
"Bang, kita belum belanja buat kebutuhan harian kita, Bang," ucap Gea pada Briel yang tengah mengambil air putih di dapur. Gea melihat kulkas itu masih kosong tatkala membuka kulkas itu.
Gleg gleg
Briel menenggak beberapa teguk air putih. Air itu menyegarkan tenggorokan Briel. Ia menoleh ke arah Gea dengan masih meminum air putih yang ia ambil. Pipinya yang menggembung menambah daya tarik tersendiri di mata Gea.
Plek
Gea menepuk pipinya dengan tangan. Ia menyadarkan dirinya agar tidak mudah terpesona dengan pria di hadapannya ini. Briel menatap Gea dengan heran.
"Kenapa kamu, Gey?" tanya Briel sambil menyipitkan matanya.
"Aku ter– ada nyamuk, Bang yang nemplok di pipiku!" Gea meralat ucapannya dengan cepat. Ia akan malu kalau sampai tertangkap basah, tatkala memperhatikan Briel diam–diam dan terpesona padanya. Padahal ia hanya tidak tahu kalau Briel sudah mulai terpesona pada Gea bahkan malah lebih awal. Hanya saja Briel mampu menyembunyikan perasaan itu dengan baik, tak seperti Gea yang terlihat lebih kentara.
"Yakin? Benar? Bukan terpesona pada saya?" goda Briel.
"Ya–ya enggaklah. Kenapa juga aku harus terpesona sama Abang?"
Saat ini muka Gea memanas. Briel dapat melihat jelas rona merah di wajah Gea. Briel tertawa senang mampu menggoda Gea hingga Gea tersipu malu.
"Lagi pula terpesona pun tak apa Gey. Saya tetap suamimu, bukan suami orang lain." Briel masih tertawa. Hal itu membuat Gea semakin malu.
"Ahh udah ah, Bang. Kenapa malah ganti topik sih? Kan topik kita bahan makanan? Kenapa jadi bahan candaan sih yang kita bahas?" ucap Gea kesal.
"Kamu Gey yang memulai, bukan saya," jawab Briel santai. Ia menenggak lagi air putih dalam gelas itu hingga tandas.
"Abanglah tadi yang mulai! Kan aku cuma nepuk pipi karena ada nyamuk!" kilah Gea lagi.
"Kamu, Gey," ucap Briel santai sambil menyenderkan tubuhnya pada meja.
Gea berdecak kesal melihat bagaimana Briel tak mau mengalah padanya. Briel menatap Gea dengan senyum usil.
"Ihhh …. Abang!" Gea merajuk lagi tatkala Briel menghampiri Gea dengan cepat, lalu mengapit kepala Gea dengan ketiaknya.
"Abang! Bau, Bang ...!" Gea berusaha melepas apitan ketiak Briel. Namun usahanya sia–sia karena tenaga Briel lebih besar dari pada dia. Gea kewalahan menghadapi Briel. Ternyata satu persatu sifat Briel yang hangat sekaligus jahil mulai ditunjukkan padanya. Huhh menyebalkan! Begitulah batin Gea.
"Tidak peduli!" ucap Briel sambil tertawa. Briel menarik Gea ke kamar untuk bersiap–siap tanpa melepaskan apitannya pada kepala Gea. Gea masih meronta–ronta, meminta untuk dilepaskan. Briel tetap berjalan tanpa menghiraukan Gea. Hal itu menjadi suatu hal yang membahagiakan tersendiri bagi Briel. Kebahagiaan ketika bisa menjahili Gea.
🍂
__ADS_1
"Gey, masuklah ke mobil terlebih dahulu. Saya mau mengangkat telepon."
Gea pun mengiyakan perintah Briel. Sedangkan Briel menjauh dari sana. Ia mengangkat telepon itu. Briel mengangguk–angguk tatkala mengetahui informasi yang cukup mengejutkan dari lawan bicaranya. Ia menutup teleponnya dan segera menyusul Gea ke dalam mobilnya.
"Sudah?"
Briel mengangguk. "Maaf lama," ucap Briel sambil mengaitkan sabuk pengamannya.
"It's okay."
Sampailah mereka di pusat perbelanjaan yang ada di kota itu. Gea dan Briel berjalan beriringan. Mereka menggunakan outfit yang serasi. Briel menggunakan kaos putih dengan jaket denim sebagai luaran dan Gea menggunakan kaos putih dengan sling bag kesayangannya.
