
Hari ini tibalah waktunya Dela mengenalkan Davin pada orang tuanya. Sebelumnya ia telah membicarakan pernikahan diam–diam ini kepada orang tuanya. Pernikahannya telah direstui walaupun awal mulanya Edi menentang pernikahan ini. Namun pada akhirnya ia merestuinya juga. Ia tidak tega melihat putrinya merengek. Ini semua ia lakukan demi kebahagiaan Dela.
Suara klakson mobil terdengar. Mang Arman berlari untuk membukakan pintu gerbang. "Eh Non Dela," sapa Mang Arman tatkala ia melihat Dela yang datang.
Dela hanya bergumam kecil untuk menjawab sapaan Mang Arman bahkan suaranya terdengar ketus. Dela berlalu begitu saja tanpa melihat ke arah Mang Arman. Bahkan Davin mengemudikan mobilnya tanpa melihat posisi Mang Arman, sampai–sampai Mang Arman hampir saja terjatuh karena menghindar agar tidak terserempet mobil. Hal itu membuat Mang Arman mengelus dadanya pelan.
"Astagfirullah"
Mang Arman merasakan bagaimana perbedaan sifat dari Dela dan Gea. Gea dengan segala kelembutan dan keramahannya, sedangkan Dela dengan segala kejudesan dan kesombongannya. Jika Gea yang ia sapa, maka dengan hati yang senang pula ia menerima balasan dari Gea.
"Hah … andai itu Non Gea, pasti dengan senang hati ia akan membalas sapaan orang hina ini," keluh Mang Arman. Sebagai orang yang bekerja dengan orang lain, tetap dihargai sebagai manusia adalah suatu impian tersendiri bagi orang seperti Mang Arman.
"Astagfirullah"
Lagi–lagi kata istighfar itu terlontar kembali dari bibir Mang Arman. Tak sadar ia malah kebablasan membandingkan kedua nona mudanya itu. Mang Arman menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan perasaannya itu.
"Oh iya. Tadi Non Dela datang bersama seorang laki–laki. Siapa ya laki–laki itu?"
Mang Arman penasaran. Baru kali ini ia melihat pria itu darang ke sana dengan Dela. Ia langsung merogoh benda pipih canggih dari dalam saku celananya.
"Nah, nanti kasih tahu saya ya siapa pria yang datang bersama Non Dela!" ucapnya lirih pada orang yang ia hubungi tatkala panggilan teleponnya diangkat oleh lawan bicaranya.
"Pria? Pria siapa? Tidak ada Non Dela di sini, Mang apalagi pria." Bi Roinah belum mengerti tentang apa yang dibicarakan oleh Mang Arman. Benar adanya tatkala Bi Roinah berkata tidak ada yang datang.
"Wes, sudah. Pokoknya ditunggu aja. Mereka baru saja masuk ke dalam. Nanti kabari saya lagi ya, Nah."
"Oke Mang. Ngomong–ngomong pria itu tampan tidak?"
Ya begitulah Bi Roinah. Biarpun dia suda berumur, tapi matanya akan bersinar ketika ia melihat orang–orang tampan. Buktinya saja, diusianya yang tak lagi muda, Bi Roinah masih saja megoleksi foto–foto bias seperti Jaehyun, Lucas, Kim Myung Soo, dan masih banyak lagi.
"Haihhh … Nah, cuci dulu otakmu pakai pembersih lantai biar kinclong!"
Mang Arman sering heran dengan tingkah Bi Roinah yang selalu menanyakan kadar ketampanan pria. Tak heran jika diusia Bi Roinah yang menginjak 50 tahun, ia sudah berganti suami beberapa kali karena suaminya tidak tampan.
"Habis Mang pembersihnya," ucap Bi Roinah dengan suara tawa yang ditahan.
"Bik, siapkan minum untuk tamu kita! "
"Iya, Nya!" teriak Bi Roinah yang terdengar dari gawai Mang Arman.
"Bye!" pamit Bi Roinah langsung mematikan sambungan telepon itu.
