
"Ada apa ini?" tanya Gea dalam hati sembari terus melihat Briel yang masih serius berkomunikasi dengan lawan bicaranya.
Cukup lama Gea memperhatikan Briel dengan seksama. Bahkan film yang ia tonton sudah tak menarik perhatiannya. Semua perhatiannya sudah terpusat pada Briel seorang. Sesekali pria itu hanya mengangguk atau bergumam ya ya ya baik oke atau sesekali Briel menjawab dengan sebuah pertanyaan.
Tiba–tiba saja Briel datang ke arah Gea.
"Geyang, aku pakai dulu ya." Briel mengambil alih laptop yang Gea pakai sebelumnya.
"Hem..." Gea mengangguk mempersilahkan.
Briel mulai mengotak atik benda pipih lebar itu. Ekspresi wajahnya kentara begitu serius. Gea masih bertanya dalam diam, belum menyuarakan apa yang ingin ia suarakan walau batinnya meronta penasaran. Gea duduk mendekat ke arah Briel dan melihat apa yang Briel lakukan. Briel pun tak mempermasalahkan apa yang Gea lakukan.
Sebuah tangan besar itu mengusap dagu sang pemiliknya. Wajah tampan itu terlihat begitu terkejut tatkala apa yang ia cari telah ia temukan. Begitupun juga dengan Gea yang turut melihat apa yang Briel lakukan.
"Apakah berita ini benar?" tanya Gea sembari terus memandangi artikel itu.
Briel mengangguk–angguk. "Iya benar. Mobil yang ditemukan dan juga plat dari mobil itu sama dengan mobil yang dia punya."
"Astaga ..." ucap Gea yang masih tak percaya.
Yeah ... Beberapa saat lalu, Briel mendapat informasi dari anak buahnya bahwa Ayu terlibat kecelakaan mobil. Kebetulan anak buah Briel melewati jalan tempat kecelakaan itu. Dan tak disangka mobil itu milik Ayu.
"Lalu bagaimana dengan Ayu," tanyanya kemudian. Ia khawatir dengan keadaan Ayu saat ini. Wajahnya tak bisa dibohongi.
Briel menggeleng. "Aku tak tahu pasti. Mereka tak menemukan sosok di dalamnya. Mobil itu jatuh ke jurang dan di bawah sana ada sungai yang mengalir deras. Ada kemungkinan tubuhnya terseret derasnya arus sungai itu."
"Astaga Tuhan ...." ucap Gea. Ia tak percaya, Ayu akan mengalami kejadian–kejadian buruk yang bertubi–tubi. Belum sempat luka itu sembuh, Ayu harus mengalami kecelakaan maut.
"Apakah Ayu akan selamat?" tanya Gea kemudian.
Briel terdiam sebelum ia menjawab pertanyaan Gea. Ia menatap Gea yang ternyata juga tengah menatapnya itu, menanti sebuah jawaban darinya. Helaan napas Briel yang berat sampai ke telinga Gea.
Briel hanya menggeleng sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan Gea.
"Dia tidak selamat? Begitu?" tanya Gea untuk meyakinkan apa yang ia pahami dari yang Briel berikan itu.
"Ada kemungkinan selamat. Namun kemungkinan itu begitu kecil. Saat ini tim SAR juga tengah berusaha mencarinya. Semoga saja ada kabar baik," jelas Briel.
Jatuh ke jurang dan terbawa arus sungai merupakan pencarian yang sulit. Apalagi jika arus sungai itu deras. Tidak ada yang tahu sampai mana tubuh Ayu akan berlabuh. Atau bisa saja jika kemungkinan buruk yang terjadi, tubuh Ayu bisa saja tersangkut pada batu bahkan terjepit di kedalaman yang pastinya akan sulit untuk ditemukan.
__ADS_1
"Bantu cari dia Bayang," pinta Gea. Tatapannya begitu sendu, bahkan kesedihan tersirat jelas di wajahnya.
Briel mengangguk mengiyakan. Walaupun sebenarnya ia sedikit enggan. Karena Ayu, rumah tangganya berada di ujung tanduk, bahkan bisa saja terjatuh ke jurang.
"Terima kasih Bayang," ucap Gea tulus. Spontan Gea memeluk tubuh kokoh suaminya itu.
🍂
Sementara itu di kediaman Keluarga Angkara, Selly berada di suatu kamar. Ia ketakutan jika polisi datang menemuinya. Ia duduk di tepi ranjang dan sesekali ia berdiri sembari berjalan tak tentu arah.
