
Amerta Jaya Group
Nama itu terpampang nyata di sebuah gedung menjulang yang ada di hadapan Dela. Kali ini ia menghampiri Davin untuk ia ajak makan siang bersama. Dengan gaya berpakaiannya yang glamor, Dela melangkah ke dalam gedung itu.
Semua karyawan yang berpapasan dengannya membungkuk hormat padanya. Dua hari yang lalu, Dela sudah mengumumkan diri sebagai istri Davin Angkara. Wajahnya terlihat begitu sombong, tak ada kesan ramah sedikitpun. Namun semua karyawan tak bisa protes padanya. Mereka tidak mau membahayakan kelangsungan hidup mereka.
"Sayang …!" panggil Dela pada Davin yang masih sibuk dengan tumpukan kertas.
"Hei, Darling," balas Davin tanpa mengalihkan perhatiannya.
Dela mencebik kesal. Wajahnya cemberut, tertekuk sempurna. Ia tak terima tak diperhatikan oleh Davin dan dibiarkan begitu saja. Ia berjalan menghampiri Davin. Ia bergelayut manja dengan memegangi kedua pundak Davin. Ia turut melihat kertas yang tengah Davin geluti walaupun ia tak mengerti sedikitpun.
Kemudian Dela terduduk di pangkuan Davin. Davin terperanjat karena tak siap dengan tindakan Dela. Dela menyentuh pipi Davin sebelah dengan tangannya yang lentik. Ia mengusap perlahan wajah Davin. Dari perlakuan Dela, Davin mengalihkan perhatiannya pada Dela.
Davin menghembuskan napas kasar. "Aku sedang bekerja, Darling. Ada apa, hem?" tanya Davin dengan lembut.
Dela menyunggingkan senyumannya. Ia terlihat begitu manja.
"Sayang …. Ayo kita makan siang bersama. Laper …" ajak Dela.
Diam–diam Davin menghela napas lagi. Ia teramat malas untuk meladeni Dela.
"Ck .… Ayo, Vin. Demi pundi–pundi uang," gumam Davin dalam hati. Ia tak mau kehilangan Dela karena kekayaan keluarga Dela.
Davin memulai sandiwaranya. Ia mengulas senyum semanis mungkin. Ia berusaha menyembunyikan perasaan terpaksanya. Meskipun sebenarnya ia sangat muak dan terpaksa.
"Baiklah! Ayo Darling!"
Mereka makan siang di sebuah restoran mahal di kota itu. Segala macam makanan yang tak murah harganya di hidangkan. Mereka menyantap makan siang mereka dengan hikmat.
"Darling …"
"Hem?" sahut Dela sembari mengiris daging yang ia makan.
"Kamu mau nggak kita semakin kaya lagi?" tanya Davin tiba–tiba. Ia tahu otak Dela yang begitu suka dengan kekayaam dan kemewahan.
"Ya mau dong. Kan asyik menjadi orang terkaya di negara ini." Dela mulai mambayangkan hal yang bisa ia lakukan jika ia menjadi istri orang terkaya. Seulas senyum miring terlihat jelas di wajahnya ketika bayangan–bayangan impian itu bermunculan.
"Kamu mau nggak bantuin aku buat wujudin itu semua?" tawar Davin. Ia mengangkat kedua alisnya.
"Bantu apa?" Dela mulai penasaran dan tergiur dengan rencana Davin.
"Aku ingin kamu meminta Papi untuk berinvestasi di perusahaanku. Bagaimana?"
Dela berpikir sejenak. Ia berpikir bagaimana caranya ia bisa membujuk Edi.
__ADS_1
"Cukup mudah," gumamnya dalam hati. Dan setelah itu ia mengangguk mantap.
"Baiklah." Dela menyetujuinya. Ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Davin. Davin tersenyum licik. Namun Dela tak menyadari itu.
🍂
"Kurang ajar!"
Kemal membanting gawainya ke sofa yang ada di dekatnya. Tatapannya menajam, rahangnya mengeras. Ia benar–benar ingin meluapkan amarahnya.
"Sial!" teriaknya cukup keras. Hal itu membuat Selly, istrinya datang menghampirinya.
"Ada apa, Dad?" tanya Selly hati–hati. Ia tak mau membuat Kemal semakin murka dan melampiaskan amarahnya pada dirinya.
Kemal menatap Selly sekilas. Ia membuang nafasnya kasar. Namun amarah itu msih begitu terasa.
