
"Jadi apa??"
Briel menunggu jawaban Gea tidak sabar. Ucapan Gea yang Gea gantung membuatnya semakin penasaran.
"Bayang ... Sabar Bayang, sabar. Aku butuh waktu untuk mengingat. Sepertinya terlalu banyak tidur membuatku jadi pikun," gurau Gea. Namun berbeda dengan Briel. Pengakuan Gea membuat Briel panik walau awal mulanya hanya sekadar candaan.
"Aku tidak papa Bayang. Canda duang." Gea memperlihatkan deretan giginya. Briel menghela napas lega meski tidak dapat dipungkiri jika ia tidak suka kekhawatirannya dipermainkan seperti itu.
"Maaf ..." ucap Gea dengan wajah memelas namun masih terlihat imut di mata Briel.
"Iya Sayang, emuaach"
Briel mengecup sudut bibir Gea singkat.
"Masih mau dengar tidak?"
"Masih dong. Ayo ceritakan," pinta Briel. Ia mencondongkan tubuhnya lebih mendekat ke tubuh Gea, mencoba mendengarkan istrinya berbicara lebih intens.
"Jadi saat itu aku berada di sebuah hamparan padang rumput yang luas. Padang rumput itu tidak pernah sedikitpun aku temukan di dunia ini. Pasalnya suasananya itu aneh. Tenang tapi kosong, damai tapi hampa."
Gea bergeming. Ia mengingat kembali apa yang ia lalui. Sedangkan Briel hanya mengucap kata "terus" sembari menatap Gea.
"Aku berjalan menyusuri jalan setapak. Di sana aku menemukan sebuah tempat duduk yang terbuat dari semen itu. Entah berapa lama aku di sana. Tapi yang kulakukan hanyalah duduk."
"Di sana sebenarnya aku mendengarkan suatu cerita tapi seperti apa ya ... aku tidak bisa mengungkapkannya ... intinya tidak asing namun seperti berputar cepat begitu." Gea berusaha menceritakan dari apa yang ia ingat.
"Sepertinya itu aku, yang selalu bercerita padamu tentang hari–hari yang terlewati." Tidak ada sedikitpun yang Briel tutupi.
Gea mengangguk lantas kembali melanjutkan ceritanya.
"Setelah sekian lama aku duduk di sana dengan menatap tak tentu arah, aku melihat Mama. Bahagia rasanya bisa bercengkerama lama dengan Mama. Terasa begitu nyata."
Gea tersenyum mengingat betapa damainya hatinya kala ia berjumpa dengan mamanya.
"Dan seketika itu juga, rasa kosong dan hampa itu hilang begitu saja," jelas Gea kemudian.
Dari penggalan cerita itu, kini Briel tahu kenapa Gea tidak ingin terbangun. Gea menemukan kedamaian yang selama ini Gea cari dan tidak pernah ia dapatkan di dunia ini.
Bibir Briel mengembang. "Lalu, apa yang membuatmu kembali?"
Gea menghela napas sejenak. "Tiba–tiba saja Bayang datang waktu Mama ingin mengajakku pulang ke rumah di mana Mama tinggal. Bayang mendekapku erat kala aku menangis, meronta ingin ikut dengan Mama."
Seperti ada yang menghantam dada Briel. Antara bersedih namun juga bersyukur. Nyatanya ulah absurd yang ia lakukan bersampak besar hingga mampu membawa Gea kembali ke dalam dekapannya, bukan dekapan Sang Pencipta.
"Aku menangis; kejer malahan, tapi Mama yang awalnya sedih pun tersenyum hangat. Begitu cerah. Dia bilang sama aku, kalau saat ini aku harus pulang sama Bayang. Mama akan mengijinkanku dan menjemputku jika waktunya tiba untuk ikut bersamanya. Tapi anehnya, aku tidak mengenalmu di sana, Bayang. Yeah ... Meskipun aku juga nurut nurut saja waktu kamu menahanku."
__ADS_1
Pletak
"Aaww" rintih Gea. Bukan sakit, namun hanya kaget semata.
Briel menyentil dahi Gea ringan. "Nakal ya, suami sendiri tidak dikenali." Lagi–lagi ulah Briel menyela suasana.
"Ya mana aku tau. Kenapa Bayang tidak protes sewaktu hadir di sana?"
"Kan kamu aja tidak mengabariku," balas Briel dengan gurauan. Mereka tertawa kecil lantaran gurauan yang mereka buat sendiri.
"Seusai itu, aku terbangun begitu saja. Dan di depan wajahku ada Bayang yang sudah terpejam. Sebenarnya ingin sekali aku membangunkanmu. Tapi aku tidak tega... Eh eh sakit..." rintih Gea memegangi sebelah tangannya yang terbalut kain putih.
