
Matahari telah beranjak naik, namun ruangan itu masih diterangi dengan lampu. Cahaya sang surya tak bisa menerobos masuk ke dalam kamar. Semua akses masuk tertutup rapat. Dua insan masih tertidur pulas di sana. Mereka menikmati indahnya pagi hari bersama di hari libur setelah cukup lama mereka terpisah.
Sepasang mata pun mengerjap. Dalam hitungan detik, ada wajah tampan seorang pria di hadapannya. Gea memandangi wajah itu dengan seksama. Semuanya terlihat sempurna. Seulas senyum terlukis di wajahnya.
"Sesempurna ini wajah suamiku. Tegas, dewasa. Namun di balik semuanya itu ada kelembutan yang mengalir di setiap detiknya bersamaku." Gea bermonolog lirih.
"Morning kiss."
Suara serak itu bergema di telinganya. Dengan cepat Gea kembali menutup matanya sebelum tertangkap basah. Namun ternyata anggapannya salah. Briel mengulas senyum tipis melihat wajah gelagapan istrinya itu.
"Tak usah berpura–pura. Kamu tahu sebenarnya aku tahu," ucap Briel tidak begitu jelas karena ia masih malas untuk membuka kelopak matanya. Ia mendekatkan badan dan wajahnya ke arah Gea. Sedangkan Gea merutuki kebodohannya yang terlena akan wajah tampan dari suaminya yang tengah tertidur.
"Haihh … pakai acara tertangkap basah lagi!"
Perlahan Gea membuka matanya kembali. Ia menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Morning kiss."
"No," tolak Gea.
"Kenapa?"
Gea melipat bibirnya ke dalam sembari menggeleng cepat.
Tanpa basa basi lagi, Briel menciumi seluruh wajah Gea dengan cepat. Gea pun tertawa menahan rasa geli yang menjalar di seluruh wajahnya.
"Udah ah Bayang …. Geli tauk!" ucap Gea sembari menahan wajah Briel. Gelak tawa terdengar dari mulut Briel. Begitupun juga dengan Gea. Briel kembali ke posisinya semula.
"Bang,"
"Hem?"
"Kenapa kamu menyembunyikan identitasmu sebagai pemilik FTA Entertainment?" tanya Gea. Ia penasaran dengan alasan Briel melakukan itu semua.
"Kamu sendiri kenapa juga melakukan demikian?"
Gea menatap manik netra Briel lekat. "Karena aku tak mau semua orang tahu. Karena aku dulu juga masih berumur belasan tahun. Dan rasanya aneh saja menjadi pemilik sebuah butik. Itu juga hadiah dari mendiang kakek. Kakek sendiri yang membantuku untuk mendirikan semua itu, dan juga Kak Hendri."
"Kalau kamu?" tanya Gea kemudian.
"Tidak tahu mengapa. Hanya saja, semua orang sudah mengenalku sebagai pengganti ayahku. Maka dari itu aku sudah bertekat, ketika aku mempunyai perusahaan sendiri, aku akan menyembunyikan diri dibalik orang–orang kepercayaanku."
Gea mengangguk ringan.
"Dahlah. Aku mau keluar terlebih dahulu," ucap Gea kemudian bangun. Ia berjalan ke luar kamar.
"Bubu …. Dimanakah dirimu Bu …."
Lagi–lagi keluar kamar, Gea mencari keberadaan Bubu. Kemarin dia tak menemukan di mana Bubu berada. Dari kemarin Briel juga tak tahu apa yang dicari Gea. Saat ini dia mengikuti Gea yang sesekali membungkukkan badan, bahkan melihat ke kolong–kolong.
__ADS_1
"Siapa sih Bubu itu, Gey?" tanya Briel penasaran. Ia masih belum mengetahui siapa itu Bubu. Bahkan ia penasaran kenapa Gea mencarinya sampai di kolong–kolong.
"Apa istimewanya dia?" gumam Briel dalam hati.
"Haih Bayang, masak udah lama Bubu tinggal di sini masih tidak tahu saja," gerutu Gea. Ia membungkukkan badannya lagi ke kolong meja.
"Atau jangan–jangan ia mati karena tidak Bayang beri makan?" tuduh Gea tiba–tiba. Tatapannya tajam menyelidik, berusaha menelisik suatu kebenaran di dalam diri Briel.
Briel mengernyit. Ia masih belum paham tentang apa yang dimaksudkan Gea.
"Apa maksudmu Geyang? Siapa Bubu? Kenapa harus diberi makan?" tanya Briel.
Gea melayangkan tatapan tajamnya, bagaikan pedang yang menghunus Briel.
