Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Titik Terang yang Masih Tertutup


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Tere kala Briel dan Gea pulang ke rumah mereka. Ia ingin mengetahui bagaimana hasil mereka mengenai bagaimana bertemu dengan Edi.


Sebenarnya mereka akan bersama–sama mengunjungi keluarga Gea. Namun lantaran Frans ada meeting ke luar kota, akhirnya mereka memutuskan hanya Briel yang bersama dengan Gea.


Tak ada jawaban baik dari Briel maupun Gea. Gea masih terdiam, sedangkan Briel masih berusaha memberikan ketenangan untuk Gea. Briel menatap Tere yang masih menunggu jawaban. Briel menggeleng lesu sebagai jawaban singkat agar Tere tak menanyainya lebih jauh terlebih dahulu.


Tere tersenyum miris. Sungguh, besannya itu sangatlah bodoh menyianyiakan anak seperti Gea.


"Oh iya Bunda tadi meninggalkan kue di oven. Kalian istirahat dulu ya. Bunda mau ke dapur dulu."


Tere memilih pergi untuk memberikan ruang untuk mereka berdua. Bertanya lebih jauh untuk saat ini tak baik untuk mereka berdua. Yang ada emosi yang menggebu–gebu, terlihat dari seberapa murungnya wajah Gea dan seberapa besar kemaraha Briel walau dengan apiknya Briel mampu membungkusnya dalam ketenangan. Biarpun begitu, Tere tetap mampu melihat, naluri seorang ibu tak dapat dibohongi.


Briel dan Gea mengangguk.


"Iya Bun," sahut Gea. Gea masih berusaha tersenyum, memperlihatkan bahwa dirinya baik–baik saja. Namun yang terlihat adalah Gea semakin terlihat menyedihkan di mata Briel mauapun Tere.


"Ayo"


Mereka berdua menggerakkan kakinya meninggalkan Tere.


🍂


"Are you okay?" (Apa kamu baik–baik saja?)


"I'm okay" (Aku baik) ucapnya sembari melepas anting yang ia kenakan di kedua daun telinga.


"Are you sure about it?" (Kamu yakin?)


"Of course" (Tentu)


Gea sibuk menatap dirinya di cermin. Sesekali ia pun menatap Briel yang duduk di ranjang dengan tangan yang berada di belakang, menyangga badannya sendiri. Gea tak ingin memperlama lukanya yang basah kembali. Semakin lama ia meratapi, semakin lama pula luka itu akan mengering. Selain itu ia juga tak ingin menambah beban pikir suaminya yang sedari tadi menatapnya sendu.


"Dah Yank, aku mau bantu Bunda di bawah," pamit Gea yang kini telah berganti mengenakan pakaian rumahan. Namun aura kecantikannya tak pudar hanya dengan memakai pakaian seperti itu.


Briel pun tersenyum, mengangguk.

__ADS_1


Anak tangga demi anak tangga Gea turuni. Ia ingin mempersibuk dirinya agar tak terlalu larut dalam kesedihan.


"Eh lha kok bukannya istirahat malah turun?"


Dengan yangan yang terbungkus dengan sarung tangan tebal, Tere mengeluarkan sebuah loyang berisi kue yang baru saja matang dari dalam oven. Kue kering itu menjadi salah satu camilan favorit yang di setiap habis harus selalu membuatnya kembali.


"Ya ga papa Bun." Gea memperlihatkan deretan giginya tulus. "Ini kue apa Bun?"


"Ini kue kering resep keluarga. Mau coba?"


Tere memilih untuk mengikuti alur yang Gea buat. Ia tak akan mencoba merusak mood Gea yang berusaha sekuat itu. Bertanya pada Briel menjadi pilihannya yang paling tepat. Lantas setelah itu ia juga akan memberitahu Frans. Dia juga berhak tahu akan hal ini.


"He'em" Gea mengangguk antusias layaknya anak kecil yang ingin mencoba hal baru.


Gea mengambil sebuah kue yang Tere berikan khusus untuknya. Sebuah gigitan masuk ke dalam mulutnya. Gea mulai merasakan sedikit–sedikit, mulai menyecap bagaimana rasa kue itu.


