
Kedua insan beda jenis tengah duduk di sofa ruang pribdai di sebuah butik. Mereka duduk bersantai sambil bersandar pada punggung sofa. Mereka saling diam. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka masing-masing. Hanya mereka yang tahu.
"Huffft"
Gea menghela napas kasar. Ia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Kok bisa bersamaan? Tapi ia berusaha untuk berpikir logis.
"Tetaplah pergi, Kak. Kerjasama itu sangat penting untuk kemajuan butik ini. Kalau untuk pernikahan Gea, jangan khawatir Kak. Kakak nggak usah hadir dulu tidak apa Kak. Besok kan Gea hanya menikah saja. Masih ada resepsi yang bisa Kakak hadiri kelak."
Gea tersenyum walau sebenarnya tidak rela. Namun kerjasama itu sangat penting untuk keberlangsungan butiknya dan juga kesejahteraan bagi karyawannya. Tidak mungkin dia mengorbankan orang lain hanya untuk kebahagiaan dirinya sendiri. Lagi pula butik itu sangat berarti baginya. Bukan tentang uang, namun tentang kenangan bersama orang yang berharga di hidupnya.
"Tapi Gey?"
"Udah, Kak. Kakak pergi saja. Perkara ini bukan hanya untuk kita berdua. Keputusan yang akan Kakak ambil mempengaruhi kehidupan orang banyak. Banyak karyawan yang bekerja dan menggantungkan hidupnya disini, Kak." Gea diam sejenak.
"Pergilah!" ucapnya dengan tegas.
Mendengar jawaban dari Gea, Hendri menghela napas kasar. Kata terakhir yang terucap dari mulut Gea bukanlah permintaan lagi, melainkan adalah perintah dari atasan yang mutlak, harus dilakukan oleh bawahannya.
"Baiklah, jika itu yang Anda inginkan, saya akan pergi mengurus kerjasama butik ini ke sana," ucap Hendri dengan tegas pula.
Sebenarnya berat rasanya ketika ia tidak bisa menghadiri pernikahan orang yang sudah dianggapnya sebagai adik. Namun ada kewajiban yang harus ia jalankan. Untuk mencapai go internasional, butik itu harus bekerja sama dengan perusahaan entertainment yang ada di Jerman. Perusahaan itu mengharuskannya untuk menghadiri meeting di Jerman, jika butik Gea ingin melakukan kerjasama dengan perusahan itu.
"Bos, saya juga akan menyampaikan bahwa Bima juga tidak bisa menghadiri pernikahan Anda, Bos. Dia harus pergi menemui detektif andal, karena ada orang yang ingin bermain-main dengannya." Dengan berat hati, Hendri menyampaikan pesan dari Bima.
Lagi-lagi Gea harus menghela napas panjang. Semua orang terdekatnya tidak ada yang bisa hadir di pernikahannya. Mau bagaimana lagi? Urusan mereka menyangkut kepentingan orang banyak. Seandainya mereka hadir di pernikahan Gea, maka banyak orang yang akan menjadi korbannya. Sebisa mungkin dia menyembunyikan kesedihannya. Ia tidak mau membuat Hendri semakin merasa bersalah.
"Gey maafkan kita. Bahkan di hari pentingmu, kita tidak bisa hadir dan malah harus pergi untuk mengurus masalah perusahaan," sesal Hendri dalam hati.
__ADS_1
Terdengar suara gawai yang berbunyi dari gawai Gea. Gea mengambil gawainya lalu mengangkat panggilan itu.
"Iya Kak?" ucap Gea pada orang di sebrang sana.
"Gey, aku minta maaf. Aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu besok. Sungguh, ini bukan kemauanku. Ada orang yang ingin menghancurkan perusahaanku. Dan saat ini Aku sudah sampai Cina untuk menemui temanku di sini, Gey. Maafkan aku Gey," ucap Bima penuh sesal.
"Sudahlah Kak, tidak apa. Aku juga sudah tau lagi," Gea tertawa karena permintaan maaf yang keluar dari mulut Bima terdengar aneh di telinganya.
"Astaga ni anak, dimintain maaf malah tertawa." Bima berdecak kesal.
"Iya iya Kak, aku maafin. Tapi Kakak harus beri aku kado pernikahan yang berbeda dari yang lain," tantang Gea.
"Oke, deal." Bima menyetujui permintaan Gea.
"Deal."
Gea membuka pembicaraannya dengan Hendri. Mereka membicarakan tentang kerja sama yang akan Hendri hadiri. Malam nanti, Hendri akan berangkat ke Jerman. Butuh waktu belasan jam untuk sampai di sana.
"Gimana kabar calon suamimu?" tanya Hendri tiba-tiba.
"Davin baik-baik saja Kak. Katanya hari ini dia tengah menyelesaikan urusan pekerjaannya agar besok dia bisa melaksanakan pernikahan kita dengan tenang,"
Hendri mengangguk mengerti.
Tak lama kemudian, Gea pamit pada Hendri untuk pergi makan siang bersama Davin. Tak lupa Gea mengganti pakaiannya sebelum ia pergi. Ia menggunakan outfit yang sangatlah santai namun wajah cantiknya tak berkurang sedikitpun.
__ADS_1
π
Di dalam restoran, Davin duduk di dekat jendela. Ia menunggu kedatangan Gea. Ia tersenyum miring mengingat rencana yang sudah ia siapkan untuk Gea.
Davin melihat Gea datang menghampirinya dengan wajah yang bahagia. Ia semakin senang dibuatnya. Rencananya akan semakin menyenangkan.
"Hai, Sayang. Apakah sudah lama?"
"Belum, Yang," jawab Davin. Ia mengecup pucuk kepala Gea.
Mereka memesan makan siang untuk mereka. Mereka berbicara kesana kemari membahas masa depan yang belum tahu kepastiannya akan seperti apa.
"Sayang, jangan lupa jaga kesehatanmu. Jangan sampai besok kamu sakit saat pernikahan kita berlangsung," ucap Davin sambil mengelus lembut kepala Gea. Kata sakit yang Davin ucapkan mempunyai arti ganda, sesuai dengan apa yang dipikirkan mereka masing-masing.
Gea memeluk sang calon suami. Tak sadar ia mengecup dada Davin sebelum ia melepaskan pelukannya. Gea tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya membuat Davin menahan hasratnya. Gea segera berlalu meninggalkan Davin.
π
//
Ada yang merasa Gea sama Davin cocok nggak sih? Atau hanya Asa aja yang merasa ternyata visual mereka cocok? ππ
Gimana kalau Asa pindah haluan, nanti Gea, Asa buat nggak jadi dihianati sang kekasih? π€
ππ Asa bercanda doang ya semuaββ
__ADS_1
Happy reading, happy weekend, dan jangan lupa bahagia π