
Gea mengangguk mantap. Mereka berdua pergi meninggalkan markas Davin.
Gea dan Nichol bertemu dengan Nathan di mobil. Di dalam mobil sudah ada Bima yang tengah duduk di balik kemudi. Bima tersenyum lega melihat sepupu kesayangannya selamat.
"Apakah kamu ada yang luka?" tanya Bima. Ia mengkhawatirkan keadaan Gea.
Gea tersenyum melihat kekhawatiran Bima padanya.
"Enggak, Kak, aku baik–baik saja."
"Syukurlah."
Bima melihat ke arah spion. Dari kaca itu, Bima melihat beberapa mobil melaju mendekat ke arah mobil mereka. Bima langsung menghidupkan mobil itu.
"Pakai sabuk pengaman kalian. Nichol, Nathan, persiapkan diri kalian. Kerahkan anak buah kita untuk menghadang jalan mereka!"
"Siyap, Bos!" jawab mereka serentak.
Tanpa berlama–lama lagi, Bima menancap gas mobil yang ia kemudikan. Suasana begitu menegangkan, layaknya adegan kejar–kejaran mobil di layar film. Bima membanting stir ke kiri dan ke kanan untuk mendahului mobil yang ada di depannya dengan cepat di jalan raya yang cukup ramai.
Ia mengambil jalur yang sekiranya mobil yang mereka kendarai tidak terjebak kemacetan lalu lintas. Nichol dan Nathan sibuk memegangi senjata mereka. Mereka menembaki mobil yang mengejar mereka.
Sampai ada satu mobil yang berhasil bergerak mengumbangi kecepatan mobil yang Bima kendarai. Raut wajah Bima semakin serius.
"Sialan!" umpatnya.
Bima mencoba menambah kecepatan mobilnya.
Cukup berhasil Bima menghindar dari mereka. Namun sesuatu yang aneh terjadi. Mobilnya tak bisa di rem.
"Kurang ajar!" umpat Bima lagi.
"Ada apa, Kak?" tanya Gea cemas. Pasalnya kecepatan mobil itu tak bisa dikurangi.
"Ada yang retas mobil ini!" ucap Bima panik. Ia terlihat sangat panik. Wajahnya terlihat tegang. Ia bertanggung jawab atas empat nyawa yang ada di dalam mobil itu
Bima menekan alat komunikasi kecil yang ada ditelinganya.
"Tabrak mobil yang tepat berada di belakang mobil ini!" perintah Bima pada anak buahnya.
Tak berapa lama ada sebuah mobil yang mulai mengejar dari belakang. Secepatnya, mobil itu mengejar mobil yang ada di depannya. Perlahan mulai menyalip.
Dan dengan strategi yang telah diperhitungkan, mobil itu menabrakkan diri ke mobil yang mengejar mobil Bima.
Bunyi suara tabrakan mobil terdengar nyaring. Suasana itu terasa asing dan mencekam untuk Gea. Adrenalinnya terpacu cepat, hingga jantungnya berdetak tak beraturan.
__ADS_1
Sekilas, Bima melihat ke arah Gea. Ia menatap sendu sepupu kesayangannya itu.
"Maaf, Gey. Kamu harus mengalami ini."
Tak lama setelah itu, Bima berhasil lolos dari kejaran mobil itu. Ia melihat ke arah spion, mobil yang mengejarnya telah menabrak pembatas jalan, sedangkan mobil anak buahnya mengalami kerusakan, namun masih bisa dikemudikan.
"Akhirnya .…"
Gumam Bima lega. Ia berhasil meloloskan empat nyawa dari maut.
"Hahh ... hahh … hahh …."
Gea berusaha mengatur nafasnya agar stabil kembali.
"Gey?" panggil Bima. Ia khawatir dengan keadaan Gea.
Gea mengangkat sebelah tangannya. "Aku tak apa, Kak."
Bima mengangguk, meski dia ragu. Bima terus melajukan mobil itu.
🍂
Sementara itu, di markas Briel, ia tengah berjalan mondar mandir tanpa henti, semenjak Bima memberitahu bahwa ia telah menuju lokasi tempat Gea berada. Ia mencemaskan bagaimana keadaan istrinya itu. Keselamatan Gea adalah hal utama yang harus ia jaga.
"Berisik!"
"Astaga dibilangin malah ngegas." Adam memutar bola matanya malas.
"Suka suka diriku lah! Lagian yang melihat itu mata, bukan kepala!"
"Idihhh teliti amat kau, Bri!"
Briel tak menghiraukan ucapan Adam. Dia tetap melakukan itu semua, tidak peduli Adam suka atau tidak. Adam hanya bisa menepuk dahinya sendiri.
Tak lama setelah itu, mereka berdua mendengar suara mobil memasuki lingkungan markas itu. Briel dan Adam bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.
Blug
Suara pintu mobil yang tertutup terdengar bergantian. Keempat orang yang ada di mobil itu telah berdiri berjajar di samping mobil. Briel tersenyum lega melihat Gea berdiri di sana dengan keadaan yang baik–baik saja.
Ia bergegas menghampiri Gea. Tanpa malu ia memeluk erat istrinya itu, bahkan menciumi seluruh bagian wajah Gea di depan mereka semua.
"Hem …." Deheman keras terdengar dari mulut Adam. Ia mengisyaratkan agar Briel berhenti.
Briel mendengkus kesal. Kebahagiannya terganggu. Ia bahkan memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Kenapa? Pengin? Cari sana pasangan hidupmu sendiri!" ucap Briel sewot.
"Sensi sekali kau, Bos!"
Semuanya tertawa melihat tingkah absurd antara atasan dan bawahan itu.
"Kamu tidak kenapa–napa kan, Gey?"
"Seperti apa yang Bayang lihat."
Briel meneliti setiap inci tubuh Gea. Ia tak menemukan sedikit keanehan daei Gea.
Tiba–tiba suara gawai Bima berbunyi. Bima mengangkat panggilan yang ternyata berasal dari anak buahnya.
"Sudah beres, Bos," lapor lawan bicara Bima.
"Bagus!"
Bima mengakhiri panggilan itu lalu memasukkan gawainya ke dalam saku celananya.
"Kenapa?" tanya Briel penasaran.
Bima menceritakan konologis kejadian yang mereka alami. Briel menganggum mengerti.
"Aww ...." ringis Gea. Briel tak sengaja memegang pergelangan tangan Gea.
"Kenapa, Geyang?" ucap Briel sembari meneliti kedua tangan Gea.
"Tidak apa–apa kok," ucao Gea sembari memcoba melepaskan tangannya dari Briel. Namun genggaman Briel lbih kuat darinya.
Briel menatap sendu Gea. Ternyata pergelangan tangan Gea terluka. Terlihat bekas goresan pisau. Rupanya, Gea tak sengaja menyayat kulitnya sendiri tatkala menggunakan pisau itu untuk melepaskan ikatan tali di tangannya.
"Ini apa?"
Gea hanya menyengir saja, memperlihatkan deretan gigi putih nan rapi itu. Briel menghela napas kasar. Ia masih memegang tangan Gea yang terluka. "Ayo kita obatin."
Kali ini, Gea hanya bisa menurut apa kata suaminya.
🍂
//
Happu reading gaess,
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1