
"Maaf, saya harus menyampaikan hal ini ..."
Dokter itu menatap mata Briel dalam. Sepercik harapan itu ada, meski kekhawatiran mendominasi.
Jantung Briel layaknya seorang pelari yang telah selesai melakukan lari maraton, berdebar kencang, bahkan terasa begitu sesak. Siap tidak siap, ia harus menerima kenyataan yang mungkin bisa terjadi. Ia berusaha meneguhkan hatinya agar ia kuat dan tegar kala mendengarkan perkataan dokter itu.
"Pa–"
Baru saja dokter itu ingin menyampaikan maksudnya, rombongan keluarga mereka sampai di sana. Mereka berjalan bergegas, hingga suara derap langkah kaki yang diciptakan oleh sepatu mereka itu terdengar nyaring silih berganti.
"Briel!" panggil Frans dan Tere bersamaan.
Runi berdiri di samping Adam, sedangkan Edi turut mendekat ke arah Briel.
"Dok, bagaimana dengan putri saya?" ucap Edi dengan kekhawatiran. Bagian dari hidupnya tengah terbaring tidak berdaya dengan kondisi terkini yang belum diketahui. Ayah mana yang sampai tidak merasakan sakit kala anak perempuannya terluka. Sakit pasti.
Dokter itu menghela napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia mencoba membuat lawan bicaranya tenang pula.
"Kedua bayi itu bisa diselamatkan," ucap dokter itu. Semua orang yang mendengarnya mulai menorehkan senyum di wajah mereka masing–masing.
"Namun mereka terlahir prematur. Sedangkan sang ibu masih dalam masa koma. Meskipun demikian, secara keseluruhan operasi si ibu dan kelahiran anak lancar meski ada beberapa penanganan yang kami lakukan."
Dan yeah benar. Mereka merasakan duka dan bahagia dalam satu waktu sekaligus. Mereka bertiga selamat. Namun mereka bertiga masih harus menjalani perawatan demi keberlangsungan hidup mereka.
"Lalu bagaimana nanti dengan istri saya Dok?" ucap Briel. Masih banyak kekhawatiran walaupun kelegaan itu mulai menjalar di dalam dirinya. Kekhawatiran itu masih belum akan hilang sebelum Gea tersadar dengan keadaan yang lebih baik.
"Istri Anda akan di bawa ke ruang ICU untuk sementara waktu."
"Berapa lama Dok?" tanya Briel.
Dokter itu mengerti bagaimana perasaan Briel. Ia menjawabnya dengan sabar, "Kita berdoa saja kepada Sang Maha, agar memberikannya kekuatan dan kembali tersadar sesegera mungkin."
"Saya pamit," ucap Dokter itu. Briel mengangguk lantas mengucapkan terimakasih pada sang dokter.
Tak lama kemudian keluarlah petugas medis berseragam khusus operasi mendorong brankar rumah sakit tempat Gea terbaring itu keluar. Mereka membawa Gea ke tempat seharusnya Gea di rawat sementara.
__ADS_1
Setelah kepergian mereka dari sana, Frans merangkul Briel, merangkul anaknya semata wayang yang saat ini merasakan bagaimana ia dulu saat Briel lahir namun dengan keadaan yang berbeda.
"Selamat ya, Nak." Frans menepuk ringan bahu Briel untuk memberikan sedikit semangat dan kekuatan. "Tenanglah, semuanya akan baik–baik saja."
Briel mengangguk dalam dekapan itu. "Terima kasih, Yah."
Mereka melepaskan pelukan mereka, lantas Tere yang mendekat ke arah Briel, memeluk anaknya itu. Sang ibu tak mampu berkata. Ia hanya bisa menangis sembari mengelus halus punggung Briel.
"Tenanglah Bund, aku baik–baik saja. Kita semua akan baik–baik saja," ucap Briel.
