Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Gaza


__ADS_3

"Apa apaan ini?!"


Edi melempar amplop coklat beserta kertas putih bertinta hitam itu ke atas meja. Ia tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Pada kenyataannya ia tidak bisa mengetahui siapa itu pria yang bersama membawa putrinya untuk tinggal bersamanya. Yang dapat ia ketahui adalah Gaza. Hanya Gaza.


Dengan hati–hati Bowo yang melihat bosnya itu tenga gusar, ia menyerahkan sebuah flashdisk yang berisi sebuah rekaman.


"Ini, Tuan. Masih ada hal yang harus Anda ketahui. Ini tentang Gaza dan putri Tuan."


"Apa ini?" Edi menatap Bowo dengan tatapan penuh tanda tanya. Tatapannya itu begitu mengintimidasi hingga membuat Bow harus lebih berhati–hati dalam berucap. Salah sedikit saja bisa berujung pada pekerjaannya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa menjelaskannya."


Bowo menunduk hormat. Ia tak berani memberitahukan isi dari rekaman itu. Ia hanya ingin si tuan melihatnya sendiri.


Edi mengambil sebuah laptop yang tidak jauh dar sana. Ia menghidupkannya kembali lantas mencolokkan flashdisk itu. Ia mulai memutar video rekaman itu. Raut wajah Edi terkejut melihat video itu diputar.


"Kurang ajar!! Kau memang pantas mati biadap!!" Edi mengumpati menantunya yang kini telah almarhum. Ternyata Davin memang selicik itu. Pantas saja ia selalu berbuat ulah. Keserakahan adalah akarnya.


Seorang pria yang pernah menjadi anak buah Davin dan melancarkan aksinya untuk menjebak putrinya. Hatinya sangatlah terbakar namun beberapa saat kemudian ada kelegaan di tengah api yang membara.


Kejadian di club malam yang sebenarnya tidak ada satupun kejadian. Lewat rekaman cctv yang Bowo dapatkan, mereka hanya memesan kamar. Dan setelah itu entah apa yang terjadi, Gaza hanya mempotret dirinya bersama dengan putrinya yang sudah ia telanjangi setengah badan. Dela pun tertidur tanpa terusik sedikitpun dengan apa yang Gaza lakukan. Sempat marah, namun ia masih bisa menahannya. Kenyataan yang bisa diterima adalah putrinya tidak pernah ditiduri oleh Gaza. Setidaknya ia tahu jika anak itu memang anak hasil pernikahan dan Gaza tidak menodai anaknya lebih lanjut.


"Apa lagi?"


Tanpa menatap Bowo, Edi menengadahkan sebelah tangannya meminta bukti–bukti yang bisa ia dapatkan. Namun beberapa saat ia menengadah, tak ada lagi satupun barang yang berpindah ke tangannya.


"Maaf Tuan. Hanya itu yang saya dapatkan," ucap Bowo menunduk hormat.


Edi menatap garang ke arah Bowo sedangkan tidak sedikitpun Bowo berani menatap manik mata tajam itu. Ia masih menundukkan kepalanya.


Edi mendesah gusar. Apa yang ingin ia dapatkan tidak dapat ia dapatkan. Hanya secuil saja yang dapat ia ketahui. Ia memijit pelan pelipisnya yang mulai pening. Ingin ia marah, namun sedikit rasa nyeri sudah mulai menyergap dada kirinya. Ia harus menahan emosinya agar tidak meledak atau dia bisa saja kehilangan kesadaran saat itu juga.

__ADS_1


"Heihh ... Sudahlah! Kembali ke tugasmu. Tetap cari tahu dan beritahu saya jika kau mendapatkan info terbaru."


"Baik, Tuan. Saya permisi."


Bowo membungkuk hormat lantas berbalik dan berjalan keluar dari ruangan Edi. Sedangkan Edi sendiri masih bertanya–tanya dalam benaknya. Tentang siapa dan alasan perihal Gaza menjadi topik yang berputar–putar dalam kepalanya.


🍂


Hingar bingar suara musik dan sorak sorai banyak orang bersahut–sahutan, bersatu padu menjadi satu. Di sinilah Gaza kini berada. Ia duduk di sebuah sofa dengan kaki yang ia angkat sebelah menumpangi sebelah kakinya yang lain. Tubuhnya bersandar pada punggung sofa. Kepalanya ia sandarkan hingga sedikit mendongak ke atas. Di antara jari telunjuk dan jari tengah, kini terselip sebatang rokok dengan ujung yang menyala menyisakan sedikit abu. Ujung rokok itu menyala kala ia menyedot pangkal rokok itu.


