Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
51. Terlambat Lagi


__ADS_3

Gea berlari mengejar bus kedua yang melintas. Ia berteriak–teriak. Namun sayangnya busnya itu tidak mau berhenti padahal itu adalah bus terakhir yang searah ke tempat ia bekerja. Gea pun berhenti dengan napas yang tak teratur karena jantungnya bekerja lebih cepat. Ia menjambak rambutnya frustasi. Ingin sekali ia memesan ojek online, namun ia tidak bisa.


Bagaimana mau bisa memesan? Gawainya saja tertinggal. Gea mengerang frustasi.


"Huhuhu … hek … hek … aku harus bagaimana ini? Pasti terlambat lagi …"


Ingin sekali Gea menangis. Bagaimana tidak? Jika dia terlambat lagi, bisa–bisa ia dipecat oleh Heri. Dia masih menyayangi tempatnya bekerja saat ini.


"Hahh .... Ini semua gara–gara hati sialan yang gak bisa aku kontrol saat melihat pria laknat itu lagi! Andai aku bisa lebih tegar lagi …." gerutu Gea menyesali perbuatannya. Ia kelelahan menangis, hingga hal itu membuatnya kecapaian. Namun ia bisa apa? Jika hati sudah berbicara maka tak seorang pun dapat menolaknya.


Jika saja Briel masih ada di apartemen, ia pasti akan meminta Briel untuk mengantarnya kali ini. Namun sayangnya tatkala ia bangun, Briel sudah meninggalkan apartemen terlebih dahulu. Briel hanya meninggalkan catatan kecil di meja agar Gea berhati–hati saat berangkat nanti. Hal itu membuat Gea kesal.


"Ck kenapa juga Abang tidak membangunkanku sebelum ia berangkat bekerja sih?!" sungut Gea.


Ia kesal pada Briel. Briel sudah tahu kalau Gea harus bekerja, namun dengan santainya Briel tidak membangunkan Gea. Namun bukan tanpa alasan Briel melakukan itu semua. Melihat wajah Gea yang lelah dan cukup sembab, membuat ia tak sampai hati untuk membangunkan Gea.


Cukup lama Gea menunggu taxi ataupun angkutan umum lainnya di pinggir jalan. Ia mulai lelah karena tak kunjung menemukan satupun kendaraan umum yang lewat. Alhasil Gea harus berjalan beberapa waktu untuk menemukan pangkalan ojek.


"Bang, jalan ke Mega Raya Group!" ucap Gea sambil menepuk pundak tukang ojek.


🍂


"Terimakasih atas waktu kalian, silahkan kembali bekerja!"


Setelah pidato dari pria atasan mereka, semua karyawan berhamburan meninggalkan aula pertemuan. Mereka kembali ke tugas dan kewajiban mereka masing–masing. Bisik–bisik para karyawan wanita terdengar kasak kusuk di perusahaan itu. Hal itu terdengar menyebalkan di telinga para karyawan pria.


Kenapa sih orang tampan dan tajir selalu menjadi bahan utama kaum wanita?


Begitulah pertanyaan yang sering kali muncul di benak kaum pria tatkala mereka mendengar pernyataan kaum wanita yang begitu mengelu–elukan sosok pria tampan berselubung ketajiran. Para pria biasa auto mudur teratur.


"Hei wanita yang di sana, yang baru datang!" teriak pria itu.


Pria itu melihat ada seorang karyawan yang baru saja datang dan menelusup di antara karyawan yang berhamburan. Dan wanita itu adalah Gea. Gea penasaran dengan kerumunan yang tak biasa. Ia mendekati kerumunan itu untuk mengetahui apa yang terjadi karena ia tak menemukan satu karyawan pun yang berkeliaran, secuali satpam. Dari situ, Gea memanfaatkan kerumuman karyawan untuk menyamar agar tidak kelihatan kalau ia terlambat. Namun ia salah. Tetap saja ia ketahuan.

__ADS_1


Teriakan pria itu membuat sebagian karyawan celingukan, namun ada sebagian yang masih berjalan.


"Jangan menoleh ke belakang Gey! Jangan menengok ke belakang dab bersikaplah seakan kamu tidak bersalah." perintahnya pada dirinya sendiri. Gea memilih untuk tetap berjalan tanpa memperdulikan panggilan pria itu.


"Semuanya berhenti dan kembali berkumpul!"


