
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menegangkan, akhirnya sampailah Gea di depan pintu gerbang rumah mewah. Gerbang itu menjulang tinggi hingga membuat Gea kesulitan untuk melihat ke dalam.
Gea menekan tombol bel yang ada di pintu gerbang itu. Ia menunggu beberapa saat namun tak kunjung ada yang membukakan pintu. Gea sampai menekan tombol bel itu hingga berkali-kali.
Seorang wanita yang sedang asik maskeran muka sambil mendengarkan musik di dalam kamar pun geram. Ketenangannya terganggu karena mendengar suara berisik bel dari luar. Ia menggeruntu kesal.
"Kemana sih Mang Arman perginya? Suara bel dari tadi bunyi mulu bikin kepalaku pusing!" geruntunya.
Mang Arman adalah satpam yang dipekerjakan untuk menjaga rumah itu. Saat ini ia sedang mengeluarkan sesuatu yang perlu ia keluarkan di toilet.
Cukup lama, bel itu berbunyi lagi dan lagi. Wanita itu keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju balkon yang menghadap langsung ke arah gerbang. Betapa terkejutnya ia melihat Gea yang ada di depan pintu gerbang. Ia langsung menelpon Mang Arman.
"Mang jangan biarkan Gea masuk. Kalau dia cari Papi, bilang saja Papi tidak ada di rumah!"
"Tapi Non, bukannya Tuan ada di rumah? Kalau penting bagaimana, Non?" tanya Mang Arman dengan polosnya.
"Pokoknya lakukan saja sesuai perintahku Mang!"
Ia langsung mematikan sepihak, tanpa menunggu jawaban dari Mang Arman.
"Wes wes. Horang kaya mah bebas." ucap Mang Arman sambil keluar dari toilet.
Ia membukakan pintu gerbang, karena bel masih berbunyi. Ia melihat Gea berdiri di depan gerbang membelakanginya.
"Selamat siang, Non."
Gea membalikkan badannya. "Oh siang, Mang Arman. Papa di rumah?"
"Emm maaf Non. Tuan tidak ada di rumah," ucap Mang Arman. Ia merasa tidak enak dengan Gea, si Nona Mudanya yang sudah 2 tahun pergi dari rumah itu.
"Tapi Mang, bukankah kalau jam segini biasanya Papa sudah pulang ya?"
Gea masih ingat, Papanya akan pulang ke rumah ketika sore tiba.
"Tapi Non, Tuan memang baru pergi."
"Mang, jangan bohong sama Gea Mang. Please Mang, Gea ada urusan mendesak yang harus Gea sampaikan sama Papa." Gea memohon untuk tetap masuk ke dalam. Ia melihat ada kebohongan di mata Mang Arman.
Sampai Gea melihat saudaranya tengah memperhatikannya dari balkon. Gea curiga kalau dialah yang menyuruh Mang Arman untuk mengusirnya.
"Sepertinya ia berusaha mencegahku agar aku tidak bisa bertemu dengan Papa," batin Gea.
Umpatan demi umpatan terlontar di dalam hatinya untuk saudaranya itu.
__ADS_1
Dengan langkah cepat, Gea nekat masuk ke dalam rumah tanpa persetujuan Mang Arman.
"Berhentii! Ngapain kau kesini lagi?" ucap wanita itu sambil berdiri menghadang langkah Gea. Tangannya bersedekap di depan dadanya.
"Minggir," ucap Gea sambil menerobos masuk.
Namun langkahnya selalu dihadang. Wanita itu tersenyum licik.
"Kakak cantik yang terhormat, mohon minggirlah sebentar. Adikmu yang lemah ini ingin masuk," ucap Gea dengan tenang namun dalam menyiratkan suatu kegeraman tersendiri. Ia berusaha menahan emosinya karena ia tidak mau membuat keributan di sana.
Namun bukan saudaranya kalau menyerah begitu saja. Ia tetap tidak bisa membiarkan Gea masuk ke dalam rumah. Hingga keributan pun terjadi. Saling berteriak dan memaki terjadi di antara mereka. Suara mereka begitu keras. Mang Arman yang melihat pertengkaran itu bingung mau bagaimana. Ia kesulitan untuk melerai pertengkaran mereka. Bahkan Mang Arman sampai terjatuh dikala ia berusaha melerai.
Sementara itu di dalam rumah, Papanya yang sedang duduk santai di ruang keluarga pun terganggu karena keributan yang dilakukan kedua anaknya.
"Bi, ada apa di luar? Kok seperti ada orang yang berteriak-teriak di sana?" tanyanya pada asisten rumah tangganya yang kebetulan lewat.
"Ii-itu Tuan, Nona," ucap Bi Roinah. Ia bingung bagaimana cara menyampaikan hal itu kepada tuannya.
"Katakan dengan jelas Bi, jangan seperti itu," ucapnya tidak sabaran.
