
"Din, yang ke pasar aku atau kamu?" tanya Minah. Di antara dirinya dan juga Dini, Tere memberikan tugas untuk berbelanja. Setiap beberapa hari sekali, sekarang mereka yang melakukan pekerjaan itu.
"Hmm terserah saja siapa. Aku ngikut saja," ujar Dini. Ia meminum air putih yang sedari tadi gelasnya ia bawa. Sejak bangun tidur ia belum sempat memberikan cairan baru ke dalam tubuhnya.
"Oke deh kalau gitu aku saja ya. Kamu jaga duo kembar," ucap Minah memutuskan. Dengan berbelanja ke pasar, ada hal yang membuatnya senang. Ia bisa bertemu dengan orang banyak yang menyegarkan matanya kembali. Tidak hanya melihat ruangan saja. Bukan tidak suka, namun manusia juga membutuhkan refreshing.
Dini mengangguk. "Oke deh"
π
"Aduh lucu lucunya anak anak Ibu," ucap Dini. Ia terbiasa memanggil dirinya ibu di hadapan duo kembar itu.
Rio dan juga Nino bergerak aktif kala Dini mengajaknya berinteraksi. Mereka selalu merespon Dini dengan lincah. Begitupun juga dengan Minah. Mereka juga melakukan yang sama jika minah juga mengajaknya berinteraksi.
Dini mengambil Rio dari tempat tidur bayi. Ia menimang Rio dengan penuh kasih. Sedangkan Nino masih berbaring anteng tanpa sedikitpun menangis. Kali ini, Dini hanya menjaga duo kembar sendirian. Minah pergi sebentar ke kantor pos untuk mengirim barang sedangkan Gea ingin ke atm terdekat. Ia ingin mengambil uang untuk gaji bulanan dua baby sitter nya yang hanya kurang sedikit.
Dini melihat ke arah Nino. Nino masih terjaga. Sementara waktu sudah menunjukan jam tidur untuk bayi. Dini kembali membaringkan Rio lantas menidurkan mereka berdua.
__ADS_1
Sementara itu di lokasi mesin ATM terdekat, antrian begitu panjang. Di sana Gea begitu bosan menunggu. Sudah lima belas menit semenjak ia sampai di sana, antrian masih saja panjang. Berdiri terlalu lama membuatnya capai. Beruntung ia termasuk wanita yang suka dengan hal simple. Jadi hanya dengan sandal jepit saja ia bisa ke manaβmana. Emakβemak anti ribet club. Ia tak bisa membayangkan jika ia adalah wanita pecinta high heels. Pasti kakinya akan sakit berkali lipat.
"Hufttt kalau begini, mending tadi aku ke tempat yang di dekat pasar," keluh Gea.
Ingin sekali ia pindah lokasi. Namun yang ia takutkan ialah adanya kemungkinan yang mengharuskannya untuk mengantre lagi. Ya kalau antriannya pendek. Seandainya antreannya panjang, ia akan menunggu lebih lama lagi.
"Sudahlah di sini saja. Mungkin sebentar lagi," ujar Gea menenangkan diri.
Entah mengapa sesegera mungkin ia ingin sampai rumah. Ia tidak bisa meninggalkan mereka berdua terlalu lama. Andai saja Minah sudah mempunyai nomor rekening, mungkin ia akan lebih memilih untuk mentransfer gaji mereka. Namun buku tabungan Minah masih dalam tahap pembuatan.
Gea bergerak gelisah, menunggu satu giliran membuatnya panas.
π
"Kenapa jantungku berdebar cepat ya? Apa iya aku kena penyakit jantung? Tapi aku masih muda. Mana mungkin sudah kena penyakit jantung," ujar Gea sembari menyetir mobilnya sendiri. Untuk perjalanan yang singkat, Gea sudah meminta ijin untuk menggunakan mobil sendiri tanpa diantar.
"Mungkin jika ada waktu aku harus periksa. Takutnya apa yang di alami Papa juga dialami olehku," gumamnya dalam hati. Debaran itu masih saja cepat, dan cukup mengganggu dirinya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Gea sampai di rumah. Untung saja hari itu tidak macet, sehingga ia bisa sampai di rumah lebih cepat. Gea bergegas menuju kamar duo kembar. Tidak sabar ia ingin menemui mereka.
"Nino ... Rio ... Bunda puβ"
Betapa terkejutnya ia dengan apa yang terjadi. Gurat kemarahan terlihat jelas di paras cantik itu. Ia tidak bisa memaafkan apa yang telah terjadi.
"Baringkan kembali anakku!!"
π
Dudududu sampai jumpa besok π
π
//
Happy reading Gaes,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia π»π»