Mang Arman menjauhkan benda pipih canggih itu dari telinganya.
"Astaga … main dimatikan saja …. Baiklah, mari kita tunggu kabar dari Roinah!" ucap Mang Arman pada dirinya sendiri. Ia menutup pintu gerbang yang sebelumnya masih terbuka sambil bersiul.
🍂
"Mami, Papi."
Dela memeluk mereka secara bergantian. Mereka memeluk hangat anaknya itu.
"Oh iya Mi, Pi, ini suami Dela."
Dela mengenalkan Davin kepada kedua orang tuanya.
"Davin Mi, Pi," ucap Davin sambil tersenyum.
"Astaga tampannya menantuku," ucap Clara sambil memegang pundak Davin.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita masuk saja!" ajak Edi pada mereka.
Dela bergelayut manja pada lengan Davin. Clara mempersilahkan duduk pada menantunya itu.
"Bi siapkan minum untuk tamu kita!" perintah Clara pada Bi Roinah yang tengah bertelepon.
"Iya Nya!'
Bi Roinah langsung mematikan sambungan telepon itu lalu ia membuatkan minum untuk tamu majikannya itu, sedangkan Clara langsung kembali ke ruang tamu.
"Sebentar ya, Vin, minumannya baru dibuat oleh Bi Roinah."
"Yaampun Mi, tidak usah repot–repot, Mi."
"Haisst sudah, tidak repot kok. Masak menantu main ke rumah kok gak di kasih minum," ucap Clara sambil tertawa. Ia langsung duduk di samping suaminya, Edi.
Tak lama setelah itu, Bi Roinah datang membawa minuman. Bi Roinah meletakkan minuman yang ia bawa sambil mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Baiklah, Mi, Pi, sebelumnya saya minta maaf karena saya tidak ijin terlebih dahulu untuk menikahi putri kalian. Semua ini terjadi tiba–tiba saja. Tapi yakinlah, bahwa kami saling mencintai satu sama lain. Mohon restuilah kami," pinta Davin dengan tegas.
"Ayolah restuilah kami. Yeah ... walaupun restu kalian tidak penting bagiku," batin Davin.
Edi terdiam, suara helaan napas terdengar tatkala Davin melamar Dela. Bahkan bisa dikatakan lamaran yang terlambat karena Davin melamar putrinya tepat di hari setelah mereka menikah.
"Yeahh … saya sudah tidak bisa berbuat apa–apa. Toh ini juga untuk kebahagiaan putri saya. Saya merestui kalian. Berbahagialah, bahagiakan putri saya!"
Walaupun awalnya Edi tidak setuju karena pernikahannya begitu mendadak, namun akhirnya ia menyetujui pernikahan Dela dilangsungkan secara pribadi. Baginya, kebahagiaan Dela adalah yang utama.
"Baik Pi, makasih Pi." Davin menghampiri kedua orang tua Dela dan mencium tangan mereka.
"Sudah–sudah …" Edi menepuk pundak Davin.
Edi merasa memiliki keuntungan berbesanan dengan Keluarga Angkara karena dari sini perusahaannya akan semakin kuat. Ya … begitulah dunia bisnis. Mereka akan mencari sandingan yang seimbang untuk mempertahankan kejayaannya.
Bi Roinah yang mencuri dengar pun sangat terkejut kalau ternyata Nona di keluarga ini sudah menikah dan suami nonanya sangat tampan walau sedikit terkesan badboy.
"Wahh berita besar ini."
"Ayo kita semua makan siang bersama di sini. Kebetulan tadi masaknya cukup banyak untuk santapan makan siang kita berempat," ajak Clara karena sudah waktunya makan siang.
Mereka semua menuju ke meja makan.
"Oh iya Vin, nanti setelah makan siang, kita berbicang terlebih dahulu."
"Iya, Pi."
Mereka segera melanjutkan makan siang karena perut mereka sudah meminta asupan makanan.
🍂
Semantara itu di dapur, Bi Roinah menghubungi Mang Arman dengan benda pipih canggih di tangannya.