"emmm..." Gea menikmati kue itu. Rasanya berbeda dari kebanyakan kue. Wow ... Ia sangat exicited.


"Gimana? Gak enak ya?" Tere khawatir Gea tak akan suka dengan kue buatannya.


"Semuanya pun boleh."


Kue kering dengan rasa coklat itu terbukti ampuh untuk meredakan kesedihan yang Gea alami saat ini.


🍂


Diam dalam kesendirian, itulah yang Edi lakukan saat ini. Ia duduk menatap langit bersemburat merah dengan secangkir teh hangat di tangannya. Sesekali ia menyeruput sedikit demi sedikit hingga rasa hangat menyusuri tenggorokannya mengalir ke lambung. Namun masih tak dapat meredakan kegelisahan hatinya.


Kilasan–kilasan beberapa waktu lalu bermunculan kembali di pikirannya beriringan dengan cahaya sang mentari yang kian terang dan perlahan mulai meredup itu.


Kalimat demi kalimat yang istri juga anaknya katakam terngiang–ngiang. Selama ini ia begitu percaya dengan apa yang mereka katakan. Namun kali ini, kepercayaan itu telah hancur.


Edi melihat dan mendengar semuanya dengan jelas. Sewaktu Gea datang hari ini, sebenarnya ia tengah berjalan untuk menemui anaknya itu. Namun ia mengurungkan niatnya sementara waktu untuk melihat apa hal yang akan terjadi lantaran istri dan anaknya telah muncul di sana.


Ia pun menggeleng tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia pun berpura–pura tak tahu akan fitnah yang Dela layangkan untuk Gea. Seketika itu pun Edi mengingat tentang kejadian di hari itu. Ia pun berjalan ke ruang CCTV.

__ADS_1


"Sial!!"


Rekaman CCTV telah rusak. Ia tak mampu melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mengotak–atik di bidang kecanggihan teknologi, ia bukanlah ahlinya.


Ia pun memanggil Dela, satu–satunya di rumah itu yang cukup mengerti mengenai teknologi.


"Ada apa Pi?" tanya Dela dengan santainya.


"Kenapa di hari ini tidak ada rekaman CCTVnya?" tunjuk Edi pada tanggal yang tertera pada layar komputer. Ia sengaja berpura–pura tak tahu perihal apapun. Karena memang dalam 6 bulan sekali ia akan memantau kembali dan telah menjadi kegiatan rutin.


"O–ohh itu ..." Dela memegang rambutnya. Ia paham, waktu itu adalah hari di mana Gea datang ke rumah. Dialah yang menghapus rekaman itu agar tak bisa dilihat oleh Papinya itu. Salah bicara akan membahayakan dirinya.


"Kan waktu itu kamera CCTV kita yang mengarah ke gerbang itu rusak Pi. Jadi mana mungkin ada rekamannya Pi."


"Benarkah?" Edi menatap Dela dengan tatapan menyelidik. Gelagat yang Dela tunjukkan sangatlah mencurigakan.


Detak jantung Dela berirama cepat. "Damn it!" umpat Dela dalam hati. Dela berusaha setenang mungkin agar apa yang ia lakukan tidak diketahui oleh Edi.


"Iya Pi, benarlah. Papi lupa pasti. Ingat–ingat deh! Di hari itu juga kan langsung dibenerin. Dela yang mengurusnya." Dela berusaha meyakinkan Edi.


Edi mengangguk akan penjelasan Gea. "Oke. Ya sudahlah lagi pula hanya sehari," ucap Edi agar dirinya juga tidak berbalik dicurigai.


"Pi aku balik ke kamar ya," pamit Dela lantas meninggalkan Papinya. Ia pun menarik napas lega walaupun tak bisa dipungkiri kekhawatiran itu masih saja bertahan dalam batinnya.


"Untung saja. Aman!" gumamnya lirih.


Sedangkan di dalam ruangan itu, Edi menekan layar gawai yang menyala. Sebuah nomor telah terhubung dengan dirinya.


"Aku membutuhkan bantuanmu," ucapnya singkat, lantas mematikan sambungan itu.


🍂


...//...


Happy reading gaess

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2