Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Antara Tiada dan Ada


__ADS_3

Gea menarik napas dalam, meminimalisir keraguan yang mengendap–endap masuk tanpa permisi. Gea memegang lengan Briel cukup kuat lantaran ia ingin mendapatkan sebuah energi yang lebih besar untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"Kalau kamu ragu, jangan lakukan. Biarkan mereka hidup dengan hidup mereka dan kamu hidup dengan kita."


Briel menatap manik mata Gea lekat. Ia tak ingin memaksa Gea untuk mempertemukannya dengan kedua orang tuannya.


Gea menggeleng cepat. "Tidak. Kita sudah sampai sini. Kita harus tetap masuk ke dalam."


Seperti menelan ludahnya sendiri, namun Gea tetap melakukan apa yang memang seharusnya ia lakukan meski dahulu ia pernah bilang tak ingin menginjakkan kakinya di sana lagi.


"Baiklah. Tapi aku tak akan membiarkanmu diinjak begitu saja oleh mereka."


Tulus, Briel mencurahkan segala cinta yang ia punya. Menyakiti Gea sama halnya menyakiti dirinya. Ia tak akan membiarkan perlakuan buruk terjadi pada istrinya itu. Apa lagi saat ini kandungan Gea telah menginjak bulan ke– 4.


Gea mengangguk sebagai jawaban atas perkataan Briel.


"Ayo"


Briel menggenggam jari jemari Gea, bertaut menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dengan yakin mereka berjalan masuk.


"Non Gea!" Seseorang berlari menghampiri Gea dan juga Briel. "Apa kabar Non?" sapa Arman kemudian. Setelah sekian lama tak berjumpa dengan Gea, ada kerinduan tersendiri akan Nonanya yang selama ini tersingkirkan.


"Hai Pak Arman. Baik Pak. Gimana dengan Bapak?"


"Alhamdullilah Non, sehat."


Tak bisa dipungkiri. Ia begitu mengasihi majikannya yang satu ini meski saat ini tak menjadi majikannya, namun sepanjang hidup ia akan menganggap Gea orang yang memang seharusnya dihormati lantaran attitudenya yang berbeda dari yang lainnya.


Cukup lama Arman menatap ke arah Briel dengan tatapan penuh tanya akan siapa Briel. Tanpa sadar telunjuk tangannya bertahan menunjuk ke arah Briel.


"Eh maaf Non."


Jari telunjuk yang semula berdiri pun ia tarik. Arman menyadari kesalahannya yang kurang sopan. Tak seharusnya ia menunjuk tamu yang datang bersama dengan sang majikan.


"Beliau siapa?"


Gea tersenyum. Ternyata Arman tak berubah. Satpamnya itu masih sama, seperti sebelum ia keluar dari rumah itu.


"Suami saya Pak."


"Briel Pak."


Briel memperkenalkan diri, menyahut cepat kalimat istrinya. Senyum tersemat. Tak ia sangka, ternyata istrinya mampu bersikap baik pada siapapun tanpa melihat apa pekerjaan dan siapa mereka.


Arman ternganga. "Secepat ini Non Gea sudah bersuami?" Ia masih tak percaya dengan yang ia lihat kali ini. Terakhir kali ia melihat Gea datang sendirian ke sana.


Senyuman manis itu terlukis jelas di wajah Gea. "Iya dong Pak. Nikah muda gitu." Gea tertawa kecil.


"Ahh ... Harusnya Non undang saya waktu itu," ujarnya asal dengan candaan.

__ADS_1


Tawa itu pun terdengar indah di telinga Briel maupun Arman. "Nanti Pak saya undang."


"Eh eh ... gak perlu deh Non. Saya bercanda," sahutnya cepat.


Gea menggeleng melihat tingkah laku Arman.


"Papa ada Pak?"


Gea teringat kembali tujuan awalnya datang ke sana.


"Ada Non di dalam. Tapi Nyonya dan Non Dela ada di dalam juga."


Mengucapkannya saja Arman begitu ragu. Ia tak ingin hal buruk terjadi kembali pada Gea. Gea pun mengangguk. Ia harus mempersiapkan mental lebih untuk menghadapi mereka semua.


"Terima kasih Pak. Ayo ke dalam."


Briel kembali menggenggam erat jemari Gea, memberikan kepercayaan dan keberanian lebih untuk menghadapi semuanya.


"Eh Non Gea. Ayo masuk dan duduklah dulu."


Roinah menyambut hangat kedatangan Gea. Sama seperti Arman yang penasaran, Roinah memilih menyembunyikan apa yang ia rasakan. Semuanya tersimpan rapat di dalam batinnya.


"Tenanglah," ujar Briel.


Gigitan–gigitan kecil yang Gea lakukan membuat Briel paham akan apa yang Gea rasakan. Sentuhan tangan Briel yang menggenggam erat tangannya terasa hangat dan menenangkan. Tak ada hal lain yang mampu menenangkan dirinya secepat ini.