"Mang, benar–benar berita paling hot ini," ucap Bi Roinah ketika panggilan teleponnya sudah diangkat. Suaranya terdengar antusias.
"Berita apa Nah?" Mang Arman begitu penasaran dengan apa yang dikatakan Bi Roinah.
"Pria itu ternyata tampan sekali Mang!" canda Bi Roinah.
"Hei! Pikiran kamu itu gak pernah jauh dari pria tampan. Kemana–mana masih tampanan aku, Nah!"
__ADS_1
"E'eleeh ... muka seperti itu aja sombong. Terus bokong panci gosong apa kabar?" cibir Bi Roinah.
"Yaudah diganti yang baru lagi, beli di pasar!" ucap Mang Arman kesal.
"Astaga malah topiknya kemana–mana. Balik ke topik Nah. Apa berita hot–nya?"
"Itu Mang, ternyata pria itu adalah suami Non Dela! Sok aku dengarnya. Katanya baru kemarin mereka menikah."
Mang Arman menepuk dahinya. "Aduh Nah, Nah. Kalau gak bisa ngomong bahasa inggris jangan sok–sokan Nah. 'Sok–sok', yang ada sok tahu kamu. Ngomongnya itu 'syok' Nah, bukan 'sok'. Ada–ada aja kamu Nah, Nah."
Bi Roinah hanya menyengir kuda. Sering kali Mang Arman membenarkan pelafalan Bi Roinah yang sering kali keliru tatkala mengucapkan kata yang cukup sulit Bi Roinah ucapkan.
"Waduh! Gak ada angin gak ada hujan langsung nikah saja mereka berdua," lanjutnya.
"Iya Mang. Padahal Non Dela kan baru kali ini membawa pria itu ke sini. Aku curiga, jangan–jangan …." Ucapannya yang sengaja ia jeda, membuat Mang Arman semakin penasaran.
"Jangan–jangan apa Nah?"
"Jangan–jangan Non Dela—"
"Bi ... bersihkan meja makannya, Bi!"
Belum selesai Bi Roinah berbicara, lagi–lagi sang nyonya memanggilnya untuk mengurus sisa–sisa makan siang kala itu.
"Iya, Nya!" sahut Bi Roinah pada Clara.
"Jangan–jangan Non Dela sudah 'tekdung' lagi?" lanjut Bi Roinah.
Kata 'tekdung' yang Bi Roinah maksud adalah hamil duluan. Di kampung tempat tinggal Bi Roinah, orang yang hamil duluan bisa dinikahkan secara mendadak, di hari itu juga. Pengetahuan yang seperti itu membuat pemikiran itu terbesit di dalam pikiran Bi Roinah.
"Astagfirullah … jangan ngawur kamu Nah! Jatuhnya fitnah loh," ucap Mang Arman. Sebenarnya hatinya juga ikut membenarkan ucapan Bi Roinah. Namun, ia menepis pemikiran itu.
"Hehehe …. Ya bagaimana lagi Mang? Siapa tahu kan?"
"Sudah–sudah. Kita lanjutkan pekerjaan kita. Sana bereskan meja makan. Keburu dipecat kamu nanti, Nah!"
Mang Arman takut kepergok ketika ia membicarakan Dela dengan Bi Roinah. Urusannya bisa panjang jika sampai ketahuan.
"Wele–wele amit–amit Mang. Bye!" pamit Bi Roinah. Dengan sigap, ia membersihkan sisa–sisa makan siang itu.
Bi Roinah juga takut jika sampai ia dipecat. Ia masih ingin menikmati gaji yang lumayan dengan bekerja di sini. Apalagi majikannya bukan majikan yang kejam. Sangat disayangkan jika sampai dipecat.
🍂
//
Terimakasih semua masih setia menunggu cerita ini up, terimakasih atas dukungannya 🤗🤗
Sambil menunggu Asa up, kalian bisa juga mampir ke karya teman Asa yang kecee badai 👇👇
🍂
//
Happy reading guys
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1