
Di dalam ruangan kini hanya ada Gaza dan juga Dela. Gaza menunggu Dela sendirian di dalam. Samsul menyusul Dela di ruangan tempat anak kecil itu dirawat untuk memberikan informasi mengenai bagaimana kondisi Dela saat ini.
Gaza duduk bersandar pada kursi yang terletak tepat di samping ranjang Dela. Dalam keheningan ia menatap wajah Dela yang terlihat damai dengan kelopak mata yang tertutup. Tangannya bersidekap di atas perut. Entah apa yang ada di dalam pikirnya, ia masih diam sembari menatap wajah itu.
"Engh..." Dela mengerang. Perlahan matanya mulai menyipit, membuka sedikit demi sedikit. Ia berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan lampu yang cukup terang di dalam ruangan itu. Lampu itu cukup menyakitkan matanya.
"Di mana ini?" tanya Dela dengan polosnya kala melihat ruangan yang serba putih itu. Ia belum menyadari kehadiran Gaza. Ingatannya berputar untuk mengingat apa yang telah terjadi.
"Neraka!" celetuk Gaza.
Seketika Dela tersadar, jika ada orang lain yang berada di ruangan yang sama dengannya. Dela melirik malas. Baru saja tersadar, sudah di hadapan dengan musih terbesarnya. Dela menghela napas.
"Hmm!" gumam Dela kesal.
Gaza berdecih kala mendengar gumaman Dela yang menyebalkan.
"Aww ..." ringisnya. Kakinya terasa sakit kala tidak sengaja ia menggerakkan kakinya.
"Hati–hati. Kakimu masih terluka," ujar Gaza memperingatkan. Dela melirik ke arah kakinya. Pergelangan kakinya itu telah diperban.
"Makanya kalau diingatkan itu nurut, jangan malah ngeyel. Ya gini kan jadinya?!"
Tanpa menanyakan bagaimana kondisi Dela, Gaza langsung menyerang Dela dengan kalimat penyudutan yang menyatakan dia bersalah.
Dela berdecak kesal. Ia sampai bertanya dalam hatinya. Kenapa bisa ada makhluk semenyebalkan Gaza. Dia kira Gaza hanya menyebalkan kala ia baik–baik saja. Nyatanya di keadaan yang seperti itu pula, Dela diperlakukan sama seperti biasanya.
"Orang sadar dari pingsan biasanya ditanyakan bagaimana keadaannya. Lha ini? Boro–boro ditanya, malah disalahkan yang ada!" gumamnya lirih. Ia membuang muka, menatap ke arah samping lainnya. Gaza tetap mendengar gumaman itu walaupun suaranya masih tergolong lirih.
"Karena kamu memang pantas diomeli. Lihat apa kesalahanmu. Aku juga tidak akan mengomel jika kau nurut! Lihat ini? Ini kecerobohanmu. Siapa yang susah? Aku juga kan? Hmmm ... Sok sokan mau ke mana–mana sendiri. Siapa yang repot?!" omel Gaza panjang lebar. Dela mencoba menulikan telinganya. Telinganya terasa panas mendengar ceramah yang menurutnya hanya akan mengganggu kesehatan pendengarannya.
"Kalau ada orang bicara itu didengarkan! Jangan hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan!" Gaza mulai kesal lantaran ucapannya seakan diabaikan oleh Dela. Jika perantaian tidak melanggar hukum, mungkin lebih baik ia merantai Dela agar tetap berada di rumah.
Dela memanyunkan bibirnya. Wajahnya teramat masam seperti ibu–ibu yang tidaj mendapat jatah bulanan. "Iya iya ..!" jawab Dela terpaksa.
"Jangan hanya iya! Tapi berikan bukti nyatanya!"
__ADS_1
Dela memutar bola matanya malas. "Iyaaaaa..." jawab Dela dengan "a" panjang.
"Aku haus. Ambilkan minum," pinta Dela. Rupanya sejak pagi ia baru meminum 2 gelas air putih saja. Tenggorokan Dela serasa kering. Dalam rongga mulutnya pun terasa tidak ada sedikitpun cairan.
Gaza mengambil segelas air putih yang ada di atas nakas. Ia memberikan gelas itu pada Dela. Namun ternyata Dela kesulitan untuk meminum air itu. Ia harus sedikit menegakan tubuhnya. Paham akan kondisi Dela, dengan cekatan Gaza membantu mengangkat tubuh Dela.
Dela mulai meminum air putih itu. Air itu mulai masuk membasahi krongkongannya. Lega rasanya.
"Udah," ucap Dela. Ia memberikan gelas itu pada Gaza. Seusai meletakkan gelas itu kembali di atas nakas, Gaza membantu Dela untuk berbaring kembali.
