
"Lama sekali Bang Briel mengangkat teleponnya. Apa aku makan dulu ya es krimnya sebelum semuanya mencair," gumam Gea lirih. Sesekali ia melirik ke arah Briel yang tengah serius menerima panggilan masuk itu.
"Jadi penasaran dengan apa yang Bang Briel bicarakan."
Seketika jiwa kepo Runi tatkala mengintrogasi Gea muncul dalam benak Gea.
"Ah kebanyakan bergaul sama Runi jadi tertular Runi deh."
Gea menggeleng ringan agar tak ikut campur dalam urusan yang tidak melibatkan dirinya.
Gea mulai menyantap es krim di tangannya. Satu cup–nya lagi ia letakkan di sampingnya. Ia menikmati es krim nya di sore hari sembari mengamati anak–anak yang tengah berlarian, saling mengejar dengan tawa bahagia di antara mereka. Tanpa ia sadari, Gea ikut tersenyum takala melihat pemandangan yang ada di depannya.
"Bahagianya mereka ...." gumam Gea lirih. Suara anak–anak itu begitu ramai. Bukannya terganggu, suara anak–anak itu seakan menjadi hiburannya di kala itu.
🍂
"Sudah kamu pastikan, Dam?" tanyanya. Ia masih belum percaya dengan apa yang telah ia dengar dari mulut Adam.
"Tidak perlu dipastikan, Bos. Karena aku ada di sana sewaktu mereka membicarakan tentang pernikahanmu dengan Nona Ayu yang sempat tertunda." Adam berkata jujur. Ia masih ada di sana tatkala mereka memperbincangkan pernikahan Briel dengan Ayu.
🍂
Adam mengingat semua perkataan mereka saat itu.
Seusai makan siang, Frans mengajak semua orang untuk berkumpul di ruang keluarga.
"Istirahatlah terlebih dulu calon besan. Anda membutuhkan istirahat yang cukup!" ucap Kemal. Ia tahu bahwa Frans membutuhkan istirahat lebih agar keadaannya benar–benar pulih.
"Jangan khawatir calon besan. Saya sudah capek beristirahat. Biarlah sesekali saya tidak beristirahat terlebih dahulu."
Perkataan Frans mengundang gelak tawa di ruangan itu.
"Mari kita rundingkan ulang, bagaimana kelanjutan pernikahan anak kita."
Kemal mengangguk. Batinnya berteriak girang. Apa yang ia rencanakan akan terwujud. Adam masih menyimak pembicaraan mereka tanpa mau ikut berkomentar. Ia terdiam seribu bahasa. Ia hanya ingin mendengar untuk mendapatkan informasi yang akan ia sampaikan kepada Briel.
Rasa bahagia menelusup ke dalam benak Ayu. Ia sangat menantikan kapan, dimana, dan bagaimana acara itu akan berlangsung. Secara terang–terangan Ayu menunjukkan rasa itu, tanpa menutupinya sedikitpun.
__ADS_1
🍂
"Dari yang saya dengarkan, acara pernikahanmu akan digelar tiga minggu dari sekarang. Undangan akan disebar seminggu lagi. Acaranya akan dilaksanakan di Eden's Nirwana, hotel bintang 5 milik ayah mertuamu, Tuan Edi Wiyarta."
Jawaban Adam membuatnya lemas. Ia meraup mukanya kasar. Ia tak ingin menjalani pernikahan itu sedangkan ia telah memiliki Gea yang sudah menjadi separuh jiwanya. Berat rasanya jika ia harus meninggalkan Gea. Membayangkannya saja membuat dadanya sesak.
Briel berteriak tertahan untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Gemuruh di dadanya semakin lama semakin kencang. Rahangnya mengeras menahan amarah. Amarah terhadap dirinya sendiri. Ia menoleh ke arah Gea untuk memastikan Gea tetap berada di jangkauannya.
Briel memukul pohon yang ada di sebelahnya, kemudian tangannya bertumpu pada batang pohon itu, dengan kepala yang tertunduk lemas.
"Aku harus melakukan sesuatu," gumam Briel lirih. Ia bertekat untuk mempertahankan Gea untuk selalu berada di sisinya. Adam yang berada di seberang telepon masih menunggu Briel.
Tanpa berucap lagi, Briel mematikan sambungan telepon itu. Ia bergegas menghampiri Gea yang masih duduk di sana sembari menikmati es krim yang perlahan mulai meleleh.
