
Gea berjalan dengan was–was mengikuti pengawal yang mengantarnya. Ternyata jarak antara ruangan untuk karyawan biasa dengan orang pilihan seperti Mark sangatlah berbeda. Ruangan itu terletak lebih terpisah dari yang lainnya. Gea berjalan sambil mengamati ukiran–ukiran yang menghiasi dinding lorong. Sungguh sangat megah dan mengandung nilai seni.
Tidak ada percakapan saat mereka berjalan dengan formasi depan belakang. Hingga tibalah mereka di depan suatu ruangan.
"Sudah sampai, Nona. Silahkan masuk! Tuan Mark telah menunggu Anda di dalam," ucap pengawal itu dengan hormat.
Gea tersenyum pada pengawal itu. "Terimakasih." Gea membungkukan badannya.
Gea berjalan masuk ke ruangan Mark sedangkan pengawal itu berlalu dari depan ruangan tatkala melihat Gea sudah masuk ke dalam ruangan sang tuan.
Di dalam ruangan, Gea melihat Mark tengah berkutat dengan dokumen di tangannya. Raut wajahnya sangat serius hingga membuat auranya sangat pekat, aura yang membuat suasana di dalam ruangan itu terasa menegangkan.
"Permis, Tuan!" sapa Gea dengan hormat.
"Ya, tunggu sebentar!" ucapnya tanpa memandang Gea.
Mark masih sibuk menandatangani beberapa dokumen yang harus ia tanda tangani. Setelah itu ia meletakkan bolpoint dan menutup lembaran dokumen itu. Ia beranjak dari duduknya.
Kemudian ia mengambil benda pipih canggihnya lalu menelpon seseorang di seberang sana. Gea mengamati gerak–gerik atasannya itu. Ia menduga bahwa yang Mark telepon itu bukan orang sebarangan.
"Baik, Tuan, saya akan segera ke ruangan Anda."
Kata–kata itu terucap sebelum orang di seberang sana mengakhiri panggilan itu.
"Ikuti saya!"
Mark berjalan dengan sikapnya yang dingin. Gea merasa berjalan bersama hantu yang menjelma menjadi manusia. Aura dingin Mark rasanya begitu menusuk sampai ke tulang. Gea mengikuti Mark di belakangnya sambil sesekali menggosok lengannya yang terasa dingin karena pengaruh aura seorang Mark.
"Mau dibawa kemana lagi ini? " batin Gea. Walaupun demikian, ia tetap mengikuti Mark di belakangnya.
Beberapa saat mereka berdua berjalan menyusuri lorong. Dinding–dinding lorong itu semakin lama semakin mempunyai nilai estetik tersendiri. Bahkan di sana banyak tanaman hijau yang membuat mata segar. Hingga sampailah mereka di sebuah ruangan yang lebih besar dan tentunya lebih mewah.
"Astaga ruangan siapa lagi nih? Jangan–jangan ini adalah ruangan CEO yang kemarin mau memanggilku tapi tidak jadi? " batin Gea was–was. Gea menelan ludahnya yang mengering.
Mark mulai mengetuk pintu itu. Tak lama kemudian pintu itu terbuka dengan sendirinya. Sang pemilik ruangan membuka pintu itu hanya dengan kata 'masuk', maka secara otimatis pintu itu akan terbuka sendiri. Jika sang pemilik ruangan tidak berbicara atau tidak mengijinkan masuk, maka pintu itu tidak akan pernah bisa dibuka oleh orang lain.
"Wihh ternyata ruangan CEO di perusahaan ini begitu mewah dan dilengkapi dengan sistem keamanan yang canggih," batin Gea. Ia kagum dengan kemewahan yang disuguhkan di depan matanya. Baru pertama kali ini ia melihat ruangan CEO yang dilengkapi dengan sistem keamanan yang begitu canggih.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan itu. Di sana ada singgasana kebesaran CEO yang membelakangi mereka. Seorang pria tengah duduk di singgasana kebesarannya itu.