Seketika semua karyawan berhenti dan berbalik untuk memenuhi perintah sang atasan. Aura dingin dan menegangkan menguar di tempat itu.


"Aduh … tamatlah riwayatku," gumam Gea lirih sambil memejamkan matanya. Ia takut ketahuan oleh atasannya dan berakhir dipecat dengan tidak hormat.


Mau tidak mau Gea turut berkumpul bersama dengan yang lainnya. Ia berjalan dengan rasa was–was yang melandanya.


"Tuan Mark, mohon bersabar jika menghadapi karyawan yang satu ini," ucap Heri. Ia membungkukkan badannya pada pria itu. Mark hanya mengangkat tangannya yang mengisyaratkan agar Heri diam. Heri pun langsung mundur satu langkah.


"Kamu!" tunjuk pada Gea. Gea pun langsung mengangkat kepalanya dan menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, kamu!"


Gea menelan ludahnya dengan tenggorokan yang menjadi kering seketika. Semua karyawan memperhatikan Gea dengan berbagai macam pandangan.


"Tamatlah riwayatmu Gey …"


"Kasihan sekali dia …"


"Haha syukurin Gey! Makanya jadi karyawan itu tertib!"


Kata–kata itu jelas tersirat saat Gea memandang satu persatu wajah karyawan yang menatapnya. Ada yang beroh ria, ada yang mengiba, bahkan ada yang tersenyum licik.


"Wow begini ternyata rasanya menjadi pusat perhatian. Hebat sekali kau Gey, sekali mendapat sorotan langsung dengan sorotan menegangkan," batinnya. Ia memejamkan matanya dan merutuki dirinya sendiri.


"Setelah ini, temui saya di ruangan saya. Nanti dia yang akan menunjukkan di mana ruangan saya!" perintahnya dengan menunjuk salah satu pengawalnya.


Mark langsung meninggalkan tempat itu dengan pembawaan yang bisa membuat siapapun akan menunduk hormat.

__ADS_1


Semua karyawan langsung mengikuti atasan mereka untuk melanjutkan tugas dan kewajiban mereka.


"Gey!!!" panggil Runi yang menghampiri Gea.


"Astaga Gea …. Baru saja kemarin terlambat, hari ini kamu terlambat lagi. Mana sekarang kamu di panggil untuk keruangan Tuan Mark lagi!" celotehan Runi.


"Kamu sampai gak tahu kan betapa tampannya CEO kita yang baru? Ahh nyesel pasti kamu, Gey," lanjut Runi dengan antusias.


"Lah Tuan Mark bukan CEO kita yang baru?" ucap Gea terkejut. Dia mengira Mark adalah CEO pengganti itu.


"Bukanlah! Tuan Mark memang tampan. Namun CEO kita lebih tampan. Yakin deh, Gey! Ahh rugi kamu Gey datangnya terlambat. Jadi ketinggalan deh!"


Gea tertawa mendengar celotehan Runi. Ia juga heran kenapa banyak sekali wanita yang mengelu–elukan ketampanan pria. Biarpun tampan kalau dia tak sejalan, percuma kan?


"Semangat ya, Gey, kuatkanlah hatimu!"


Runi menatap Gea dengan sorot mata yang mengiba.


"Astaga, Run! Santai aja kali! Paling juga kemungkinan buruknya aku hanya dipecat. Tenang ... aku masih hidup, Run!" ucap Gea santai.


"Aww …!" Gea mengaduh kesakitan tatkala Runi memberikan tabokan di lengannya. Runi kesal dengan ucapan Gea. Maksud hati ia mengkhawatirkan Gea, namun yang diperhatikan seakan tidak peduli dengannya. Ia juga belum mau berpisah dengan Gea. Runi berdecak kesal sedangkan Gea mengelus pelan lengannya agar rasa panas karena tabokan itu membaik.


"Permisi, Nona, mari saya antarkan ke ruangan beliau!"


Seorang pengawal menghampiri mereka berdua dan menghentikan obrolan mereka berdua. Gea menoleh ke sumber suara dan mengangguk.


"Run, aku duluan," pamit Gea. Runi masih menatap iba sahabatnya itu. Ia berharap agar Gea tak terkena masalah. Gea menatap Runi. Dengan sorot matanya, ia berbicara kepada Runi agar dia tidak begitu mengkhawatirkannya dan bahwa ia baik–baik saja.


🍂


//


Happy reading guys ...

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2