Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
93. What??


__ADS_3

Namun niat Gea diurungkan. Ada seseorang yang menahan tangan Gea. Semua yang ada di sana dibuat tegang karena ada seseorang yang berusaha menengahi pertengkaran itu. Suara kasak kusuk semakin terdengar dari orang–orang di antara mereka. Sedangkan Runi masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.


"Eh kenapa tidak terjadi apa–apa?" tanya Dela dalam hati. Ia heran kenapa bisa. Ia pun mengangkat kepalanya. Ia melihat seorang pria yang asing tengah mencekal tangan Gea. Dengan santainya ia membenahi rambutnya.


"Ada hubungan apa mereka berdua? " ucap Runi dalam hati.


Gea melihat ke arah tangannya. Tangannya dicekal oleh orang itu.


"Bang?" gumamnya lirih.


"Jangan kotori tanganmu, hanya untuk meladeni orang seperti mereka."


Sorot mata Briel menajam. Ekspresinya terlihat datar.


Yeah dia Briel. Saat itu, ia tengah bertemu dengan seseorang di sana. Dan setelah ia selesai, ia melihat Gea ada di salah satu butik. Ia melihat keributan di sana. Ia mulai mendekat untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata Gea tengah ribut dengan ibu tirinya dan Dela.


Perlahan, Briel menurunkan tangan Gea yang masih ia cekal di udara. Gea tak melawan. Ia menuruti apa yang Briel mau.


"Maaf ibu dan mbak yang terhormat, Anda telah keliru, berhadapan dengan siapa. Lihatlah nanti apa yang akan terjadi. Saat ini bersenang–senanglah. Permisi!"


"Ayo, Gey!"


Briel menarik Gea keluar dari sana. Runi pun mengikuti Gea dan Briel di belakangnya. Di kepalanya telah berenang–renang banyak pertanyaan. Ia belum mengerti apa yang terjadi.


Sedangkan Dela dan Clara menatap cuek kepergian Gea dan yang lainnya.


"Siapa sih dia, Mi? Berani beraninya berbicara seperti itu sama kita?" ucap Dela meremehkan siapa Briel. Ia merasa hebat dengan posisinya sebagau anak pengusaha kaya dan istri dari Davin.


Clara mengedikkan bahunya. "Entahlah. Sudah gak usah dipikirkan! Ayo kita lanjut saja."


Mereka berdua melanjutkan kegiatan shopping mereka yang tertunda.


🍂


Saat ini, Briel menarik Gea keluar dari sana. Runi masih tetap mengikuti di belakangnya. Tiba–tiba saja Runi berjalan lebih cepat dan menghadang mereka berdua agar berhenti.


"Berhenti!"


Briel mengernyit. Ia heran mengapa Runi menghalangi jalannya.


"Maaf." Runi menatap Briel. Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Gea.


"Jelaskan Gey. Ada apa ini?"


Briel menarik napas dalam. Akhirnya dia mengerti. Rupanya Gea belum menceritakan semuanya sama Runi. Ia menunggu Gea berbicara.


Gea terdiam sejenak. Ia mengambil napas dalam dan menghembuskanya cepat.


"A–"

__ADS_1


"Mari kita cari tempat yang enak untuk mengobrol," potong Briel cepat. Tidak enak berbicara di parkiran seperti itu. Mereka pasti akan menjadi pusat perhatian.


Briel mengajak Runi dan Gea ke sebuah cafe. Briel memilih untuk mendatangi cafe yang tidak terlalu ramai agar apapun yang dibicarakan tidak di dengar oleh banyak orang.


"Pesanlah makanan!" Briel menyuruh Gea dan Runi untuk memesan apapun yang mereka mau. Gea menggeleng sembari merapatkan bibirnya. Ia tak berniat memesan makanan lagi, karena ia sudah kenyang. Begitupun juga dengan Runi. Namun Runi hanya diam sembari menatap heran pemandangan di depannya.


"Ya sudah kalau tak mau."


"Mas, coffee latte 3." Briel memutuskan untuk memesan minuman untuk mereka bertiga.


"Tidak masalah kan?" tanya Briel. Runi dan Gea pun mengangguk.


Keheningan hadir di antara mereka. Runi belum berani mengeluarkan suaranya. Ada CEO di sana membuatnya dia tak bisa berkutik. Sedangkan Briel masih santai. Ia memang belum mempersilahkan. Namun sebenarnya dia juga menunggu Runi berbicara.


