
"Daddy …." panggil Ayu dengan manja. Mukanya ditekuk dan bibirnya mengerucut. Ia berjalan menghampiri pria paruh baya yang tengah disibukan dengan banyak dokumen penting.
"Ada apa, hemm?"
Ia meletakkan dokumen itu, lalu memusatkan perhatiannya kepada sang anak. Ia menghadapi sifat manja anak gadisnya itu dengan sabar.
"Dad, sebenarnya aku kecewa karena hari ini aku gak jadi nikah. Padahal kan aku sudah tidak sabar ingin memiliki Briel dan hidup bersamanya." Ayu tersenyum malu si akhir kalimat yang ia ucapkan.
Kemal tersenyum melihat tingkah anak gadisnya ini yang sangat manja dengannya. Ia menatap lembut anaknya.
"Ya mau bagaimana lagi? Keadaan memaksa kalian untuk menunda pernikahan kalian."
"Iya juga sih Dad." sahut Ayu lesu.
"Ya ambil aja positifnya. Kalian berdua bisa berkenalan lebih lanjut. Kan kalian sebelumnya belum pernah bertemu. Baru tadi siang kan kalian bertemu?" ucap Kemal sambil tersenyum. Ia berusaha untuk memberi Ayu pengertian
"Tapi Dad, kalau bisa dipercepat ya Dad."
Ayu menatap Kemal penuh harap. Kemal pun mengiyakan permintaan Ayu.
"Tapi daddy gak janji ya, Sayang?"
Ayu tersenyum sambil mengangguk. Ia langsung memeluk erat tubuh daddynya. "Terimakasih, Dad."
Kemal mengangguk kecil sebagai balasan bahwa ia setuju.
Ayu pun meninggalkan ruang kerja Kemal dengan bersenandung dan sedikir menari. Hatinya berbunga–bunga karena cintanya akan segera terwujud.
🍂
Pagi itu Gea bangun agak kesiangan. Matahari telah menampakkan wajahnya. Cahayanya yang lembut, menerobos masuk melalui tirai jendela yang berwarna putih.
__ADS_1
Di pagi yang baru ini, Gea merenggangkan otot–ototnya yang terasa kaku. Ia mematah–matahkan kepalanya ke kiri dan ke kanan hingga terdengar bunyi kretek–kretek.
"Hahh …. untung hari ini aku masih cuti kerja," ucap Gea. Gea mengambil cuti kerja selama tiga hari dan hari ini adalah hari terakhir ia cuti. Ketika ia masuk kerja, dengan bangun jam tujuh pagi, Gea tidak mungkin sampai di perusahaan tepat waktu. Yang ada ia harus bersiap pekerjaannya melayang.
"Kemana dia?" gumam Gea. Dengan mata sayu khas bangun tidur, ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar itu.
Gea tak melihat Briel di sofa itu. Setelah perdebatan panjang kemarin malam, akhirnya mereka berdua tidur terpisah. Gea tidur di ranjang, sedangkan Briel memilih tidur di sofa. Bukan karena tidak mau, tapi Gea belum terbiasa saja tidur dengan lawan jenis. Ia ingin memulainya dengan perlahan, dan Briel menyetujuinya.
Sayup–sayup, Gea mendengar suara gemericik air mengalir dari kamar mandi. Suara berat yang bersenandung pun Gea dengar.
"Mungkin dia mandi."
Gea bersyukur kemarin malam tidak terjadi hal–hal yang bertanda kutip. Ia belum siap jika harus melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri untuk memenuhi kebutuhan batin suaminya dekat–dekat ini.
"Untung dia gak menuntut." Gea bermonolog tentang hal–hal yang sudah ia lewati kemarin malam. Ia tidak bisa mebayangkan jika seandainya Briel meminta haknya secara paksa kemarin malam.
"Huaahemm"
"Kayaknya di sana pemandangannya indah." Gea melihat ke arah balkon.
Ia beranjak dari ranjang. Ia berdiri, ingin berjalan menuju jendela. Ia ingin melihat pemandangan dari balkon. Tapi ….
"Aduh!!"
Gea terjatuh. Kakinya terbelit celananya yang kepanjangan. Ia memakai celana training panjang milik Briel. Besar badannya yang jauh lebih kecil dari tubuh Briel membuat tubuhnya tenggelam karena baju itu kebesaran.
"Haisst baju ini mah cocoknya buat menakut–nakuti burung yang mau makan padi!" geruntu Gea sambil merentangkan kedua tangannya. Sekarang ia merasa seperti orang–orangan sawah karena memakai baju Briel yang kebesaran.
Gea berusaha untuk berdiri, namun ia kesulitan. Rasa sakit telah menjalar di kakinya. Ia melihat ke kaki kirinya.
"Waa pantesan sakit." Gea melihat ada kulit yang membiru di sana.
__ADS_1
Gea berusaha lagi untuk berdiri. Dan akhirnya berhasil. Ia berjalan tertatih, berusaha kembali ke ranjang. Ia memilih menunggu Briel selesai mandi untuk menunggu gilirannya.
Tak lama setelah itu, Briel berjalan keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Gea melihat Briel bertelanjang dada. Ia segera memalingkan wajahnya yang terasa panas karena malu.
"Kenapa kamu begitu?" tanya Briel heran. Ia berjalan menghampiri Gea yang masih di ranjang. Briel masih belum paham kenapa sikap Gea begitu.
"Haih … kenapa malah ke sini sih?" gumam Gea sambil memejamkan matanya.
"Gey …." panggilnya lagi. Ia heran dengan sikap Gea di pagi itu.
Gea langsung bersembunyi di balik selimutnya. "Udah Bang, sana ganti deh, pakai bajunya!"
"Memang kenapa? Saya gak polos juga?" goda Briel. Tapi memang betul. Briel sudah memakai celana pendek, hanya saja sudah menjadi kebiasaan baginya untuk melilitkan handuk di pinggangnya.
"Pokoknya cepet ganti, Bang! Mataku ternodai ini?"
"Helehh bilangnya saja ternodai, tapi aslinya nyariin foto–foto pria topless," cibir Briel. Ia berjalan menuju walk in closet. Sedangkan Gea masih menahan malu.
Setelah memastikan Briel tak terlihat di pandangan matanya, Gea bergegas menuju kamar mandi. Langkahnya tertatih karena memar di kaki kirinya. Ia meringis menahan sakit. Selain ia malu melihat Briel yang bertelanjang dada, Gea juga tidak mau Briel sampai tahu kalau kakinya tidak baik–baik saja. Ia tidak mau merepotkan Briel. Ia tahu kalau Briel adalah pria yang lembut. Briel tidak akan membiarkannya dalam kesulitan.
"Gey, saya turun terlebih dulu. Bajumu ada di dalam paper bag di atas ranjang. Saya mau menerima telepon terlebih dahulu. Saya tunggu kamu di dalam mobil!" Selesainya mandi, Briel menghubungi orang suruhannya untuk membelikan satu stel baju.
Sayup–sayup suara itu terdengar dari kamar mandi.
"Oke siap!" teriak Gea dari dalam sebagai jawaban atas perkataan Briel.
🍂
//
Happy reading guys
__ADS_1
jangan lupa bahagia 💕💕