Kalimat yang dilontarkan untuk Tere sebenarnya merupakan kalimat penenang untuk dirinya sendiri yang saat ini masih kehilangan. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya itu akan dilalui dengan baik–baik saja.
"Iya, Bunda harap demikian." Tere bergumam lirih lantas melepas dekapan itu.
Sementara itu di sisi lain, Edi menatap mereka dengan senyum yang mengembang tulus di kedua sudut bibirnya, meski hanya tipis namun terlihat.
Briel mendekat ke arah Edi. Dia meraih tangan Edi dengan kedua tangannya. Ia mencium tangan Edi dengan mata yang terpejam. Cukup lama hingga membuat Edi keheranan.
"Heii kamu kenapa, Nak?" Sebelah tangannya meraih pundak Briel lantas menepuknya pelan.
"Maaf Pa, maaf. Aku tidak bisa menjaga anakmu. Maaf ... Bahkan dia sekarang terbaring koma karena aku terlambat membawanya kembali. Maaf ..."
"Hmm ..." Edi tersenyum sejenak. "Sudahlah. Ini bukan salahmu. Semuanya terjadi begitu saja."
Edi merangkul tubuh gagah berhati rapuh itu, berusaha memberikan sedikit kelegaan di hati Briel.
Sedangkan di sisi lain, tanpa sadar Runi menyenderkan kepalanya pada lengan atas Adam bagian samping. Adam pun juga merangkul Runi dari samping, layaknya sepasang kekasih yang saling menguatkan. Mereka menatap sendu pada bos sekaligus sahabat mereka itu.
"Bim, apa perlu kita berpelukan?"
Hendri menatap Bima dengan tatapan ngeri.
Begitupun juga dengan Bima. Ia menelisik tubuh Hendri dari ujung atas hingga ujung kaki. Tiba tiba saja ia menggelinjang.
"Hihh amit amit. Ngeri sekalii... Tidak perlu!"
__ADS_1
Mereka saling memalingkan wajah mereka sembari bergidik ngeri. Lantas perhatian mereka teralihkan pada Runi dan Adam yang masih berada dalam posisi yang sama.
"Widihh ... Ngakunya musuh, eh taunya saling acuh," sindir Bima keras namun dengan suara yang lirih.
Seketika mereka tersadar. Baik Adam maupun Runi reflek langsung menjauh. Mereka saling mengibaskan tangan mereka seperti baru saja memegang kuman.
"Ya gitu Bim, gengsi digedhein," ucap Hendri yang lama–lama gemas dengan tingkah Adam dan Runi.
"Gengsi? Najiss!!!" ucap mereka berdua bersamaan.
Ternyata ucapan yang terlontar dari bibir mereka mengalihkan perhatian Briel, Edi, Frans, dan juga Tere. Seketika mereka menoleh ke arah dua pasangan tom and jerry itu.
Briel dan Edi tertawa kecil, Tere menggeleng heran dengan senyuman geli di bibirnya.
"Lama–lama kalian Ayah nikahkan, iya kan Bun?" Frans tidak bisa menahan ucapannya. Ia menangkap rasa yang tersembunyi di balik kerasnya hati mereka berdua.
"Iyap betul, Yah. Lagian kalian sudah cukup umur untuk menikah. Apalagi Adam." Tere mengiyakan.
"Sekalian Yah, Bun, bawa penghulu ke sini." Briel menimpali.
Adam dan Runi menjadi salah tingkah karena ulah mereka.
"Aihh ngomong apa kalian. Dahlah aku mau memarkirkan mobil. Bye!"
Adam memutuskan pergi dari sana. Memang benar mobilnya itu belum terparkir sebagaimana semestinya namun ia pergi dari sana lebih tepatnya untuk menghindar.
Susana yang semula menegangkan, mengharukan, dan menyedihkan yang berbaur menjadi satu, kini ulah Adam dan juga Runi mencairkan suasana itu menjadi lebih tenang walau kegundahan masih bersarang
🍂
NB: Acuh dalam KBBI artinya peduli
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