Tak lama setelah itu minuman mereka pun datang. Coffee latte sudah tersaji masing–masing di hadapan mereka.


"Kenapa masih diam? Silahkan mengobrol," ucap Briel. Ia menyeruput minumannya sedikit demi sedikit.


Runi tersenyum canggung. Ia tak terbiasa dengan adanya Briel di sana.


Briel meletakkan cangkirnya. "Gea istri saya."


Briel mengucapkannya dengan santai. Perkataan Briel sukses membuat Runi membulatkan matanya. Ia masih belum percaya dengan apa yang ia dengar.


"What?? Demi apa? Apakah ini nyata?" ucap Runi spontan dengan suara yang cukup keras pula. Runi lupa bahwa ada atasannya di sana.


Runi tersenyum canggung.


Gea meringis. Ia sudah mengira bahwa Runi akan syok dengan tatkala Runi mengetahui semuanya.


"Gey?"


Gea tersenyum tak enak hati dengan Runi.


"Iya. Dia suami aku."


Runi menggeleng tak percaya. Ekspresi wajahnya tak terbaca. Hal itu membuat Gea takut Runi kecewa.


"Astagaa … pantesan disembunyikan. Pantesan juga kamu berani traktir aku makan. Ternyata …."


"Maaf Run. Kan belum pas saja waktunya untuk memberitahumu dan kebetulan, ternyata malah ada kejadian tak mengenakan seperti ini."


"Tidak apa." Runi mencondongkan wajahnya ke arah Gea.


"Lalu aku harus panggil kamu siapa? Kan kamu istri Pak Bos." Runi berbisik lirih di dekat telinga Gea.


Gea tertawa. "Sudah biasa saja. Aku kan sahabatmu. Tapi awas kalau sampai semua orang tahu aku siapa."


"Kenapa? Bukannya bisa menimbulkan fitnah?" tanya Runi penasaran.

__ADS_1


"Tidak semuanya kamu harus tahu."


Dengan santainya Briel menyahut pertanyaan Runi yang ditujukan pada Gea. Briel menyeruput kembali minumannya. Perkataan Briel begitu menohok di hati Runi, membuat Runi menciut. Ia menelan ludahnya kasar.


Plak


Gea menabok ringan tangan Briel. Briel mengaduh kecil. Gea menatap Briel tajam. Untung saja cangkir yang sebelumnya ia bawa sudah ia letakkan di meja.


Briel mengernyit. "Ada yang salah?"


"Nggak!" jawab Gea agak ketus.


"Kenapa wanita sesulit ini?" gumam Briel lirih dalam hati. Namun ia lebih mengalah saat ini. Karena ia tak mau ada perdebatan panjang.


Runi pun menggaruk pipinya dengan satu jari. Ia merasa aneh dengan pemandangan di depannya. Ia masih tak menyangka, seorang cleaning service menikah dengan CEO. Dan sekarang dua senjoli yang ada di depannya terlihat begitu santai.


"Lalu mereka siapa, Gey?"


Gea menarik napas dalam. "Mungkin ini saatnya aku untuk mengungkap siapa aku kepadamu Run."


Runi masih menunggu jawaban Gea. Sejumlah pertanyaan berenang–renang di kepalanya.


"Mereka ibu tiri dan saudara sedarah ayah."


Runi masih mencoba mencerna ucapa Gea.


"Tapi kenapa kami sekarang hidup seperti ini? Bukannya gaya hidup mereka sudah menjelaskan seberapa kayanya keluargamu?"


Gea menjelaskan semuanya pada Runi. Untuk butik, Gea masih enggan untuk memberitahu Runi. Tempat itu cukup rawan untuk mencari siapa dia sebenarnya.


"Aku tak menyangka kamu ternyata bukan orang biasa, Gey." Runi menggelengkan kepalanya. Ternyata selama ini ia berteman dengan anak kolongmerat, walau sudah terbuang.


"Mari pulang," ajak Briel. Gea mengangguk.


"Run kamu bareng kita aja."


"Ta–tapi–"


"Bareng kami saja!" Briel sudah memberikan ultimatun. Runi tak berani membantah


Mau tak mau, nyaman tak nyaman, Runi ikut dengan mobil mereka.


🍂


//


Happy reading guys,


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2