Ting tong
Suara bel itu terdengar jelas di indra pendengarannya. Selly mendongakkan kelapanya. Rasa gelisah itu semakin besar membelenggunya.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?" Selly menggigit–gigit kecil kukunya. Selly berjalan cepat ke kamar mandi. Dia membasuh wajahnya kembali agar wajahnya lebih fresh kemudian mengelapnya dengan handuk kecil agar tetap kering. Ia mengambil napas dalam kemudian menghembuskannya kasar. Lumayan untuk mengurangi kegugupannya.
Selly berjalan menuju pintu utama. Sudah berulang kali suara bel itu ia dengar. Ia menyiapkan diri untuk membuka pintu itu.
Ceklek
"Selamat malam. Bisa berbicara dengan Ibu Selly?" tanya seorang pria berbaju seragam itu.
Selly berpura–pura terkejut. "Saya sendiri ... Ada apa ya Pak?"
"Kami ingin menginformasikan pada Anda bahwa anak Anda, Davin telah kami tahan dan ini ada surat penangkapan untuk suami Anda," ujarnya sembari menyerahkan selembar amplop yang tentunya berisi surat penangkapan.
Pandai sekali. Raksi Selly layaknya seorang istri yang terkejut jika keluarganya berurusan dengan kepolisian.
"Gledah!"
Gerombolan polisi yang terdiri dari 3 orang itu masuk ke dalam rumah, mencari keberadaan Kemal di dalam rumah. Namun sayang seribu sayang. Mereka tak menemuka keberadaan Kemal. Bahkan CCTV terakhir pun tak ada rekamannya. Rekaman itu telah rusak dan tak bisa dikembalikan.
Mereka semua pergi dari rumah itu dengan tangan kosong. Yang tentunya masih mencari buronan. Selly pun bisa bernapas lega untuk sejenak. Hingga bunyi bel terdengar kembali.
"Haih ada apa lagi sih mereka?!" gerutunya kesal. Selly membukakan pintu itu kembali. Kali ini berdirilah 2 orang yang juga dari pihak kepolisian, namun mereka bukan polisi yang sama dengan sebelumnya.
"Iya saya sendiri?" ucap Selly setelah memperkenalkan diri.
"Apakah benar ini mobil milik anak Ibu?"
__ADS_1
Deg
Bagai tersambar petir, jantung Selly seperti berhenti berdetak. Polisi itu memberikan sebuah foto mobil yang rusak parah di jurang yang dalam.
"I–ini mobil siapa?" tanya Selly terbata. Ia ingin meyakinkan apa yang ia lihat.
"Apakah ini benar mobil anak Ibu?" tanyanya lagi.
"I–iya benar. Ke–kenapa mobil ini?" tanya Selly. Mata yang semula telah berhenti mengeluarkan air, kini air itu telah menggenang kembali.
"Mobil ini mengalami kecelakaan dan masuk ke jurang. Namun naasnya pengendara mobil ini belum juga ditemukan."
"Apa? Ti–tidak mungkin kan? Itu pengendaranya bukan anak saya kan?"
"Kami belum bisa memastikan Bu. Namun inilah yang kami temukan. Kami masih mencari pengemudinya."
Polisi itu menyerahkan identitas yang tertinggal di dalam mobil. Selly menerimanya dengan ragu. Dan betapa terkejutnya ia. Benar. Itu milik anaknya. Tak terasa kakinya bagaikan tulang lunak yang tak mampu menyangga tubuhnya. Ia jatuh ke lantai. Air matanya mulai luruh membanjiri pipi mulus wanita paruh baya itu. Raungannya memenuhi ruangana itu. Rasa sakit menghantam dadanya. Sesak. Ia hanya bisa menangis dan menangis.
Hati seorang ibu, tak pernah bisa dibohongi. Seburuk–buruknya seorang ibu, ia memiliki hati untuk anaknya. Bahkan sebenci–bencinya hati seorang ibu untuk anak kandungnya, sayang itu masih akan tetap ada. Hanya saja tertutup oleh rasa benci yang sebenarnya keliru untuk diartikan. Apalagi Selly, seorang ibu yang sedari Ayu lahir begitu menyanyanginya, menjaganya dari hal buruk agar Ayu tak ikut terbelenggu dalam jurang kelam.
🍂
//
Huwaa 😭😭😭
Dah numpang seperti itu aja ☺😊
🍂
//
Sembari menunggu Asa up bisa mampir dulu di novel para kodok aer 😘😭
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaess,
Jangan lupa bahagia 💕💕