Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
65. Seutuhnya Bukan Setengahnya


__ADS_3

Briel menyibakkan rambut yang menutupi wajah Gea. Ia melihat dahi Gea yang memerah, bahkan seperti ada penggumpalan darah luar di sana. Lalu ia membopong Gea. Briel membawanya Gea kembali ke kamar dan menidurkannya di ranjang miliknya. Gurat kepanikan terlihat jelas di wajahnya.


Ia mengambil benda pipih canggihnya di atas nakas. Ia menghubungi seseorang agar segera datang ke apartemennya. Ia berjalan mondar–mandir ke sana ke mari, seperti seterikaan yang menyeterika baju yang teramat kusut.


"Dasar ceroboh!" omel Briel.


Di balik omelannya itu Briel peduli. Ia menyimpan kekhawatiran pada Gea. Ia khawatir kepala Gea cidera parah. Ia gelisah menunggu kedatangan orang itu.


Brie memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Sebentar lagi pasti dokter yang ia panggil pasti datang. Gea harus segera memakai bajunya, sedangkan Gea tak kunjung sadar. Gea tak akan bisa memakainya sendiri jika kondisinya saja masih pingsan.


"Haihh … bagaimana ini? Apakah harus aku yang memakaikan baju untuknya?"


"Tapi mau bagaimana? Siapa yang bisa kumintai tolong? Aku tak punya saudara perempuan. Bunda...?"


Briel menggeleng dengan rencana yang ia pikirkan sendiri.


"Tidak bisa tidak bisa."


Tere masih ada di rumah sakit. Jaraknya cukup jauh dan pasti dokter yang Briel panggil sudah sampai terlebih dahulu. Briel berjalan ke sana ke mari lagi sambil memegang dagunya.


"Sudahlah. Biar aku saja yang mengganti! Urusan marah–marah nanti dipikirkan di akhir saja."


Briel memutuskan untuk memakaikan baju untuk Gea. Ia tak rela membagi tubuh Gea dengan orang lain, bahkan hanya dengan melihat saja.


Briel mengambil satu stel pakaian Gea. Ia menyibakkan selimut Gea. Sungguh ia harus menahan hasratnya yang menggebu–gebu.


"Ayolah Briel … ini bukanlah waktu."


Dengan perjuangan yang tidak mudah, Briel berhasil memakaikan baju ke tubuh Gea bertepatan dengan suara bel masuk dari pintu depan.


Briel berjalan membukakan pintu itu. Benar dugaannya. Seorang pria berkemeja biru laut dengan jas kedokteran yang ia tenteng di tangannya, berdiri di depan Briel.


"Masuklah."


🍂


"Bagaimana keadaannya, Sam?"


Briel memastikan keadaan Gea setelah Sam usai memeriksa luka di dahi Gea.


"Tidak masalah. Ini hanya luka luar saja. Kita obati saja, nanti dia juga sembuh."


Sam memberikan pertolongan pertama pada luka di dahi Gea dengan telaten. Briel memperhatikan kegiatan Sam itu, tanpa mengalihkan pandangannya dari sana. Tak berapa lama, Sam telah selesai. Dia mengemasi alat–alat yang ia gunakan.


"Tapi kenapa ia masih pingsan?" tanya Briel.


"Ini bisa saja terjadi pada seseorang ketika kepalanya terbentur. Ini termasuk trauma kepala ringan. Dan salah satu efeknya adalah tidak sadarkan diri."


"Apakah perlu dilakukan CT scan?" Briel khawatir terjadi cidera yang serius seperti geger otak pada Gea. Ia tak mau hal itu terjadi.


"Untuk sekarang tidak perlu. Tapi jika setelah bangun nanti dia sering muntah, mudah tak sadarkan diri, cara berkomunikasinya juga terganggu nanti kita bisa melakukan CT Scan."


Briel mengangguk mengerti. Dia menatap Gea yang masih terbaring di sana. Ia menghela napas kasar.


"Baiklah, makasih, Sam."


"Oke Bri."


Mereka berdua saling terdiam. Setelah sekian lama, mereka baru memiliki waktu bertemu cukup lama di hari ini. Waktu di rumah sakit, mereka berdua memang bertemu, namun mereka tak mempunyai waktu untuk bicara berdua.

__ADS_1


"Siapa dia Bri?"


Baru kali ini ia melihat Briel bersama dengan seorang wanita. Sam juga penasaran dengan wanita yang tengah terbaring itu. Karena yang ia tahu, Briel akan dijodohkan dengan putri dari Keluarga Angkara.


Briel enggan menjawab. Ia ragu untuk mengatakannya. Pasalnya dari pihak dia baru Adam yang mengetahui semuanya.


"Apakah kamu percaya kalau aku bilang dia istriku?"


Briel menatap Sam.


"Percaya tidak percaya sih, setelah melihat kejombloan ngenesmu yang tiada akhir, sampai–sampai Ayah sama Bunda ingin menjodohkanmu," gurau Sam. Ia tersenyum geli mengingat kejombloan Briel.


Briel menajamkan matanya. Ia tersinggung dengan ucapan Sam. Briel meninju lengan Sam cukup keras.


"Sialan kau, Sam."