"Mana ... mana yang sakit?" Briel menilik bagian mana yang membuat Gea kesakitan.
"Udah Bayang, udah." Gea meringis seketika. Tangannya masih terasa sakit jika ia salah menggerakkannya.
"Bagaimana dengan dia?" tanya Gea tiba–tiba. Ia teringat akan nasib Davin saat ini.
"Yeah ... Berurusan dengan Xavier tidak ada yang bisa lolos," ungkap Briel tanpa berbicara gamblang. Gea mengangguk. Ia setuju akan hal itu.
"Hemmss ..." Helaan itu terdengar dari Briel. "Tapi aku bersyukur pada akhirnya kamu kembali."
Briel tersenyum kembali. Ia tidak tahu berapa lama Gea akan koma jika dia tidak melakukan hal absurd yang pada akhirnya membuat dia mendapatkan jeweran maut dari Tere.
🍂
Jantung Gea berdegub kencang. Deguban ini terasa lebih kencang ketimbang ia jatuh cinta.
"Siap?" tanya Briel yang menundukkan badannya sembari terus mendorong kursi roda ke NICU (Neonatal Intensive Care Unit), tempat di mana kedua anak mereka berada.
Gea mengangguk mantab.
Briel terus mendorong Gea. Pada akhirnya setelah berbicara dengan dokter, Gea diperbolehkan untuk bertemu dengan anaknya dengan catatan masih dengan bantuan lantaran tangan Gea yang masih belum pulih.
"Terimakasih Dok," ucap Briel tulus. Kali ini, ia tidak mengijinkan dokter itu terus berada di ruangan itu. Ia hanya ingin sendirian bersama dengan sang istri. Ia tidak rela dokter itu melihat asset milik istrinya bahkan Suster Rita sekalipun.
Briel memperagakan seperti apa yang dokter itu lakukan kepadanya. Ia membantu Gea untuk mendekap sang buah hati, skin to skin, dengan bantuan tangannya karena Gea hanya bisa menggunakan sebelah tangannya. Dekapan itu mampu mempercepat perkembangan buah hati mereka.
Tanpa terasa, air mata yang dingin itu mengalir begitu saja dari netra Gea. Ia tidak dapat membendungnya. Ada kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan kala ia berhasil mendekap buah hatinya sendiri. Detak jantung yang saling beradu itu, begitu menenangkan.
"Hei ... Jangan menangis, Sayang," ucap Briel lembut.
Gea tertawa sembari masih terus menangis. "Bagaimana mungkin aku tidak menangis? Selama ini kita menantikan mereka. Bahkan aku merasakan bagaimana aku akan kehilangan mereka. Namun, saat ini aku masih bisa mendekap mereka," ucap Gea dengan air mata yang terus mengalir.
"Lalu siapa nama mereka?" tanya Gea seketika.
__ADS_1
Briel menggeleng. "Aku belum memberi mereka nama. Aku menunggu momen ini, momen dimana kita memberikan nama untuk mereka."
Gea menggeleng lemah sembari tersenyum. Sebegitu mengingatkan Briel untuk melibatkannya.
"Gabrio dan Gabino"
Tiba–tiba terlintas dua nama ini di pikiran Gea.
"Yeah Gabrio dan Gabino, yang artinya kekuatan dari Tuhan." Gea melantunkan nama beserta artinya itu.
"Nama yang indah," ungkap Briel setuju.
"Aihh tadinya aku menyiapkan nama Nicholas dan Nathan. Tapi setelah kupikir pikir nama itu sama dengan anak buahku. Untung saja aku menunggumu, Sayang," ucap Briel dengan gurauan namun memang begitulah nyatanya.
Nicholas dan Nathan yang artinya kemenangan dan hadiah dari Tuhan, itu yang terpikirkan di benak Briel sebelumnya.
Briel menatap kembali anak dalam dekapan Gea. Menatapnya lekat dan hangat.
"Gabrio Abigail Chandra"
Briel menyebutkan nama itu untuk anak yang kini ada di dekapan Gea. Lantas seusai itu, sang buah hati yang satunya, mendapatkan hal yang sama dengan Gabrio.
"Gabino Abigail Purnama"
Kali ini Gea yang menyebutkan nama itu. Nama yang memiliki arti kembar sama seperti mereka yang memiliki paras kembar identik. Serupa tapi tak sama.
TAMAT
🍂
Yey akhirnya Briel Gea tamat dan jadilah 4G (Gabriel, Gea, Gabrio, Gabino). wkwk mereka kayak jaringan sinyal 😭🤭 nanti ada 5G tidak ya dudududu
Sampai jumpa semuanyaa terima kasih dah setia membaca dan menunggu hingga detik ini 🤗 love you all
Jangan diunfav dulu ya... masih ada lanjutannya 🤫🤫
See you 💕
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1