Usia mereka yang cukup jauh tak membuat Gea terlihat seperti berjalan dengan om–om. Mereka tetap terlihat sebagai pasangan yang serasi, yang mampu membuat orang di sekeliling mereka berdua menatap mereka iri.
Mereka berdua memilih bahan–bahan makanan serta kebutuhan rumah tangga mereka. Tak lupa Gea mengambil beberapa bungkus mie instan dan memasukkannya ke dalam trolley yang Briel dorong.
"No! Tidak ada mie instan!" Briel mengembalikan mie instan yang Gea masukkan ke trolley. Ia tidak mau nantinya Gea terlalu banyak memakan makanan yang banyak mengandung bahan pengawet. Sebenarnya sih tidak apa kalau Gea mengambil dengan jumlah sedikit. Pasalnya Gea mengambil mie instan lebih dari sepuluh bungkus dengan berbagai varian rasa.
"Bang …!" rengek Gea.
"Tidak boleh." Briel menggeleng sambil merapatkan bibir lebih rapat lagi.
"Yahh …." Gea kecewa karena makanan enak yang murah meriah bikin cerah wajah tak bisa ia genggam.
Haihh kenapa sulit sekali bernegosiasi dengan dia sih?
"Empat?" Gea menampilkan wajah puppy eyes yang membuat Briel tidak bisa melarang Gea lagi. Sungguh, Briel gemas dengan wanita di hadapannya ini.
Briel menghela napas berat.
"Ya, bolehlah."
Akhirnya ia mengijinkan Gea untuk membeli mie instan itu. Gea bersorak dalam hati. Matanya terlihat jelas bersinar terang. Ia memasukkan kembali mie itu ke trolley. Ia mendahului langkah Briel dengan hati yang riang. Briel menggeleng sambil tersenyum. Ia tersenyum tulus melihat kebahagiaan sederhana yang Gea rasakan dengan hal kecil yang ia lakukan.
Mereka berjalan ke kasir untuk membayar belanjaan yang mereka beli. Lalu mereka menaruh belanjaan mereka di bagasi mobil. Mereka memutuskan makan malam di sebuah restoran yang tak jauh dari pusat perbelanjaan itu.
"Mau makan apa?" tanya Briel tatkala mereka sudah masuk ke restoran itu. Mata Gea berbinar–binar melihat makanan yang menggugah selera makannya.
"Mau makan …."
__ADS_1
Seketika senyum itu menghilang dari wajah Gea. Ucapan Gea melemah di akhir kalimat, bahkan ia tak melanjutkan ucapannya. Ia mematung tatkala menatap lurus sepasang suami istri yang tengah dilanda kasmaran. Mereka bercanda mesra, saling menyuap dan bercanda ria. Matanya sudah mulai berkaca–kaca, namun ia berusaha menahan tangisnya.
"Gey," panggil Briel. Lagi–lagi ia tak mengerti. Ada apa dengan Gea? Kemudian ia mengikuti arah pandang Gea.
"Pantas!" gumam Briel lirih. Ia akhirnya tahu, kenapa Gea seperti itu.
Merasa ada yang memperhatikan, mereka menoleh ke arah di mana Gea dan Briel berada. Dengan sigap, Briel menarik Gea ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajah Gea pada dada bidangnya lalu ia menutupi lagi kepala Gea dengan jaket yang ia pakai.
"Mas, Mbaknya kenapa?" tanya pelayan itu heran.
Pelayan itu memanggil Briel dengan sebutan 'mas' karena pakaian yang Briel pakai saat ini benar–benar seperti anak muda kebanyakan, bukan seperti orang yang berkuasa.
"Oh ini Mas, dia mimisan. Dia malu kalau ia dilihat orang saat mimisan, Mas."
"Waduh mas, segera bawa pacarnya ke dokter, Mas! Atau perlu saya panggilkan dokter ke sini?"
"Oh … tidak perlu, Mas. Dia hanya kecapaian."
Pelayan itu mengangguk, mengerti.
"Mari, Mas!" pamit Briel. Ia tak mau ditanya panjang lebar oleh pelayan itu. Briel membawa Gea keluar restoran itu sesegera mungkin.
🍂
"Ada apa, Sayang?"
"Aku seperti melihat seseorang, Darling."
Sang istri mengedarkan pandangan, untuk mencari siapa yang dimaksud suaminya.
"Mana?" Sang istri tak melihat siapapun yang dimaksud suaminya di sana.
"Sudahlah. Kita lanjutkan makan kita. Aaa ..." Ia kembali menyuapi istrinya. Dengan senang hati sang istri menerima suapan dari suaminya.
🍂
//
Happy reading guys
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