
"Wow akhirnya rumah tangga Briel dan wanita itu retak. Lalu patah deh." Ayu tertawa girang. "Sebentar lagi, Briel akan menjadi milikku," ucap Ayu dengan senyum liciknya.
Teriknya matahari di siang itu seolah tahu bahwa jalan terang telah berada di genggaman Ayu. Panas yang membakar hawa. Jalanan yang cukup padat seolah–olah turut menyongsong kemenangannya. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang semabari menikmati jalanan yang ramai itu. Kacamata hitam telah bertengger di hidungnya yang mancung. Senandung kecil terdengar dari bibir seksinya.
🍂
Hari telah berganti, matahari telah menyembunyikan diri di balik gelapnya malam. Bahkan rembulan maupun bintang yang biasanya gemerlapan seakan enggan untuk menampakkan diri.
Briel pulang dengan tangan kosong. Ia tak berhasil menemukan di mana keberadaan Gea. Ini kali keduanya Gea pergi dari sampingnya atas kemauan Gea sendiri. Kedua kalinya ia melukai hati Gea. Dan pertama kalinya rasa ingkar janji menyelimuti dirinya dan enggan untuk pergi.
Briel menghela napas dalam. Deru napasnya saja terdengar begitu berat. Ia membersihkan tubuhnya dengan air mengalir. Membasahi seluruh tubuh dari ujung kepala, berharap air itu dapat mendinginkan kepalanya yang terasa panas karena kebingungan yang melandanya. Ia tak dapat berpikir jernih untuk kali ini.
Bayangan demi bayangan kejadian siang tadi membuatnya mengumpat kesal. Ia merutuki kesalahpahaman dan ketidaksengajaan yang ia lakukan.
"Aaarrgghh !!!!"
Briel mengingat bibirnya yang tak sengaja mencicipi madu lain. Madu yang membuatnya jijik dengan dirinya sendiri. Berulang kali Briel menggosok bibirnya dengan kedua tangannya. Bahkan ia menggunakan sabun untuk membasuh bibirnya sendiri. Namun rasa jijik itu masih melekat pada dirinya. Ia telah mengkhianati janji suci yang telah ia ikrarkan.
Cukup lama ia berkutat di kamar mandi. Ia keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan dengan tubuh yang lebih segar, walaupun suasana hati masih tetap sama. Briel mengambil gawainya yang terletak di atas nakas. Ia menekan sebuah nomor yang tertera di layar gawainya.
"Apakah Gea bersamamu?" tanya Briel tanpa basa–basi pada orang di seberang sana.
"Tidak. Sudah beberapa hari ia tak datang menemuiku," jawab Bima. "Kenapa?" tanya Bima kemudian.
"Tidak, Bim. Aku hanya ingin memastikan keberadaanya di mana. Karena tadi ia pergi bersama dengan Runi, tapi sampai sekarang ia belum juga pulang. Mereka berdua tak dapat dihubungi," jawab Briel berbohong.
Briel tak ingin Bima mengetahui apa yang telah terjadi. Ia juga berusaha keras untuk menutupinya. Ia yakin, bisa segera menyelesaikan masalahnya.
"Baiklah. Gea sudah besar. Mungkin sebentar lagi juga dia pulang sendiri," ucap Bima tanpa curiga sedikitpun.
"Tapi entah kapan ia akan pulang," timpal Briel dalam hati. Briel hanya bisa tersenyum kecut.
"Bri, gak tertidur kan?" panggil Bima di seberang sana karena tak ada suara dari sambungan yang masih terhubung. Briel mendengkus kesal karena Bima cukup mengagetkannya.
"Ck sudahlah aku capek. Bye kakak ipar!"
Briel mengakhiri percakapan mereka.
__ADS_1
Sementara itu, Davin tersenyum puas mendengar kabar dari rencana Ayu yang telah berhasil menggoncang rumah tangga Briel.
"Akhirnya anak itu mau juga bekerja sama denganku," ucapnya girang.
"Baiklah … tinggal melakukan rencana selanjutnya. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui."
Davin tersenyum sendirian di ruang kerjanya. Jari jemarinya ia mainkan. Licik. Itulah semua rencana di dalam pikiran Davin. Memiliki Gea, dan menghancurkan perusahaan Briel.
"Simbiosis mutualisme yang sesungguhnya," ucapnya lagi. Ayu akan memiliki Briel, sedangkan ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan.
🍂
Dua hari telah berlalu. Gea belum juga menampakkan dirinya. Bahkan berulang kali ia harus berbohong pada Tere agar bundanya itu tak khawatir dengan keadaan Gea.
Briel menatap lurus pemandangan yang terlihat dari kaca ruangannya. Pandangannya kosong. Hatinya terasa hampa. Hingga suara derab kaki membuyarkan lamunannya.
"Bos gawat!!" ucap Adam panik. Briel mengerutkan keningnya. Tak biasanya Adam panik seperti itu.
"Apa yang terjadi Dam?"
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Saya juga tidak tahu Bos. Sepertinya ada yang telah memanipulasi data–datanya. Dan kemungkinan terbesar itu adalah ulah Tuan Davin."
Briel tertawa sumbang. "Wow rencana yang menarik. Tapi bukan Briel namanya yang akan tetap diam ketika kau telah mengibarkan bendera perang. Oke fine!" putus Briel. Briel bukanlah orang yang mau diusik. Dia akan benar–benar menjadi licik ketika lawannya sudah tak bisa ditoleransi.
"Baiklah, cepat bereskan semuanya! Saya akan menghubungi Larz dan juga Bima," titah Briel.
"Baik Bos!" Adam mengangguk lalu meninggalkan ruangan Briel untuk segera menyelesaikan masalah itu.
Dengan cepat, Briel merogoh benda pipih canggih di sakunya. Ia menghubungi Bima dan Larz secara bergantian. Briel ingin menggabungkan informasi yang ia dapat dari kedua sumber informasi. Yang satu dari seorang ahli IT dan yang lainnya dari seorang detektif andal.
"Tepat!" Kedua informasi yang ia dapatkan itu saling berkesinambungan. Seulas senyum mengembang di bibirnya.
Briel mendekatkan gawainya pada sebelah telinganya. "Atur jadwal meeting saya dengan Tuan Davin besok. Saya tidak mau tahu, besok harus ada pertemuan dengannya!" ucap Briel tegas. Ia langsung menutup sambungan itu tanpa menunggu jawaban dari sekretarisnya yang lain.
Briel berjalan ke kursi kebesarannya. Ia duduk bersandar di punggung kursi. Tangannya mengetuk–ngetuk pelan tangan kursi itu. Banyak hal melayang di kepalanya silih berganti. Hanya dia saja yang tahu.
__ADS_1
Tak berapa lama setelah itu, dering panggilan telepon terdengar.
"Bagaimana Dam?" sapa Briel untuk kali pertama.
Adam menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan. Briel menyimak dan memahami informasi yang ia dapatkan dari Adam. Adam mampu menangani masalah itu agar tak merambat ke masalah yang lebih besar.
"Bagus! Selesaikan sisanya!" ucap Briel sebelum sambungan itu berakhir.
"Tunggu waktunya Davin Angkara!" gumamnya sembari menggenggam erat gawainya.
🍂
//
Hai semua
Sembari menunggu Asa up, kalian bisa mampir ke karya author–author kece di bawah ini 🤗
karya tamat
Karya On Going
sekian terimakasih
🍂
//
Happy reading gaess
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1