Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
131. Ternyata Oh Ternyata


__ADS_3

"Baiklah ayo berangkat," ajak Davin pada Dela. Mereka akan pergi ke salon terlebih dahulu atas permintaan Dela.


Malam ini adalah malam penting untuk Davin dan Dela. Mereka akan dinner bersama orang penting lainnya. Mereka tak boleh melewatan waktu itu.


🍂


"Emm … pakai yang mana ya?"


Gea menggerakkan tangannya untuk memilih ating yang akan ia pakai. Pilihannya jatuh pada sepasang anting sederhana namun cantik.


"Geyang …. Ambilkan dasiku Sayang," titah Briel. Kali ini Briel baru saja selesai mandi. Ia berjalan ke ruang ganti dengan handuk yang melilit pinggangnya. Briel memakai baju yang disiapkan oleh Gea sebelumnya


"Sebentar Bayang,"


Gea masih berusaha memakai antingnya sembari melihat gambar dirinya di cermin.


"Selesai," gumamnya lirih saat sebuah anting telah menggantung indah di telinga Gea.


Gea berjalan mengambil dasi Briel. Ia menghampiri Briel yang telah selesai memakai pakaiannya.


"Pakaikan sekalian Gey," titah Briel yang mengancingkan kancing yang ada di oergelangan tangan.


"Ih manja," gurau Gea.


"Biarin, manja juga masih sama istri sendiri," sahut Briel.


"Aihh Bayang. Biasanya aja kamu kan pakai sendiri," ujar Gea sembari bediri lebih dekat lagi dengan Briel. Tangannya mulai sibuk memasang dasi itu.


"Kan sekarang tidak biasanya Geyang … emuach."


Tiba–tiba saja Briel mencium sudut bibir Gea. Gea mematung sejenak. Dan detik berikutnya Gea menabok lengan Briel.


"Ih apaan sih. Jangan mulai deh. Keburu telat!" omel Gea. Briel tertawa renyah. Namun pipi Gea masih saja merona karena ulah Briel. Briel meledeknya habis–habisan pipi Gea yang semakin merona. Gea semakin tersipu.


"Udah ah! Menunduk sedikit, Bayang, agar lebih mudah!" ujar Gea menutupi rasa malunya. Briel tersenyum penuh arti dengan mata yang terus menatap Gea.

__ADS_1


"Sudah,"


Setelah sekian waktu, akhirnya selesai sudah dasi itu terpasang rapi di kerah baju Briel.


"Ayok berangkat" ucap Briel.


"Ayok,"


Gea meraih tas jinjingnya. Ia menggandeng lengan Briel saat mereka berjalan ke luar. Senyum cerah menghiasi wajah mereka berdua, seakan tak pernah pudar.


🍂


"Waw… ternyata aku memang terbukti cantik."


Dela memandangi dirinya di depan cermin. Ia memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan secara bergantian. Ia mengagumi wajah cantiknya sendiri.


"Akan selalu cantik dan selamanya cantik," ucapnya lagi dengan percaya dirinya.


Suara derap langkah kaki terdengar. Bayangan Davin terlihat di cermin itu. Dela berdiri dan membalikkan badannya menghadap ke arah Davin.


"Hemm ... Cantik,"


"Setidaknya penampilannya normal dan tak akan membuatku malu," lanjut Davin dalam hati.


"Ayo cepat berangkat," ajaknya kemudian.


"Oke."


Dela mengambil tasnya. Ia bahkan berjalan dengan angkuhnya. Hal itu membuat pegawai salon menggelengkan kepalanya karena heran, ada juga ternyata wanita seperti itu.


Davin membukakan pintu mobil untuk Dela. Dengan senang hati Dela masuk ke dalam mobil. Senyum itu mengembang di wajah Dela. Davin langsung masuk dan duduk di kursi kemudi.


Davin terdiam sejenak sembari menatap lurus lahan parkir di sana. Senyum tipis mengembang di wajahnya. Bahkan senyum itu tak disadari oleh Dela.


"Saatnya aku akan tahu siapa istrimu Briel. Tunggu pembalasanku. Kau telah mencoreng nama baik keluargaku. Bendera perang telah kau kibarkan waktu itu. Tunggulah saatnya," gumam Davin dalam hati.

__ADS_1


Tak lama setelah itu Davin mengemudikan mobilnya menembus jalanan kala itu.


🍂


Beberapa waktu perjalanan mereka, akhirnya sampailah mereka di sebuah restoran bintang 5. Davin dan Dela berjalan beriringan masuk ke restoran itu.


"Mbak atas nama Tuan Gabriel Abraham Yohandrian?"


Wanita karyawan resto itu menunjukkan di mana Briel berada. Mereka menghampiri Briel. Dari jarak yang terbilang masih jauh, Davin melihat Briel duduk di meja itu sendirian.


Davin tersenyum miring. Ia tak melihat pasangan Briel ada di sana.


"Ha! Jangan–jangan semuanya itu hanya rekayasa agar tak menikahi adikku!" gumam Davin dalam hati. Senyumnya pun sinis.


"Hai Tuan Briel," sapa Davin.


Briel berdiri lalu menjabat tangan Davin.


"Halo juga Tuan Davin. Silahkan duduk," ucap Briel ramah, namun sorot tatapannya penuh makna.


Dela dan Davin duduk di kursi yang telah di sediakan.


"Loh kok sendirian Tuan Briel. Dimanakah istri Anda?" tanya Davin sopan.


"Bayang,"


Belum sempat Briel membuka mulut dimana istrinya, Gea datang dengan langkah yang tegas dan anggun. Kemunculan Gea membuat Davin terperangah. Ia menatap keadaan ini tak percaya.


"Tidak mungkin kalau Gea istri Briel!" sangkalnya dalam hati.


🍂


//


Happy reading gaesss

__ADS_1


Jangan lupa bahagia


__ADS_2