. Ia tersenyum sinis.


“Serah!” Dela memutar bola matanya. bertanya baik-baik pun percuma. Jawaban yang ia dapatkan tidak sesuai dengan pertanyaan yang ia ajukan lembut. Percuma pula jika ia menjelaskan kenyataan tapi selalu dikira sebuah kebohongan.


“Ikuti aku!” titah Gaza yang mendahului Dela.


Dela mengikuti Gaza dengan kondisi perut yang sudah hamil besar. Cukup sulit, namun juga masih terbilang mudah.


“Awas kalau sampai kamu kabur!” gertak Gaza.


“Hm” sahut Dela hanya dengan dehaman singkat.


//


BRAKKK


Tiba-tiba saja tubuh kekar yang ingin menghantam tubuh Briel, terpental menimpa drum-drum kosong. Sebuah pukulan dari belakang membantu Briel terhindar dari serangan itu.


Briel terpaku untuk sejenak. Ia bertanya-tanya dengan kehadiran seseorang yang familier di sana. Dia adalah Gaza.


“Jangan diam saja! Cepatlah! Atau kau yang akan jatuh!” ucap Gaza yang masih sibuk menghalau serangan lawan.


Briel menyimpan tanya dalam benaknya. Dia hanya punya pilihan: nyawa atau tanya. Dan dia memilih nyawa.


//

__ADS_1


“Welcome my dear ...” Clara menyapa anaknya yang kini telah berada di ambang pintu. Ia berjalan menghampiri anaknya dengan senyum merekah. Sedangkan Dela sendiri masih terdiam, mencerna situasi yang kini terjadi di depan matanya dengan tangan yang mengelus perutnya yang membulat itu.


Pikirannya masih berputar pada kejadian beberapa waktu lalu, di mana ia menyaksikan tubuh maminya itu berada di dalam peti dan dikuburkan di dalam tanah.


“Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali?"tanya Dela dalam dia yang tersorot dari tatapannya yang menatap Clara.


Clara tersenyum miring, lantas menjawab tanya yang tersirat itu. “Jangan lupakan! Mami terlalu pintar untuk mereka yang bodoh. Dan kamu. Rupanya kamu tidak melaksanakan ucapan mami waktu itu. Mami sudah menyuruhmu untuk melancarkan rencana lain. Tapi apa? Rupanya kamu sudah bersekongkol dengan mereka ya...” Clara menjeda ucapannya.


“Tapi tak apa. Mami tetap sayang sama kamu. Kamu tetap anak mami. Dan sekarang kamu bisa hidup berkecukupan bersama dengan mami tanpa perlu menumpang hidup dengan mereka.”


“Mi ...” Dela menatap Clara sendu.


“Kamu tidak perlu khawatir lagi Dela. Bahkan anak yang ada di kandunganmu itu nanti tidak perlu merasakan susah saat ia lahir. Atau... mungkin ... kalau kamu ingin menggugurkan kandunganmu, masih bisa Mami kabulkan. Kamu bisa hidup lebih bebas. Semudah itu hidup dengan Mami...” ujar Clara dengan menyentuh kedua bahu Dela dengan tatapan mata yang lekat. Clara teramat mengasihi anaknya itu. Cara yang salah tidak lagi ia perhitungkan lagi.


“Mi...”


“Atau kamu bisa meninggalkan hidup di sini, lalu kita memulai hidup kita di luar negeri? Sepertinya itu terdengar lebih baik,” ujar Clara tanpa memberikan celah untuk Dela berbicara.


“MAMI!!!”


“Ka-kamu tega membentak mami?”


Kekecewaan begitu jelas terlukis di raut wajahnya. Jari telunjuknya menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan bahwa yang ia dengar tidaklah benar.


Tak ia jawab pertanyaan dari Clara, Dela melontarkan pertanyaan lainnya.


“Apa lagi sih yang mami cari?” tanya Dela dengan wajah datar.


Clara menganga kan mulutnya. Tidak ia sangka jika anaknya akan mengucapkan semuanya itu kepadanya.


“Harusnya apa yang kita alami di masa lalu itu menjadi pembelajaran untuk kita. Tapi Mami malah mengulangi dengan cara yang lebih kejam.” Dela tersenyum miris.


Tatapan mata Clara kini meredup, datar. “Tahu apa kamu? Kamu tidak tahu apa yang Mami pikirkan. Ini semua demi kamu, Dela! DEMI KAMUU!!!” Clara menunjukkan jarinya tepat di depan wajah Dela.

__ADS_1


Dela menggelengkan kepalanya, menyangkal ucapan Clara. “Enggak. Bukan untuk aku, Mi. Tapi ego Mami! Apa Mami tidak melihat bagaimana aku sekarang? Aku lebih damai, Mi. Bohong kalau sampai tidak....” Dela tersenyum sinis. “Oh iya, uang itu dari Mami kan? Harusnya sudah pantau hidupku dong!” ucapnya tepat.


“Kurang ajar! Dasar anak tidak tahu diuntung!” Clara tidak habis pikir dengan pemikiran anaknya. Perhatiannya ditolak mentah – mentah oleh anaknya itu. Hati ibu mana yang tidak sakit kala niat baiknya ditolak begitu saja.


(Tolong.... anda yang gila, Clara 😭)


“Baiklah...”


Clara tersenyum miring. Ia memalingkan wajahnya lantas berjalan menjauh dari hadapan Dela.


“Menarik,” ujar Clara dengan tatapan licik. Hatinya sudah tertutup oleh dendam yang membara.


“Aaarrgghh ... tolong! Mami lepaskan!” pinta Dela yang kini telah berada di jangkauan Clara. sebuah tangan melingkar di lehernya dengan tangan yang lain menodongkan pistolnya di pelipis Dela. Dela tidak bisa berkutik. Untuk bernapas pun terasa sesak. Hidup dan matinya kini ada di tangan Clara, ibu kandungnya sendiri.


Gea shock melihat peristiwa di depannya itu. Langkah Gea yang ingin menghampiri Dela pun terhenti kala melihat Cla mengeratkan tangannya dengan tatapan mata licik yang Clara layangkan untuk Gea.


“Maju atau peluru ini menembus kepala Dela? Byufffhh....” ancam Clara.


Dela menatap Gea penuh harap. Ia tidak ingin mati begitu saja di tangan maminya.


Gea bimbang. Nyawa Dela dan anaknya penting, namun nyawa anaknya juga penting. Tidak mungkin juga Gea bisa melawan dengan adanya Rio yang ada di dekapannya.


“Clara! Dia anak kandungmu! Tega – teganya kamu ingin membunuh dia demikian?” ucap Gea lantang. Tak ada lagi rasa hormat yang terselip seperti sebelumnya yang masih memanggil nama Clara dengan hormat.


Clara tertawa kecil. “Anak kandung? Justru karena anak kandung. Aku harus memastikan kehidupan dan kematiannya. Bukankah aku adalah ibu yang baik?”


“Sakit jiwa!!” Tepat di depan matanya sendiri, ia sekarang percaya jika ada ibu yang tega dengan anak kandungnya. Bukan tega, lebih tepatnya rasa sayang yang teramat gila.


Tidak ada sahutan dari Clara. Saat ini tangannya sibuk menarik pelatuk. Perlahan-lahan namun pasti.


Dorr


Suara tembakan itu terdengar nyaring memenuhi ruangan itu. darah segar bercecer di lantai. Rintihan kesakitan turut serta menambah alunan melodi pilu.

__ADS_1


“Satu langkah menuju kalah!”


🌻🌻🌻


__ADS_2