"Itu Frans membatalkan perjodohan anaknya dengan anak kita!" Kemal menjelaskannya dengan rasa kesal yang belum kunjung reda.
Selly terperanjat. Ia tak percaya dengan berita yang disampaikan Kemal.
"Yang benar, Dad?! Kenapa mereka membatalkan perjodohan itu?"
Selly tak terima dengan apa yang ia dengar. Tidak jadi menikahkan Ayu berarti pupus sudah harapan mereka untuk mengangkat derajat dan martabat keluarga mereka.
"Tidak tahu. Mereka tak memberitahu apa yang terjadi dan kenapa." Kemal mendesah kasar.
Selly tak rela dengan kenyataan yang dihadapi ini.
"Tenanglah. Aku akan memberikan perhitungan pada mereka!"
Kemal tersenyum miring dengan rencana yang telah ia pikirkan. Tentunya itu adalah rencana yang begitu licik.
Sementara itu di rumah kediaman keluarga Yohandrian, Frans memberikan kabar bahagia tentang rencana perjodohan yang telah dibatalkan.
"Syukurlah, Yah," ucap Tere.
Tere bersyukur karena Briel telah berada di tahap awal menjemput kebahagiaannya. Sedangkan Frans tersenyum hangat. Rasa lega telah merasuk ke dalam benaknya. Ia berhasil membatalkan pernikahan Briel dengan Ayu sebelum waktunya.
"Terimakasih, Yah, Bun," ucap Briel dengan tulus.
Briel menarik Gea lebih dekat padanya dari arah samping. Kemudian ia mengecup pucuk kepala Gea bagian samping Gea dengan rasa bahagia yang tak terhingga. Ia tak bisa mengucapkannya dengan kata–kata.
🍂
Sementara itu, di perusahaan Mega Raya Group, Runi tengah terduduk sendirian. Pekerjaannya untuk hari ini sudah selesai, waktunya masih longgar. Dia kesepian di sana. Sampai detik ini, Gea tak lagi muncul di hadapannya. Bahkan sepucuk pesan ataupun surat pun tak ia dapatkan dari Gea.
__ADS_1
"Aihh biasanya kalau begini ngrumpi sama tuh anak. Sekarang aku sendirian. Haihh kemana sih Gea sampai sekarang gak kelihatan batang hidungnya?" gerutu Runi.
"Andai dia di sini," gumamnya lagi.
Runi beranjak dari duduknya. Rasa gerah membuatnya mengibas–kibaskan kain lap yang ia pakai ke kiri dan ke kanan sebagai kipas untuk mengurangi rasa gerah itu.
"Ahh ... segarnya." Runi menikmati semilir angin yang ia ciptakan sendiri. Bahkan ia memjamkan matanya sesekali sembari berjalan lambat.
"Aduh kayak menyentuh sesuatu," ucap Runi. Tiba–tiba Runi merasakan lapnya menabrak sesuatu.
"Eheem!"
Terdengar dehaman pria yang cukup keras dari arah belakangnya. Dan benar saja. Ada seseorang yang wajahnya tak sengaja terkena lap yang Runi kibaskan.
Runi berbalik lagi dan memejamkan matanya. "Aduh mati aku," gumam Runi dalam hati. Pasalnya yang terkena kibasan lap itu adalah wajah Adam. Ia melihat Adam memejamkan matanya menahan rasa kesal padanya.
"Maaf, Tuan," ucap Runi seraya menunduk. Ia tak berani menatap wajah Adam.
"Runi!" teriak Adam menahan marahnya. Ia kesal karena dengan seenaknya lap itu mendarat di wajahnya.
"I–iya, Tuan?" sahut Runi tergagap. Ia mendongak sekilas menatap wajah Adam lalu menundukkannya lagi.
"Sial. Tampan sih, tapi kenapa sial mulu aku bertemu dengannya? Waktunya benar–benar tidak tepat! " gumam Runi dalam hati.
Adam menghela napas dalam lalu menghembuskannya kasar.
"Ikut saya ke ruangan. Saya akan memberikan perhitungan karena kekurangajaranmu kali ini!" ucap Adam datar.
"Ba–baik, Tuan."
Mau tak mau Runi mengikuti Adam yang berjalan di depannya. Siap tak siap ia harus siap menerima konsekuensi atas kesalahannya walaupun tak disengaja.
"Malangnya nasibku ini," gumam Runi lirih meratapi nasibnya nanti.
🍂
//
Dududududu terima nasib Run 😂😂
🍂
//
Happy reading guys,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