
Beberapa tahun kemudian ....
Gemuruh suara teriakan tamu undangan bersahut-sahutan memenuhi ruangan. Ruangan itu cukup besar. Semua kursi itu terisi penuh oleh orang-orang berpengaruh dari berbagai negara di dunia bahkan pakaian mereka terlihat modis dan elegan. Sebuah karpet merah panjang membentang di panggung. Lampu sorot itu gemerlapan membuat kesan mewah dan meriah.
Sorakan kembali terdengar kala dua MC terkenal naik ke atas panggung untuk membuka acara. Sapaan demi sapaan mereka gemakan, berusaha membuat acara itu hidup.
"Selamat datang dan menyaksikan salah satu fashion show terbesar di dunia: Gala Fashion Week!!"
Tepuk tangan yang meriah. Bahkan seakan tidak ada suara lain yang mampu mengambil alih perhatian mereka saat ini.
Sedangkan di bangku VVIP, seorang wanita terlihat sangat anggun dengan dress silver dengan pernak pernik berkilau yang membuat penampilannya sangat mewah. Bibirnya tak berhenti melengkung ke atas. Wajah itu tak berniat menyembunyikan kebahagiaan yang bergelora. Di sebelahnya pula ada seorang pria bertubuh tegap membelai tangan mungil yang melingkar di tangannya. Kelembutan sentuhan itu menyiratkan kasih sayang yang tulus tanpa batas. Keromantisan mereka tak mengenal tempat. Mereka tidak peduli dengan banyak pasang mata yang menatap mereka iri. Gumaman bersautan pun tak mereka hiraukan.
"Makasih Bayang. Setelah sekian tahun kita menunda, hari ini proyek kita waktu itu dapat terlaksana sekarang," ujar Gea. Sepasang mata Gea menatap hangat ke arah Briel. Briel mengukir senyum, hingga sebuah suara toa mengagetkannya.
"Astaga kalian! Tolonglah tau tempat! Kalau mau mesra-mesraan itu di kamar, bukan di sini!" ujar seorang pria yang kini membopong seorang anak laki-laki berusia 6 tahunan. "Lebih baik kau ajak istri kau ke hotel lagi sana!" ujarnya ketus. Ia semakin kesal melihat pria itu semakin menunjukkan keromantisannya dengan sang istri secara terang-terangan.
"Iri bilang Bos!!" ejek pria itu pada si pengomentar yang tak lain adalah Gaza.
Briel tersenyum mengejek Gaza. Ia malah menyenderkan kepala sang istri untuk menyender di lengan kekarnya. Sedangkan sang istri semakin gencar menggoda iparnya itu.
"Nyamannya bahu Bayang." Wanita itu mengambil posisi ternyaman di bahu suaminya itu.
"Jelas dong, Geyang, apa lagi ada tontonan meriah seperti ini," sindir Briel sembari melirik Gaza. Tontonan yang ia maksud adalah ekspresi kesal Gaza yang seperti menahan hajat.
Gaza tidak menyahut lagi. Ia merotasikan bola matanya, muak dengan drama sepasang suami istri yang tidak bisa ia lakukan dengan sang istri saat itu. Prinsipnya adalah, kalau ia tidak bisa orang lain akan ia ganggu.
Gaza tersenyum miring, matanya berbinar. Ide jahil terbesit kembali. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga anak kecil itu, lantas tersenyum dan mengacungkan jempol untuk memastikan anaknya mengerti.
Dua manusia laki-laki berbeda usia menyatukan tangan mereka, high five sebagai awal rencana mereka dimulai.
"Apa kau senyum senyum! Pasti kau rencanakan hal konyol lagi kan?!" selidik Briel dengan tatapan tajam. Ia curiga dengan senyuman dan wajah Gaza. Selama ini kehadiran Gaza hanya membawa kericuhan.
"Suka-suka akulah! Lagian aku punya mata fungsinya juga untuk melihat. Hilih... Geer amat jadi manusia. Tuh liat aku bis melihat apa aja. Apa pentingnya kamu hingga aku harus mengurusi hidupmu?!"
"Heh! Kutu kumpret!! Binimu punya nama nama karena acara ini juga. Bisa bisanya bilang aku tidak penting!"
"Ya... Kalau itu beda urusan. Urusan itu sama istriku, bukan sama aku," sahut Gaza tak mau kalah. Baginya urusannya dan urusan istrinya kepada Briel tidak ada kaitannya. Dia ya dia, istrinya ya istrinya
"Sok... Sok bijak!"
__ADS_1
Seakan tak mendengar ucapan Briel lagi, kini Gaza menurunkan anaknya. Anak itu segera berlari menjalankan misi sesuai dengan interupsi sang ayah.
"Good luck boy!"
Anak kecil itu berlari dengan jempol yang teracung ke atas, menandakan dirinya paham. Usianya memanglah sangat muda bahkan tubuhnya sangat mungil. Namun kecerdasannya tidak diragukan lagi.
Sementara itu, acara inti fashion show itu tetap berlanjut, meninggalkan kegaduhan yang diciptakan oleh sang pembuat acara.
Tak lama kemudian dua anak dengan wajah sama menghampiri Gea dan Briel. Mereka menghampiri dengan wajah polos.
"Buna, Ayah, Nino pengin naik panggung!"
"Rio juga Rio juga!" Rio tak ingin kalah dengan kembarannya. Banyak kesamaan di antara mereka, hanya saja jangan sampai nanti pasangan juga sama wkwkwk
Mereka merengek rengek pada kedua orang tua mereka. Hasutan anak Gaza sangatlah manjur. Mereka termakan hasutan. Mereka hanya ingin naik ke atas bersama dengan bunda mereka, seperti anak-anak lain yang akan ikut serta dalam event ini.