"Ada apa sih Pi?"
Istrinya mendekat, ia merangkul lengan suaminya itu.
"Yaudah ayo kita ke sana saja." ucap sang istri dengan lembut. Ia menyetujui ajakan istrinya.
"Ta- tapi Tuan, Nyonya." Ucapan Bi Roinah sudah tidak di dengar lagi. Mereka telah berlalu menuju ke depan.
π
"Dasar wanita sialan gak tahu diri! Ngapain kau kesini ha?! Rasain ini!" ucapnya sambil menjambak rambut Gea dengan lebih kencang.
"Awww.β¦."
Gea mengaduh kesakitan. Ia segera memukul kasar tangan Gea agar dia melepaskan jambakannya. Dan berhasil. Tangannya yang dipukul Gea membiru karena pukulan keras Gea.
Gea menyibakkan rambutnya dengan kasar, untuk merapikan rambutnya yang berantakan.
"Hahaha aku sialan? Terus kamu apa? Busuk?!" ucapnya tajam. Pertama kali ini, Gea menyuarakan isi hatinya, berbicara tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Ia pun tak terima dikatai busuk. Ia kembali menyerang Gea sampai ia berputar, berpindah posisi dari menghadap ke luar rumah menjadi menghadap ke rumahnya. Dari situ ia melihat Papi dan Maminya datang menghampirinya. Ia berusaha mencari cara agar dia bisa terjatuh. Dan benar saja. Tangan Gea yang ingin menepis tangannya ia manfaatkan agar terlihat bahwa Gea telah mendorongnya dengan kasar.
Ia pun terjatuh. Air matanya luruh seketika. Ia mendongakkan kepalanya. "Kenapa Gey, kenapa? Apa karena kejadian itu kamu jadi benci sama aku?" ucapnya tiba-tiba.
__ADS_1
Gea hanya tersenyum sinis, jengah dengan sikap kakaknya itu. "Haihhh drama apa lagi yang ia mainkan? Dasar wanita ular." ucapnya dalam hati.
"Dasar ular berwujud wanita!" umpatnya lirih namun masih terdengar olehnya.
"Tega sekali kamu Gey mengataiku wanita ular," ucapnya sambil terus menangis.
"GEA AGATHA WIYARTA!!"
Bentak papanya. Ia berjalan cepat menuju ke arah Gea. Maminya berjalan menuju dimana kakaknya berada.
Plak
Sebuah taparan keras mendarat di wajahnya yang putih. Bekas tangan tercetak jelas di wajahnya. Ia memegangi pipinya. Namun rasa sakit itu tak sebanding dengan luka di hatinya yang semakin menganga.
Air sudah berkumpul di pelupuk matanya, siap untuk membanjiri wajahnya yang cantik sewaktu-waktu air itu bertambah. Ia menatap wajah papanya dengan sorot mata penuh kekecewaan. Niat hati ingin memberitahu berita bahagia malah suatu tamparan yang diterimanya.
"Apa apaan kamu ha?! Anak gak tahu diuntung. Datang-datang cuma bikin keributan saja!"
"Tamparan itu tidak sebanding dengan sakit hati yang kakakmu terima!"
"Pa... " ucapnya lirih.
"Apa masih kurang perbuatanmu 2 tahun lalu terhadap Dela kakakmu? Sampai-sampai sekarang pun kamu masih mau melukainya. Tega kamu Gey!"
Kekecewaan terlihat jelas di sorot mata Edi. Ia merasa salah mendidik anak, hingga anaknya bisa berbuat demikian bahkan dengan saudaranya sendiri. Dela yang melihat pertengkaran antara papa dan anak itu pun tersenyum miring. Begitupun juga dengan Clara.
Mereka bahagia melihat Gea menderita karena Edi semakin membenci Gea.
"Gea gak pernah berbuat seperti itu Pa. Kenapa Papa tidak pernah sedikit pun percaya padaku?" ucap Gea sambil menangis. Ia membela dirinya sendiri, namun apa daya. Papanya lebih percaya sama Dela dan Clara.
"Udah, Pi. Dela nggak apa. Jangan marahi Gea lagi Pi," ucapnya sambil menangis.
"Dasar ular betina! Teganya kalian memfitnahku," batin Gea sambil menangis.
Edi mendekat ke arah Dela, membantu Dela berdiri.
"Ayo Sayang kita masuk."
"Dan kamu, pergi dari sini! Dan jangan pernah kembali lagi!" tunjuknya pada Gea.
"Jangan pernah sekalipun kamu menunjukkan mukamu di depan kami!"
Untuk kedua kalinya, Gea diusir oleh Edi. Dengan luka hati yang basah kembali, Gea pergi meninggalkan rumah yang dulu adalah rumahnya. Kekecewaan tergambar jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa mereka membenciku? Apa salahku pada mereka?"