"Adudududu ... Ada anak durhaka yang datang nih," sindir Dela sinis.


Rahang Briel mulai mengeras. Tangannya yang semula menggenggam hangat nan lembut kini berangsur–angsur semakin kuat. Sentuhan lembut Gea berikan pada jari jemari yang semula menenangkannya.


Gea menatap lekat sang suami. "Aku tidak papa." Sorot mata Gea berbicara tanpa perlu mengucapkan sepatah katapun. Briel menghela napas kasar.


"Ngapain kamu ke sini? Mau apa? Pamer? Minta harta? Atau apa?"


Tiba–tiba saja suara itu menggema di seluruh ruangan yang tanpa filter terlontar begitu saja. Clara tersenyum miring. Tatapan matanya memperlihatkan betapa rendahnya Gea di matanya.


"Kurang ajar! Begitu rendahnya kamu diperlakukan di keluargamu sendiri Gea!"


Geram, Briel menyuarakan apa yang sebelumnya ada di dalam hatinya. Hatinya memanas kala Gea dianggap sebagai pengemis oleh mereka berdua. Genggaman itu mengerat, tanpa sadar menyakiti Gea.


"Jaga bicara Anda!"


Briel tak kuasa menahan amarah lebih lama. Ia tak suka istrinya diinjak injak seperti itu. Istrinya bukan tanah yang seenaknya juga diinjak.


"Ada perlu apa kau kesini?!"


Suara berat nan tegas itu terdengar di antara mereka, menghentikan perseteruan, membuat mereka semua beralih menatap ke arah datangnya sumber suara. Ia menatap mereka semua bergantian.


"Papa."

__ADS_1


Bibir mungil Gea bergumam. Melihat Edi baik–baik saja adalah hal yang selama ini ia harapkan.


"Ada apa ini?"


"Pi! Gea seenaknya saja merendahkan Mami!" adu Dela. Ia memutar balikkan fakta dan menganggap dirinya sebagai korban. Begitupun juga dengan Clara.


"Diam! Aku tidak memintamu untuk bersuara!"


Suara itu terdengar dalam, namun tak ada satupun yang berani membantah. Edi masih menatap Gea dan Briel dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku hanya ingin mengunjungi Papa dan mengenalkan suamiku pada Papa," terang Gea.


Edi menatap Gea lekat. Lama tak bertemu dengan Gea menjadi suatu kerinduan tersendiri bagi Edi. Namun apa ini? Kecewa itu mengalir begitu saja dalam benaknya. Rasa itu terselip begitu saja.


Edi tertawa sumbang. Memutus kontak mata menjadi pilihannya. "Menikah? Seenaknya saja kamu berbicara padaku. Kemana kamu sampai kamu melupakan peranku sebagai seorang ayah?"


"Tapi Pa, waktu itu aku da–"


"Pergi dari sini. PERGI!!!"


Edi tak menberikan celah sedikitpun untuk Gea berbicara. Ia memalingkan wajahnya. Tak sedikitpun ia menatap ke anak kandungnya itu. Telunjuknya menunjuk tegas ke arah pintu.


Kehadirannya tak diterima. Pengusiran lagi dan lagi yang malah ia terima. Setetes air bening merembes begitu saja. Sakit. Luka itu terkoyak kembali.


Lain halnya dengan mereka berdua. Bahagia di atas penderitaan orang menjadi sebuah keharusan bagi Dela dan Clara. Senyuman miring penuh kemenangan terlihat jelas di wajah mereka tanpa Edi sadari.


Toleransi telah sampai batasnya. Briel mengusap air mata Gea secepat mungkin sebelum jatuh terlalu banyak.


"Sudah cukup! Ayo pulang!"


Tatapan tajam itu menatap mereka semua tanpa terkecuali. Dingin menusuk, seakan ingin membunuh mereka di saat itu juga. Briel menarik Gea keluar dari rumah itu.


"Hiduplah lebih baik."


Langkah Briel dan Gea terhenti. Kalimat Edi yang terkesan datar membuat Briel ingin sejenak menyahutnya.


"Pasti! Tenang saja! Dan akan kupastikan kalian menyesal!"


Briel kembali membawa Gea keluar dari rumah itu. Rumah yang seharusnya menjadi tempat untuk pulang; rumah yang seharusnya menjadi tempat di mana ia menemukan sebuah kedamaian. Namun itu semua hanyalah impian semata. Pada kenyataannya rumah lama menjadi tempat yang tidak seharusnya disinggahi.


🍂


"Tunggulah sebentar lagi," gumamnya dalam hati.


Ia tak mau apa yang telah ia mulai hancur begitu saja lantaran ia terlalu gegabah.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaess


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2