"Seram juga nih istriku kalau tengah kesal seperti ini. Uluh–uluh ... menggemaskan. Tapi kenapa kenapa?" batin Briel menciut. Banyak pertanyaan timbul di dalam benaknya.
"Abang gak beri makan Bubu?" tanya Gea setengah berteriak. Ia kesal melihat wajah Briel yang seperti kebingungan. Gea menghela napas dalam lalu mengeluarkannya kasar.
"Abang tahu gak siapa Bubu?"
Briel hanya menggeleng. Ia benar–benar tak mengetahuinya. Gea menepuk dahinya sendiri. Ia tak habis pikir dengan suaminya itu.
"Astaga … bukankah makhluk hidup di sini cuma ada tiga? Aku, Bayang, sama Bubu? Ahh … Bayang ternyata gak pinter!" ejek Gea kesal.
"Siapa? Kucing?"
"Iya …. Tu tahu!" jawab Gea malas.
"Apa?!"
Seketika Gea membulatkan matanya. Bahkan matanya hampir memerah.
"Bayang, kenapa kamu tega buang kucingku!" rengek Gea. Bahkan matanya mulai berkaca–kaca. Tangannya menggoyangkan lengan Briel.
Briel menghela napas. "Iya … Dia kubuang dari ruangan ini. Tapi dia kupindahkan di ruangan sebelah. Aku kurungkan biar gak berkeliaran. Puas?" Briel berusaha memberikan pengertian kepada Gea.
"Makasih Bayang …!"
Seketika wajah Gea kembali cerah. Dengan cepat Gea mengecup pipi Briel. Ia langsung berlari ke ruangan yang dimaksudkan Briel. Di sana ia melihat kucing oren yang tertidur di dalam kandang.
Gea membuka pintu kandang itu. Ia membangunkan kucing itu. Dengan malas, kucing itu pun membuka matanya sedikit demi sekdikit. Gea membopong kucing itu ke dalam gendongannya. Ia mengelus–elus bulu kucing itu.
"Astaga Bubu … ku kira kamu sudah mati kelaparan. Ternyata kamu masih hidup selama ku tinggal pergi," ucap Gea dengan sayang.
Briel yang menyusul Gea pun geleng–geleng melihat kelakuan Gea. Ia tak berani mendekat terlalu dekat. Ia geli dengan kucing.
"Siapa yang beri makan dia waktu aku pergi?"
"Orang suruhan yang biasa mengurus rumah ini."
__ADS_1
Gea hanya mengangguk ringan mendengar jawaban Briel.
"Sudah puas?" ucap Briel dari ambang pintu.
"Belom!" jawab Gea ketus.
Jujur, dia masih kesal dengan Briel karena ia merasa dipermainkan briel. Ia bahkan memalingkan wajahnya ke arah lain sembari mengelus sayang kucing itu. Bubu pun menikmati elusan lembut dari sang empunya. Bahkan matanya kembali terpejam di gendongan Gea.
"Hilih …. Makanya kalau orang bicara itu juga di dengarkan sampai selesai. Jangan main potong dulu."
Gea mengabaikan perkataan Briel. Hal itu membuat Briel semakin gemas dengan Gea. Bahkan Gea membelakangi Briel.
Tiba–tiba saja, ide jahil terlintas di pikirannya. Ia tersenyum usil. Dengan cepat, ia berlari ke arah Briel dengan membawa kucing itu. Dengan lekas pula Briel berlari karena Gea mengejarnya. Mereka bermain kejar–kejaran di pagi hari.
"Bayang, capek!" ucap Gea dengan napas yang tersengal. Begitupun juga dengan Briel. Briel membungkukkan badannya untuk mengambil napas.
"Bayang, cobalah untuk mengelus kucing ini sejenak," pinta Gea.
Briel pun menggeleng cepat. "Tidak mau!"
"Kenapa? Lucu loh ...."
"Gelilah!"
Gea pun tertawa. Ia berlari mendekat lagi ke arah Briel. Lagi–lagi Briel berlari ke dalam kamar. Ia masuk ke dalam kamar mandi. Melihat Briel menghilang di balik pintu, Gea pun hanya mengedikkan bahunya.
"Ya sudahlah …. Bu, ayok kita kembali ke kandang …."
Gea membawa kucing itu dan memposisikan di tempat semula.
🍂
//
Hai semuaa ... kembali lagi bersama Asa 🤭
Terimakasih atas semua dukungannya 🤗
Dan sembari menunggu Asa up, kalian bisa mampir dulu ke karya baru kakak online Asa di bawah ini ...
🍂
//
Happy reading guys,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