Briel berhenti sejenak. Ia menatap wajah bahagia yang berada tidak jauh di depannya. Wajah yang membuatnya damai. Briel menghidupkan lagi gawainya lalu mengabadikan gambar Gea pada sebuah foto yang ia simpan di galerinya.
"Ada sesuatu yang harus kita selesaikan. Mari kita pergi."
Gea menatap Briel dengan tatapan penuh tanda tanya. Bahkan ia berhenti melakukan aktivitasnya menyantap es krim itu.
Tanpa menjawab rasa penasaran Gea, Briel menarik tangan Gea agar Gea mengikutinya. Satu cup es krim yang telah dibeli tertinggal di sana. Bahkan es krim yang Gea pegang telah terjatuh berceceran di jalan.
"Tetaplah bersamaku, apapun yang terjadi."
Tanpa sadar, Gea menganggukkan kepalanya pelan. Seulas senyum mengembang di wajah Briel. Rasa lega sedikit menyelinap dalam dirinya.
Briel menarik diri lalu mengemudikan mobilnya. Kali ini hanya keheningan yang menyapa. Briel bergulat dengan pikirannya sendiri. Ia hanya fokus mengemudikan mobilnya. Wajah Briel terlihat gusar walaupun ia berusaha untuk terlihat tenang.
Sesekali Gea melirik ke arah Briel. Ia melihat wajah Briel yang tengah gusar. Pertanyaan–pertanyaan mukai bermunculan.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa dia terlihat gusar?" gumam Gea dalam hati sembari menatap Briel dalam. Ia hanya mampu menyuarakan pertanyaan di dalam hatinya. Ia tahu bahwa dalam situasi yang seperti ini, yang bisa ia lakukan hanyalah diam.
🍂
Sementara itu di kediaman utama Keluarga Yohandrian, Keluarga Angkara masih di sana, berbincang ringan dengan calon keluarga baru.
Sesaat Adam kembali hadir di antara mereka.
__ADS_1
"Dari mana, Dam?" tanya Frans. Cukup lama Adam menghilang dari antara mereka. Ia penasaran dengan apa yang Adam lakukan.
"Dari depan, Yah. Mencari udara segar di depan," kilah Adam. Ia tersenyum, menyembunyikan apa yang ia lakukan. Frans hanya mengangguk. Sedangkan Tere menatapnya penuh selidik. Ia mencoba menelisik kebenaran dari mata Adam. Bukannya menghindar, Adam berusaha menatap balik Tere dengan mencoba menyembunyikan kebenaran.
"Sudah, Bun. Anak muda biasa tidak betah jika harus berdiam diri tanpa melakukan apapun," ucap Frans. Tere pun akhirnya percaya. Diam–diam Adam menghela napas lega.
Kemal tersenyum. "Memang benar. Begitupun juga dengan anak saya yang sulung. Ia susah sekali jika harus berdiam diri cukup lama," ucapnya menimpali.
Adam hanya tersenyum sembari menatap Tere. Akhirnya Tere pun mengalah. Mereka melanjutkan perbincangan mereka.
Hari sudah semakin sore. Kemal berpamitan pulang bersama dengan anak dan istrinya. Mereka pergi meninggalkan kediaman Keluarga Yohandrian.
🍂
Mobil Briel memasuki halaman rumahnya. Jantungnya berdebar lebih kuat. Hatinya harap–harap cemas untuk menerima kemungkinan yang ada. Saat ini ia tengah bersama dengan istrinya.
"Rumah siapakah ini? Apakah ini rumah keluarga Bang Briel?" tanyanya dalam hati.
Ia menatap ke sekeliling rumah itu. Rumah itu terlihat sedikit lebih besar dari rumah papanya. Halaman rumah Briel cukup luas. Ia menatap Briel dengan sorot mata yang penuh tanda tanya, seakan netranya menuntut Briel untuk berbicara.
Briel hanya mengulas senyum. Dan senyum itu terasa sekali kegusarannya, meskipun ia berusaha menyembunyikan kegusarannya. Mungkin orang biasa tak akan bisa membaca raut wajah Briel. Namun pengecualian bagi Gea. Ia sudah terlatih untuk membaca air muka lawan bicaranya.
Cukup lama mereka berdiam, hingga ada seseorang yang mengetuk kaca pintu mobil Briel.
🍂
//
Maaf mengganggu kenyamanan kalian. Dikarenakan cover sebelum ini sama dengan cover orang lain, maka covernya Asa ganti lagi 😁😁
Terimakasih
🍂
//
Happy reading semua ...
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