Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
90. Kehebohan di Pagi Hari (Kembali Bekerja)


__ADS_3

Pagi ini, Gea turun bersama dengan Briel menuju ruang makan untuk sarapan. Mereka telah siap dengan busana kerja mereka masing–masing. Gea mutuskan untuk kembali bekerja seperti semula atas ijin Briel.


"Pagi, Yah, Bun …." sapa Briel dan Gea bersamaan pada Tere dan Frans.


"Pagi Briel," sahut Tere dan Frans bersamaan.


"Pagi menantu kesayangan bunda," sahut Tere. Ia menyunggingkan senyum hangat.


"Pagi, Gey," sahut Frans.


Yeahh …. Pagi ini mereka saling bertegur sapa dengan hati yang gembira dan wajah yang berseri–seri. Suasana kali ini pun beda, karena ada sang menantu yang hadir di tengah–tengah mereka.


Gea mengambil sepotong roti. Tangannya sibuk mengoleskan selai coklat pada roti itu. Ia tahu bahwa Briel begitu menyukai selai rasa coklat. Setelah selesai, ia meletakkan roti itu ke piring milik Briel.


"Terimakasih, Sayang." Briel mengulas senyumnya yang tulus. Ia benar–benar merasa bahagia karena telah tiba hari yang dinantikan. Hari di mana mereka berkumpul bersama. Ia juga bahagia karena Gea mau mengambilkan makanan untuknya.


Gea tersipu malu mendengar panggilan Briel. Ia masih belum terbiasa dengan panggilan itu. Apalagi kali ini Briel mengucapkannya di depan mertuanya. Gea tersenyum menunduk sembari menyelipkan rambutnya yang tergerai ke belakang telinga. Hal itu membuat Tere dan Frans terkekeh melihat tingkah Gea.


"Yah, lihat itu menantu kita. Dipanggil sayang bisa membuat wajahnya merona," goda Tere pada Gea. Hal itu membuat Gea semakin tersipu.


"Ah Bunda, seperti tidak pernah muda saja. Pada waktu pengantin baru kan dulu Bunda lebih tersipu dari Gea."


Frans mengingat betapa menggemaskannya Tere sewaktu mereka masih muda. Bahkan paras cantik Tere tak pudar oleh waktu.


"Mana ada Yah? Ayah jangan mengada–ada," kilah Tere. Ia cukup malu untuk mengakui kebenaran itu.


"Ayah tidak mengada–ada, Sayang."


Frans mengucapkannya dengan santai. Seketika panggilan itu membuat Tere merona. Ternyata umur tak mengikis rasa tersipunya.


Briel yang melihat keharmonisan kedua orang tuanya itu hanya tersenyum sembari menggeleng. Ia kagum dengan kedua orang tuanya. Keharmonisan mereka tak habis termakan oleh waktu.


Mereka tertawa bersama di pagi hari, sebagai teman sarapan mereka.


"Ge, kamu sudah yakin mau bekerja lagi?" tanya Tere.


Gea mengangguk ringan. "Iya, Bun."


"Yahhh …." Tere terlihat begitu kecewa karena baru kemarin mereka bertemu, Gea sudah harus bekerja lagi. Padahal rencana ia ingin mengajak Gea jalan–jalan. Gea menjadi tak enak hati melihat kekecewaan Tere. Gea tersenyum canggung.


"Kamu di sana bekerja sebagai apa?" tanyanya kemudian. Frans tetap diam walau dia sudah mengetahui yang dilakukan Gea. Ia tak berniat untuk membantu Gea menjawab.


"Cleaning service, Bun."

__ADS_1


Tere terperangah. Seketika ia menatap tajam Briel. Ia tak rela menantunya diberi pekerjaan yang berat oleh Briel. Briel mengerutkan dahinya. Ia mengambil segelas susu yang ada di depannya lalu meminumnya.


"Kenapa kamu beri Menantu Bunda pekerjaan seperti itu?" selidik Tere. Ia cukup kesal dengan Briel.


"Briel tak memberinya pekerjaan itu, Bun. Ayah yang memberi Gea pekerjaan di bagian itu." Briel tak mau disalahkan oleh Tere.


Tere beralih kepada suaminya. Frans yang ditatap pun paham. "Kan ayah tidak tahu kalau pada akhirnya Gea menjadi menantu kita, Bun."


"Sudah Yah, Bun, pekerjaan ini Gea yang menginginkannya. Gea sendiri yang mendaftar dulu di pekerjaan ini."


Gea tak enak hati. Karenanya Briel dan Frans terkena introgasi sang ibu mertua.


"Nah dengar sendiri itu, Bun," jawab Briel dan Frans serentak.


"Haisst giliran begini aja serempak," gerutu Tere. Ia memutar bola matanya malas.


"Tapi Ge, kenapa kamu tidak berhenti saja? Kan Briel sudah bekerja. Kamu juga sudah memiliki butik. Kenapa kamu masih mau bekerja sebagai cleaning service?"