"Tuan, saya telah membawanya ke sini," lapor Mark dengan hormat. Ia membungkuk hormat kepada atasan barunya ini.
"Ya, Sekretaris Mark, Anda boleh meninggalkan ruangan ini," ucap pria itu tanpa membalikkan badannya.
"Oo ternyata dia adalah sekretaris di sini " Gea mengangguk–angguk kecil agar anggukannya tak disadari oleh orang yang ada di dalam ruangan itu. Ia baru mengetahui jabatan Mark di perusahaan itu.
"Mohon undur diri, Tuan," pamit Mark. Ia membungkuk lagi lalu meninggalkan ruangan itu, menyisakan Gea dengan CEO baru itu. Gea berdiri kikuk. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Menyapa atau tidak, tetap berdiri atau duduk, atau bagaimana ia pun tak tahu.
__ADS_1
"Tahu apa kesalahanmu?"
Pria itu mulai membuka pembicaraan. Tanpa perlu basa–basi lagi untuk menyapa Gea. Gea langsung disuguhi pertanyaan semacam itu. Saat ia mendengar suara itu kembali, Gea mengingat seperti pernah mendengar suara berat berwibawa itu. Tetapi ia belum mengingat suara milik siapa itu.
"Tahu, Tuan," ucap Gea sambil menunduk. Ia menjawab pertanyaan sang tuan walaupun ia sendiri masih berpikir, suara milik siapakah ini?
"Kamu tahu apa konsekuensinya?"
"Sudah, Tuan, saya sudah tahu."
"Baiklah! Saya tidak perlu repot–repot menjelaskan lagi! Silahkan keluar, pintu masih ada di tempatnya!"
Pria itu tetap tidak membalikkan badannya. Ia tetap dalam posisi membelakangi Gea.
"Nasib–nasib! Akhirnya aku dipecat." Gea mengasihani dirinya sendiri. Ia harus segera mencari pekerjaan yang jauh dari jangkauan papanya.
Tanpa perlu berlama–lama lagi, Gea pamit undur diri. Ia berjalan ke luar. Namun hal aneh terjadi tatkala ia ingin membuka pintu. Pintu itu tidak bisa dibuka. Gea berusaha keras untuk membuka pintu itu. Namun ia tak kunjung bisa membukanya. Beberapa kali Gea menggerutu kesal.
"Kamu tidak akan pernah bisa membuka pintu ini karena pintu ini hanya menurut padaku!"
Suara itu terdengar dari arah belakangnya. Gea berjengit kaget tatkala ia membalikkan badannya. Bahkan ia sampai berteriak tertahan. Sosok pria itu tepat berada di depannya. Gea sampai mundur ke belakang, dan …
Gea memejamkan matanya saat badannya terhuyung. "Wahh terasa seperti terbang …." batin Gea. Ia membuka sedikit matanya, mengintip apa yang terjadi.
"Aaaaaa …!" teriak Gea tatkala tubuhnya terlepas dari sesuatu yang mengaitnya. Dengan sigap, tubuhnya kembali seperti melayang. Kemudian ada tangan yang menariknya untuk kembali berdiri dengan tegak.
"Hah … syukurlah."
Tawa renyah itu terdengar di pendengaran Gea. Tawa itu mengglegar di ruangan itu. Gea memandang pria itu dengan tatapan kesal.
"Sudah kuduga!" gumamnya lirih.
"Hahahaha kamu kena prank, Gey!" Pria itu masih tertawa sampai perutnya sakit karena terlalu lama tertawa.
"Abaaaaaanngg!!"
Gea sangat kesal dengan Briel. Yeah … benar. Dia adalah Briel, sang suami yang telah menjahilinya. Bibir Gea benar–benar mengerucut. Ia tidak habis pikir dengan tingkah Briel yang selalu senang melihat dia berada di dalam jebakannya.
