Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
55. Sayang


__ADS_3

"Jangan lupa kunci pintunya agar itu kucing tak masuk ke dalam kamar," ucap Briel tatkala Gea masuk ke dalam kamar. Ia takut kalau seandainya kucing itu masuk ke dalam kamar dan ikut tidur dengannya. Membayangankannya saja ia sudah bergidik ngeri. Bagaimana kalau sampai benar–benar terjadi?


"Sudah, Bang. Tenanglah! Dia sudah tidur di kain yang telah kusiapkan untuknya tidur," jawab Gea. yang berjalan duduk di tepi ranjang.


"Bagus!" ucap Briel tanpa mengalihkan pandangannya.


Gea mengamati Briel yang tengah sibuk dengan laptop di depannya. Ia gamang. Ingin sekali Gea mendengarkan penjelasan yang sudah dijanjikan ketika masih di kantor. Kesibukan Briel membuat Gea tidak enak hati jika harus mengganggu Briel dengan pertanyaannya yang menuntut penjelasan. Sebenarnya pun Gea ingin berkenalan dengan mertuanya. Namun ia sendiri belum tahu apa motif Briel yang bisa–bisanya menikahi Gea dengan cara seperti itu. Semuanya masih abu–abu. Ia juga takut ditolak kehadirannya.


"Bang" panggil Gea dengan hati–hati.


"Hem?" jawab Briel dengan tangan yang sibuk menari di atas tombol–tombol kombinasi itu. Matanya masih tak beralih dari layar laptopnya. Wajahnya terlihat cukup serius.


"Em …"


Cukup lama jawaban tak kunjung keluar dari bibir Gea padahal Briel menunggu jawaban itu walau pandangannya masih tetap fokus ke laptop. Ia bisa membagi fokusnya ke beberapa titik jika ia membutuhkannya.


"Baiklah kalau belum mau bicara. Saya selesaikan pekerjaan saya sepuluh menit lagi. Keberatan tidak?"


"Tidak, Bang. Lanjutkan dulu saja, Bang!" ucap Gea dengan senyum menawannya.


Atas lampu hijau dari Gea, Briel menyelesaikan pekerjaannya sedangkan Gea merebahkan tubuhnya di ranjang itu dengan kaki yang masih menyentuh lantai. "Apakah jika suatu saat nanti aku diperkenalkan pada mereka, apakah aku akan diterima, atau malah ditolak? "


Gea membayangkan kemungkinan yang terjadi jika ia bertemu dengan mertuanya. Hal itu membuatnya semakin bertanya–tanya tentang alasan Briel yang menikahinya dengan cara seperti itu.


"Gey," panggil Briel tatkala ia melihat Gea memejamkan matanya.


"Hem?"


"Astaga saya kira kamu sudah tidur."


"Belum, Bang." Gea bangun dari posisi terbaringnya. " Aku hanya memejamkan mata saja, Bang." Gea membenahi rambutnya yang sedikit berantakan.


Briel kembali ke sofanya dan Gea masih duduk di ujung ranjang.


"Kenapa kamu tadi memanggil ku?" tanya Briel langsung.


"Aku ingin menagih janji yang Abang ucapkan tadi sewaktu di kantor." tanya Gea langsung.


"Janji apa?" ucap Briel pura–pura lupa. Ia ingin menjahili Gea lagi.


"Ihhh … Bang …" rengek Gea.


"Kenapa? Saya tidak berjanji apapun, Gey. Memangnya kamu mendengar kata janji dari bibir saya sendiri?" Briel ingin melihat wajah kesal menggemaskannya seorang Gea.


"Ihh … Bang!" rengek Gea.

__ADS_1


"Rupanya umur membuatmu mudah lupa, Bang!" ucap Gea kesal.


Pletuk


Lagi–lagi Briel menyentil bibir Gea. Kata perbedaan umur memang membuatnya sensi jika ia berbicara dengan orang yang lebih muda.


"Sembarangan kalau bicara," ucap Briel gemas. Gea mengelus bibirnya yang lumayan sakit karena sentilan Briel.


"Makanya tepati ucapanmu, Bang!" ujar Gea dengan kesal. Mukanya ditekuk. Tingkah Gea itu mengundang Briel untuk tertawa. Gea mengambil bantal untuk ia lemparkan kepada Briel.


Briel menghadangkan tangannya ke depan untuk mencegah agar Gea tak melempar bantal itu ke arahnya. "Iya–iya" ucapnya sambil berusaha meredam tawanya.


Briel tersenyum. "Saya bukan hanya orang Jerman. Namun saya juga orang sini. Ayah sayalah yang dari Jerman."


"Ada suatu musibah yang menimpa keluarga saya yang membuat kedua orang tua saya cidera. Jadi untuk sementara saya menggantikan posisi ayah saya." Briel menatap Gea sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.


"Apakah kamu tidak memperhatikan nama saya dengan mereka?"


"Memang ada kah?" Gea mengingat–ingat nama Briel.