Briel juga tertawa. Dia akui, bahwa tidak ada yang pernah melihatnya mencintai seseorang. Bahkan bersanding dengan seorang wanita pun sangat jarang. Tidak heran pula jika Sam sampai berkata demikian.


"Baiklah, aku pamit dulu Bri. Sudah larut juga."


"Haihh … cemen kau Sam. Baru juga jam berapa ini? Sudah mau pulang saja," ejek Briel.


"Bukan cemen. Tapi aku tidak mau mengganggu kau berduaan dengan yang tengah berbaring. Aku gak rela disamain jadi setan di antara kalian berdua. Gak ada setan yang bisa setampan diriku."


"Sial …!"


"Ya sudah sana pergi!" usir Briel kemudian.


Briel mengantar Sam sampai pintu depan.


"Jangan lupa jika hari berikutnya ada gejala yang aneh, segera bawa dia ke rumah sakit."


Briel memutar bola matanya malas.


🍂


"Akkhh ... sakit juga kepalaku," ucap Gea tatkala ia terbangun. Ia menekan–nekan dahinya.


"Hei! Jangan tekan–tekan lukamu!" seru Briel. Ia melihat Gea menekan dahinya sendiri tatakala ia masuk lagi ke dalam kamar.


Gea nyengir, meperlihatkan gigi rapinya tanpa dosa.


Seketika saja Gea teringat sesuatu.


"Bukankah aku tadi tak berpakaian? Kenapa sekarang pakaianku lengkap?" gumamnya lirih.


Gea memegangi tubuhnya sendiri.


"Aaaa... Siapa yang gantiin aku, Bang?" tanya Gea panik.


"Aku."


"Abang …!"


"Kenapa? Kamu istriku. Bahkan seharusnya aku meminta hakku," jawabnya santai.


Gea melongo. Ia ingin berkata–kata pedas, namun ia urungkan karena dengan cepat Briel memotong ucapan Gea sebelum banyak kata yang terlontar dari mulut Gea.


"Memangnya kamu mau tubuhmu dilihat oleh dokter yang memeriksamu tadi?"

__ADS_1


Wajah Gea tertekuk sempurna. Bibirnya telah maju beberapa centi dari yang seharusnya. Ia menggeleng.


"Ya sudah, terima saja!"


"Lah itu juga cuma modusmu, Bang!" sungut Gea.


Briel mengabaikan ucapan Gea. Ia mengambil sepotong roti dan segelas air untuk Gea sebagai pengganjal perut sebelum memakan obat.


"Apa yang kamu rasakan?"


"Sedikit pusing sih, Bang."


"Ya sudah ini makan, lalu makan obatnya, istirahat."


Gea mengangguk. Ia melakukan apa yang diperintahkan Briel.


🍂


Cukup lama Gea terlelap di dalam tidurnya. Netra Briel masih setia terbuka sambil berjaga. Ia ingin menjaga Gea di sepanjang malam ini. Ia duduk di sofa tempat biasanya ia tidur.


"Eeemm … heehh …"


Tubuh Gea basah oleh keringat dingin yang membanjiri. Kepalanya memiring ke kanan dan ke kiri. Briel mendekat ke arah Gea. Ia mencoba untuk membangunkan Gea.


"Hahh …"


Gea bangun dari mimpi buruknya. Ia menangis. Dengan sigap Briel mendekapnya, menenggelamkan Gea dalam kehangatan yang ia berikan. Gea menikmati setiap hangatnya dekapan itu.


Briel menjauhkan tubuh Gea dari tubuhnya. Ia menatap wajah Gea dalam–dalam. Ia memegang pipi Gea dengan lembut. Mengusap perlahan air yag luruh itu.


Gea menatap Briel balik. Ia terpana oleh ketampanan Briel. Alis tebal, mata setajam mata elang, hidung yang mancung bagaikan menara yang menjulang, dengan rahang tegas yang dihiasi oleh jambang halus, membuat Briel terlihat semakin dewasa dengan wajah yang nyaris sempurna.


Briel mengecup semua bagian wajah Gea dengan lembut. Gea menerima semua itu tanpa penolakan. Ia menikmati setiap sentuhan yang Briel lakukan. Gea memejamkan matanya.


Air mata yang tersisa itu Briel kecup tanpa adanya rasa jijik.


"Bolehkah?"


Gea menggangguk. Ia mempersilahkan Briel.


Lampu hijau telah dinyalakan. Briel melakukan apa yang ia inginkan, mengambil haknya yang belum sempat ia ambil.


Malam ini, Gea telah resmi menyandang kepemilikan Briel. Begitupun juga dengan Briel. Masing–masing telah saling memiliki seutuhnya, bukan hanya setengahnya.


🍂


//


Asa kaborr wkwk bagi yang merasa kurang hot, bayangkan sendiri saja ya hihihi🤭 Asa mentok beneran deh. Karena poin penting dari cerita Gea dan Briel bukan terletak pada adegan uwuw, tapi ada sesuatu tersendiri yang ingin Asa sampaikan lewat cerita mereka 😁


Sekian dan terimakasih. Jika ada yang kecewa Asa minta maaf 🙏🙏 kalau nggak ada ya syukurlah 😄 😁


🍂


//


Happy reading guys


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2