Briel semakin tertawa lebar. Dia sangat bahagia ketika ia berhasil menjahili Gea. Ia mengingat bagaimana wajah Gea yang tidak mau dipecat karena ucapan Mark. Ia menikmati wajah Gea yang ketakutan karena ulah jahilnya. Ia sudah memantau bagaimana ekspresi Gea dari CCTV yang ada di setiap sudut ruangan. Ia telah merencanakan semuanya tatkala ia tahu bahwa Gea akan datang terlambat saat bekerja.
"Bang, buka pintunya! Kan tadi Abang yang memecatku dan menyuruhku keluar!"
Setelah apa yang terjadi, Gea baru sadar kalau pintu itu hanya bisa membuka dan menutup sesuai perintah sang pemilik ruangan. Pintu itu sudah di desain dengan sistem otomatis suara yang telah diatur hingga pintu itu hanya bisa mengenali suara sang pemilik ruangan.
"Hahaha bercanda, Gey. Sinilah, duduk dulu!" ajak Briel sambil berusaha membawa Gea untuk duduk di sofa yang ada di ruangan Gea.
Gea masih berdecak kesal. "Gak mau ah! Lepasin, Bang!" ucap Gea sambil berusaha melepas tangan Gea pada pundaknya.
__ADS_1
"Ayolah! Saya tahu kamu pasti punya pertanyaan yang mau kamu tanyakan setelah saya ada di sini."
"Saya tidak akan memecatmu begitu saja, Gey."
"Baguslah!" ketus Gea. Briel hanya tersenyum sambil menggeleng gemas.
'saya' lagi? Itulah yang ada dibenak Gea. Ia masih mengingat perkataan Briel semalam. Briel mengucap kata ganti dirinya dengan kata 'aku', namun sekarang ia mendengar kata 'saya' lagi.
"Apakah aku yang ngigo? " batin Gea.
"Jangan tanyakan kenapa saya memakai kata 'saya' dan bukan 'aku'. Karena saya tak akan menjawabnya!"
Gea melongo mendapati Briel yang seakan tahu apa yang ia pikirkan.
"Tertulis jelas di dahimu," ucap Briel santai.
Dengan bodohnya Gea menyahut gawai Briel lalu mengaca di layar gawai yang mengkilap. Ia mengamati dahinya berulang kali untuk melihat apakah benar yang dikatakan Briel. Tingkah Gea mengundang Briel untuk kembali tertawa. Briel heran, kenapa tingkah Gea begitu polos dan lucu? Memangnya ada bolpoint otomatis yang bisa menulis sesuatu di dahi manusia?
Pukk
Badan Briel tertimbuk bantal yang dilempar Gea. Namun hal itu tak mebuat tawanya menyurut. Ia berusaha untuk meredam tawanya. Gea memandang Briel dengan kesal
Beberapa waktu, kesunyian melanda di antara mereka berdua. Belum ada yang ingin memulai pembicaraan lagi. Kemudian Gea menatap Briel. Ia bertanya dengan menggunakan sorot matanya.
"Sesampainya di rumah akan saya jelaskan," jawab Briel cepat.
"Ahh ya sudahlah! Saya mau kembali ke pekerjaan saya, Tuan CEO yang terhormat."
Briel terkekeh. Gea bangun dari duduknya, begitupun juga dengan Briel.
"Buka!" ucap Briel.
Seketika pintu itu terbuka. Gea pun segera keluar dari ruangan Briel. Ia kesal sekaligus lega. Kesal karena ulah Briel, namun ia lega karena ia masih bisa bekerja di sini.
"Awas, Bang, tunggu pembalasanku," seringai Gea sembari keluar dari ruangan Briel. Ia masih belum terima dengan keusilan Briel yang membuatnya kalang kabut karena kecemasan.
🍂
//
"Untung cakep, Bang 😂 kalau nggak, udah kubuang ke laut," batin Gea yang sesunggunya. Eh Asa aja deh 🤣🤣
🍂
//
Happy reading guys
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