"Aaaa ..." erang Dela lirih. Perutnya masih terasa nyeri. Aktivitas mereka sedikit terhenti untuk menghela napas, mengurangi rasa nyeri itu.
"Pelan–pelan," ucap Gaza. Ia lebih berhati–hati kala mulai membaringkan Dela kembali.
"Lain kali hati–hati. Kalau begini kamu juga kan yang sakit? Untung saja semuanya selamat. Kamu selamat dan calon bayimu selamat." Gaza berucap tulus. Ia juga ia melihat Dela terbaring seperti itu, merasakan sakit yang seharusnya tidak merasakan sakit itu.
"Hah?? Masih hidup? Kukira sudah mati," ucap Dela santai bahkan tidak ada rasa bersalah sedikitpun kala kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutnya.
Gaza hanya menghela napas kasar. Rupanya wanita di depannya itu masih belum jera. Ia kira setelah beberapa waktu ini Dela tidak melakukan hal yang berbahaya itu artinya Dela sudah menerima. Ternyata ia salah besar. Dela masih belum menerima kehadiran calon bayi di dalam kandungannya itu.
"Be–"
"Shuuuut ... Jangan berbicara apa pun. Aku sedang tidak ingin mendengar ceramah. Aku bukan jamaah. Tinggalkan aku sendiri. Aku ingin sendiri." Dela memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain. Sedangkan Gaza hanya menghela napas kasar. Hati Dela begitu keras hingga sulit untuk di lunakkan. Ia pergi meninggalkan Dela tanpa kata.
Setelah tidak mendengar kembali suara langkah kaki Gaza, Dela menghela napas kasar. Di luarnya saja ia terlihat keras. Namun ada yang tidak nyaman di dalam hatinya. Anehnya lagi, ia tidak mengerti sebab apa yang membuatnya begitu.
🍂
"Astaga ... Aku lupa memberitahu Bayang."
Setelah lama di rumah sakit, Gea baru teringat jika dia belum sempat memberitahu Briel. Suasana yang menegangkan dan menguras emosi membuatnya hanya bisa terfokus pada apa yang ia alami saat itu.
Gea mengambik benda pipih canggihnya dari dalam tasnya, menekan deretan nomor.
"Sayang ... Kemana saja kamu? Sudah sejak tadi aku mencarimu. Kata Hendri kamu sudah pulang sejak tadi. Namun sampai saat ini masih belum sampai rumah," ucap Briel di seberang telepon. Tanpa mengucapkan kalimat pembuka, Briel langsung menyerbu Gea dengan banyak kalimat.
__ADS_1
Hati Gea menghangat. Ternyata suaminya begitu peduli dengannya. Gea meringis lantaran merasa bersalah telah membuat Briel khawatir seperti itu.
"Mana Pak Samsul tidak bisa dihubungi juga lagi!" keluh Briel yang masih belum selesai dengan ucapannya.
Gea menatap ke arah Samsul. Mengerti dengan maksud Gea, Samsul mengeluarkan gawainya. Ia menunjukkannya pada Gea. Gawai itu telah kehabisan baterai.
Gea mengangguk mengerti.
"Maaf Bayang. Ini diluar dari kendali. Aku sekarang ada di rumah sakit–"
Belum selesai Gea berbicara, Briel telah memotongnya.
"Kamu kenapa? Kenapa ada di rumah sakit?" ucap Briel panik. Ia benar–benar khawatir jika istrinya kenapa–napa.
"Bayang, dengarkan aku bicara. Jangan panik." Gea berusaha menenangkan Briel. "Bukan aku yang sakit. Tapi Kak Dela yang kenapa–napa. Tadi waktu aku pulang, aku menemukan Dela terluka karena kecelakaan."
Di sebrang sana, Briel bersyukur. Ia lega lantaran bukan Gea yang terluka.
"Sudah dulu Bayang, nanti akan kuceritakan setelah aku sampai rumah. Aku akan pulang setelah orang tua anak yang menabrak Dela datang menjemputnya."
Setelah mendapat persetujuan dari Briel, ia mematikan sambungan itu. Ia menyimpan kembali gawainya di tas.
"Angga, di sini sama Pak Samsul ya. Kakak pergi sebentar, mau melihat kakak yang tadi," pamit Gea pada Angga.
Angga menatap lekat mata Gea. Matanya mengisyaratkan agar Gea tidak meninggalkannya. Gea menyentuh lengan Angga untuk meyakinkan Angga bahwa Angga akan baik–baik saja sekaligus memberikan ketenangan. Ia mengangguk.
"Pak titip Angga ya," titahnya.
"Iya, Nyah."
Gea meninggalkan ruang itu.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