"Astaga … jangan–jangan kamu lupa nama saya?" telisik Briel. "Coba sebutkan nama lengkap saya!"


"Gabriel …." Gea berusaha mengingat nama Briel.


"Gabriel …?" Briel ingin memastikan namanya lagi untuk mendapat jawaban lebih.


Briel menyentil ringan jidat Gea. Ia tidak menyangka kalau namanya benar–benar tidak diingat oleh istrinya sendiri.


"Astaga ini sebenarnya yang tua siapa sih? Saya sudah dua kali mengucapkan nama lengkap saya. Eh masih saja tidak diingat."


Ucapan Briel itu membuat Gea cemberut karena secara tak langsung Briel menyindir Gea.


"Namanya lupa ya tidak ingat," gerutu Gea lirih yang masih terdengar jelas di telinga Briel. Namun Briel tak memperdulikan Gea.


"Saya beri tahu lagi. Ingatlah seumur hidupmu! Nama saya Gabriel Abraham Yohandrian putra dari Francisco Yohandrian pemilik Mega Raya Group."


Gea hanya mengangguk sambil melafalkan nama Briel dengan gumaman lirih.


"Gey … Apakah kamu mau kita sama–sama jujur dengan dan bagaimana hidup kita?" tanya Briel pelan–pelan. "Jika kita mengenal tanpa tahu siapa pasangan kita sebenarnya itu hambar. Pertemanan saja pasti menanyakan siapa kita. Apalagi jika berpacaran atau bahkan menikah." lanjutnya lagi.


Gea tampak berpikir. Ia gamang harus bagaimana. Sebentar lagi kakak–kakaknya sudah pasti pulang. Jika ia tidak bercerita, ia akan menghadapi semuanya sendiri. Sedangkan pernikahannya benar–benar tidak sesuai dengan yang seharusnya.


"Tidak usah semuanya. Kita mulai pelan–pelan saja."


Sebenarnya Briel sudah mengetahui sebagian besar hidup Gea. Hanya saja Briel ingin mendengarnya langsung dari bibir Gea. Ia juga ingin mengetahui informasi yang tidak bisa dikorek oleh Adam dan orang suruhannya. Rupanya informasi itu benar–benar dijaga ketat tanpa seorangpun yang bisa mengoreknya.

__ADS_1


"Emm … kan waktu itu aku sudah memberitahukan tentang diriku, Bang," ucap Gea masih enggan untuk berkata jujur.


"Itu beda Gea Sayang …"


Kata 'sayang' yang Briel sematkan di akhir namanya membuat wajah Gea memanas.


"Astaga, ada apa dengan diriku? Kenapa dipanggil 'sayang' saja wajahku terasa panas? Ah... Pasti ini wajahku memerah deh. Rupanya kamu sudah gila Gey." umpat Gea dalam hati.


Dan benar adanya. Briel dapat menangkap rona merah dari wajah Gea yang putih. Dia malah khawatir pada Gea.


Briel mendekat ke arah Gea. "Kamu kenapa? Kenapa wajahmu memerah? Apakah kamu demam? Apakah kamu pusing?" Briel melontarkan berbagai pertanyaan itu dari bibirnya. Briel menyentuh wajah Gea untuk mengecek suhu badan Gea. Barang kali Gea demam.


Dada Gea semakin sesak rasanya. Detak jantungnya berdegub lebih kencang dari biasanya. "Ti–tidak, aku tidak papa." Gea beringsut mundur menjauhi Briel.


"Waahh ini tidak bagus untuk kesehatan jantungku."


Diam–diam Gea menarik napas dalam untuk menofmalkan pernafasannya.


"Syukurlah."


"Kala itu kamu baru memberitahukan kenapa kamu menangis. Kamu belum memberitahukan siapa keluargamu. Saya juga ingin mengenal keluargamu."


Seketika raut wajah Gea menjadi datar. Ia tak mau melihat wajah Briel. Ia melihat lurus ke depan. Briel hanya menunggu Gea berbicara.


"Aku tidak punya keluarga. Keluargaku sudah mati."


"Edi Wiyarta," ucap Briel tiba–tiba.


Seketika Gea menoleh ke arah Briel. Gea tersenyum miring. "Sudah tahu kenapa bertanya?" Pertanyaan itu jelas tersirat di wajah cantik Gea.


"Tidak banyak yang saya ketahui. Maka dari itu, saya bertanya padamu," ucap Briel jujur.


Ges menarik napasnya dalam. Baru kali ini ada orang yang berhasil menemukan identitasnya.


"Aku keluar rumah dua tahun silam. Dan seperti yang kamu lihat. Aku tinggal di sebuah rumah kontrakan dengan sisa uang yang ku punya. Untuk menyambung hidup, aku bekerja di perusahaan milik keluargamu."


"Kenapa kamu keluar rumah dan kenapa kamu tidak kuliah?"


Rasa penasaran menggerogoti Briel yang ingin tahu kehidupan Gea. Gea masih diam dan menyiapkan hati untuk menjawab semua pertanyaan Briel.


🍂


//


Happy reading guys

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2