Sebuah tarikan napas mampu membuat sekumpulan asap rokok itu memenuhi rongga paru–parunya hingga kemudian kepulan asap keluar melewati mulut dan dua lubang hidungnya. Ia menikmatinya berulang kali dengan pikiran yang entah ke mana. Sesekali matanya menerawang ke arah banyak orang yang tengah berkumpul di satu titik, berjoget ria kala seorang DJ seksi tengah beraksi. Ia hanya menatap tanpa ada sedikitpun keinginan untuk bergabung.


Sebotol minuman beralkohol dengan gelas di samping botol itu menjadi temannya di malam itu. Sendiri namun ia menikmatinya. Banyak hal yang membuatnya penat hingga membuat kakinya melangkah lantas menginjak tempat pelampiasan itu.


"Mau aku temani, Tuan?"


Tanpa ia sadari, kini telah ada seorang wanita dengan pakaian berbelahan dada rendah dengan panjang rok yang tidak ada sejengkal orang dewasa duduk di sampingnya. Wanita itu bergelayut manja, membelai lengannya dengan lembut berharap ia menatapnya dengan tatapan menginginkan.


Ia menghirup kembali rokok yang ia pegang "Pergi... Aku ingin sendiri!" usirnya pelan datar namun terdengar tegas. Seketika itu juga asap mengepul keluar. Tidak sedikitpun ia menengok ke arah wanita itu. Jangankan menengok, berdekatan seperti itu saja sebenarnya ia jijik.


Tanpa rasa malu, ia naik ke pangkuan. Ia duduk menghadap wajah berahang tegas itu dengan tatapan yang menggoda. Bibir bawahnya ia gigit sebagai senjata untuk menggoda keimanan lawan jenis. Tidak tinggal diam. Ia menggerakkan tubuhnya di pangkuan Gaza, berharap sang pria berhasrat padanya.


Gaza tersenyum miring, tatapannya kini mulai menatap wajah wanita itu seakan menginginkannya. Wanita itu tersenyum menggoda. Tangannya tak tinggal diam, kini mulai membelai lembut dada bidang Gaza yang masih terbalut kemeja.


"Yes ... Berhasil!!" soraknya dalam hati.


"Aaaaakkhh!!!" Teriak wanita itu. Tanpa diduga, Gaza menarik kencang surai panjang itu. Bahkan hingga membuat wanita itu tersungkur di lantai, tepat di bawah kakinya.


"Menjijikan!" ucapnya sarkas.


Gaza berdiri. Napasnya mulai memburu. Ia tersenyum smirk. Di detik berikutnya, ia memposisikan dirinya sejajar dengan wanita itu. Ia berjongkok lantas kembali menjambak rambut itu hingga beberapa helai rambut wanita itu tercabut.

__ADS_1


"Lepaskan!" pinta wanita itu. Ia menahan rasa pedih di kepalanya. Tangannya berusaha keras melepaskan tangan Gaza dari rambutnya.


Bukannya melepaskan, Gaza malah semakin mengencangkan tarikan itu.


"Aaaakkh..!" erangnya kesakitan.


Gaza berdecak, mengejek wanita itu. Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Hmm kamu menginginkan ini bukan? Bagaimana rasanya? Enak? Nikmat? Atau apa?" tanya Gaza tanpa rasa iba sedikitpun. Bahkan terkesan seperti psikopat. Perbuatan Gaza hanya menjadi tontonan. Tak ada seorangpun yang berani mendekat.


"Lepaskan Tuan. Ampuni saya."


"Lepaskan? Bukankah ini yg kau inginkan. Aku telah menyuruhmu pergi, namun kau memilih untuk tetap tinggal. Dan kau harus membayarnya."


Gaza tersenyum miring. Sungguh ia muak dengan para wanita malam yang dengan sadar menjual dirinya menghempas harga dirinya hanya untuk dijelajahi oleh satu bahkan banyak pria.


"Murahan!!" Gaza melepas cekalan itu hingga membuat kepala wanita itu terbentur meja. Beberapa tetes darah mengalir memberikan warna pada dahi wanita itu.


"Maaf Tuan. Apa yang terjadi?" tanya seorang pria paruh baya yang kini membungkuk hormat di hadapannya.


"Urus dia! Jangan biarkan dia masuk ke sini lagi, atau kamu saya pecat!"


Titah tak terbantahkan telah dilontarkan. Mau tak mau ia harus menuruti apa kata tuannya itu walaupun ia menatap iba wanita itu.


"Wanita yang malang," batinnya kala menatap wanita yang tengah meringis kesakitan itu.


"Beritahu dia! Bersikaplah pada tempatnya."


Gaza masih menatap jijik pada wanita itu. Ia pergi begitu saja meninggalkan tempat laknat itu. Tempat yang sebenarnya telah menjadi rumah kedua baginya. Tempat yang selama ini juga menghidupi dirinya.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕


__ADS_2