Tere heran dengan menantunya itu. Kebanyakan wanita apa lagi dari kalangan atas tak mau pusing dengan kerjaan. Namun kali ini, Gea malah memilih memusingkan diri dengan pekerjaan. Bahkan pekerjaan yang banyak dihindari pencari kerja.


Gea tersenyum. "Tidak, Bun. Karena Gea mencintai pekerjaan ini. Lagian ada sahabat Gea juga yang bekerja di sana bersama Gea." Gea mencoba untuk memberikan pengertian pada Tere.


"Benar limited edition," batin Tere. Ia tak menyangka masih ada wanita seperti Gea. Wanita yang apa adanya, tanpa gengsi yang menungganginya.


Akhirnya Tere mengalah. Ia juga tidak bisa mengekang kemauan Gea.


Gea tersenyum cerah. Mereka pun melanjutkan sarapan mereka.


🍂


Kali ini adalah pertama kalinya Gea berangkat bekerja bersama Briel. Mereka turun sampai parkiran perusahaan. Gea yang turun dari mobil Briel mencuri perhatian semua orang. Ternyata kebersamaan mereka mengundang kericuhan seluruh karyawan.


Bisik–bisik terdengar di telinga Gea dan Briel. Mereka semua iri melihat Gea berhasil semobil dengan Briel.


"Murahan sekali dia, sampai berani–beraninya berangkat bersama dengan Pak Bos."


"Apa jangan–jangan ia memang wanita murahan yang rela menjual tubuhnya?"


Begitulah kira–kira karyawan wanita pada berbisik–bisik. Gea hanya bisa menelan salivanya. Ia tak mungkin membela dirinya sendiri atau semua akan terbongkar.


Gumaman itu terdengar di telinga Briel. Seketika mood Briel begitu anjlok. Briel menghela napas dalam dan menghembuskannya kasar. Ia murka mendengar kata wanita murahan dari mereka yang ditundingkan untuk istrinya.


"Apakah kerjaan kalian hanya ini? Bergosip?"

__ADS_1


Semua orang langsung diam mendengar suara Briel yang lantang. Mereka takut dengan kemarahan bos mereka. Selama ini belum pernah di antara mereka yang melihat Briel marah. Yang mereka lihat biasanya adalah sosok pemimpin yang berwibawa dan cukup bersahabat.


"Apakah salah memberikan tumpangan untuk orang lain?"


Semuanya masih terdiam. Tidak ada yang berani menyahuti ucapan Briel. Mereka semua menundukkan kepala.


"Bubar! Persiapkan diri kalian untuk bekerja hari ini!"


Briel pergi meninggalkan mereka dengan hati yang kesal menahan amarah. Mereka semua saling menatap satu sama lain karena terheran–heran dengan sikap Briel. Baru kali ini mereka melihat Briel membantu seorang bawahan. Cleaning service pula.


Gea pun juga pergi dari sana untuk segera bersiap memulai pekerjaanya. Sebisa mungkin ia mengabaikan tatapan orang–orang yang mengintimidasinya. Ia berjalan menghampiri Runi.


"Gila kamu, Gey. Bisa–bisanya kamu berangkat bersama Pak Bos?!" ucap Runi heboh. Ternyata Runi juga melihat kejadian itu. Sampai–sampai Runi lupa untuk melontarkan berbagai macam pertanyaan kenapa Gea menghilang beberapa hari ini.


"Ya–ya kebetulan aja Run tadi bertemu di jalan," jawab Gea tergagap. Ia tak mungkin memberitahu Runi yang sebenarnya. Belum waktunya untuk Gea menyampaikan informasi itu.


"Hilihh …" cibir Runi. Ia menelisik kejujuran pada mata Gea. Gea yang ditatap pun menjadi salah tingkah.


"Udah ah, ayo kita bekerja."


Gea berusaha mengalihkan perhatiannya. Namun Runi masih tak kunjung terprovokasi.


"Nanti dulu! Kemana aja kemarin beberapa hari kamu menghilang tanpa kabar?!" tanya Runi yang mengingat kekesalannya.


Gea memejamkan matanya. Ia baru ingat kalau jawaban itu harus Gea pikirkan.


"A–"


Baru kata itu akan terucap, Gea melihat Heri berjalan ke arah mereka. Seketika sebelum ditegur, Runi dan Gea segera pergi melaksanakan pekerjaan mereka.


"Awas kamu, Gey. Kamu berhutang penjelasan padaku!"


Runi ingin Gea jujur padanya. Ia terlalu kesal karena beberapa hari Gea tak masuk, sekaligus rasa heran mengapa Gea diberi kelonggaran meski sudah tak masuk berhari–hari.


"Iya, Runi," jawab Gea. Gea lega, setidaknya ia masih punya waktu untuk memikirkan jawaban apa yang tepat yang bisa ia beritahu pada Runi.


"Untung saja," gumam Gea dalam hati.


🍂


//


Happy reading guys,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2