Sebentar ya sayangnya bunda, acaranya baru mau dimulai," jelas Gea.
"Tidak mau..." Mereka merengek-rengek terus. Tangis mulai terdengar. Hal itu membuat Gaza tersenyum menang.
"Enak saja mesra-mesraan di sini. Gak liat apa kaum jomblo meronta-ronta," gumam Gaza nyaris tak terdengar oleh siapapun.
π
Sorakan begitu meriah terdengar kala Nino dan Rio berusaha berpose sesuai standar model. Banyak kesalahan yang mereka perbuat. Namun justru kesalahan Nino dan Rio mengundang gemas para penonton. Bahkan di antara mereka yang memiliki anak usia 5 tahunan berusaha mengambil hati Briel dan Gea agar kelak bisa masuk kedalam circle keluarga Sultan sekelas Briel. Kehidupan mereka sudah pasti terjamin.
π
"Aunty!!!" Teriak si kembar kala mereka melihat Dela melenggak-lenggok di atas panggung bersama dengan putra sulungnya. Mereka sangat heboh dalam memberikan semangat untuk tante mereka.
"Mama!!!"
Anak kecil yang kembali Gaza gendong memanggil keras sebutan mamanya.
Iya, model ibu dan anak yang Gea angkat dari butiknya itu adalah Dela dan Cavin, anaknya. Seusai Dela sadar waktu itu, ia memberikan pekerjaan untuk Dela. Waktu itu denyut jantung Dela sangat lemah, hingga mampu mengecoh para dokter dan memutuskan jika Dela meninggal. Keadaan di rumah sakit kala itu sangatlah mencekam. Bahkan Edi sempat hampir membunuh dokter itu. Untung saja detak jantung Dela kembali dengan intensitas lebih mudah dideteksi.
Seusia acara itu berlangsung, Gea dan Briel menunggu Dela turun dari panggung. Kini mereka ada di back stage. Jangan ketinggalan pula, Gaza, sang suami cassanova yang beralih profesi kapten bucin.
Suara sepatu bersahutan terdengar. Mereka menghambur ke pelukan Dela. Dela merentangkan tangannya dan menyambut hangat tubuh mungil anak bungsunya.
__ADS_1
"Astaga Vin, kamu habis makan apa?" ujar Dela lembut kala sisa coklat cair menempel di baju mahal yang ia kenakan.
"Ada tadi dikasih papa," ujar anak itu jujur. Nada bicaranya juga masih tidak beraturan. Sedangkan Niel, anak sulung Dela, menatap malas ke adiknya. Menurutnya adiknya terlalu manja untuk dirinya yang cool.
"Bang... " tegur Dela.
"Iya-iya, Ma!" ucap Niel malas. Sebenernya ia juga tidak suka adiknya terlalu bermanja dengan mamanya.
Sebuah lengkung bibir ke atas terukir kembali. Gea sangat bersyukur, pada akhirnya semuanya baik-baik saja. Dela yang dulu dinyatakan telah meninggal, kini telah kembali lagi bahkan dengan keluarga kecil yang mampu saling menerima kekurangan. Terlebih masa lalu Gaza yang membuat geleng-geleng. Dela pun tidak beda jauh.
Satu sisi lagi yang harus ia syukuri, proyek yang telah lama mangkrak, kini dapat ia wujudkan. Bahkan dengan sebuah kerja sama yang tidak terduga, kerja sama dengan perusahaan suaminya sendiri.
"Jangan kebanyakan senyum di tempat umum. Aku tidak rela mereka melihatmu dengan tatapan menginginkan seperti itu!" sungut Briel dengan kedua tangan yang sibuk menggendong kedua anaknya. Ia cemburu melihat orang lain tidak berkedip menatap sang istri.
Bukannya marah, Gea malah tertawa dibuatnya. Namun siapa sangka jika tawa renyah Gea semakin membuat Briel jengkel.
"Lama - lama kamu aku kurung di kamar saja!" sungut Briel semakin menjadi. "Kalau perlu sampai Briel junior ada kembali!"
"Enak saja kau! Acara masih banyak dan belum selesai!" tolak Gea.
Briel tak peduli. Kini mata Briel berbinar. Sorot mata itu berubah cepat. Ia menghiraukan tatapan Gea yang seakan ingin menguliti Briel.
"Apa kalian mau adek boys?" tanya Briel pada kedua anaknya.
"Mau mau mau!!! Gimana cara biar ada adek, Yah?" tanya Nino.
"Ya ada lah. Caranya tinggal dibuat saja," jawab Briel asal.
"Kalau kalian mau adek, kalian pergi dulu ya. Sana main sama Cavin sama Niel. Nanti kalau lapar minta makan sama aunty sama uncle." Briel mulai mengisi pikiran kedua anaknya.
Dengan senang hati kedua anaknya itu mengangguk. Briel tersenyum penuh kemenangan. Ia beralih menatap Gea. Rahang Gea terjatuh, menganga begitu saja. Ia tidak percaya ternyata pengaruh suaminya tidak berbantah sedikitpun.
"Lihatlah, mereka saja setuju. Tunggu apa lagi? Ayo kita cetak rekor Briel junior lagi!!!"
Tanpa aba-aba, Briel mengangkat tubuh Gea yang tidak berubah itu meski sudah pernah melahirkan. Ia membopong tubuh Gea menjauh dari kerumunan, meninggalkan sebuah cerita bahagia yang ternilai dari semua pasang mata yang menjadi saksi bisu kisah cinta mereka. Mereka akan tetap mengukuhkan janji pernikahan yang telah mereka ikrarkan. Sehidup semati sampai ajal menjemput.
π
...SEKIAN...
__ADS_1