Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
66. Fakta Di Balik Lampu Hijau


__ADS_3

Malam ini, Gea telah resmi menyandang kepemilikan Briel. Begitupun juga dengan Briel. Masing–masing telah saling memiliki seutuhnya, bukan hanya setengahnya.


Gea memutuskan untuk memberikan apa yang ia jaga selama ini. Ia memikirkan apa yang telah Runi katakan tatkala berbincang di tempat kerja.


"Gey …" panggil Runi.


"Hm?" Gea hanya bergumam. Mulutnya penuh dengan makanan yang ia lahap, tanpa menoleh pada Runi.


"Kamu beneran belum melakukan yang iya–iya sama suamimu?"


Uhukk


Pertanyaan Runi membuatnya tersedak. Ia mengambil segelas besar es teh miliknya lalu meminumnya untuk meredakan rasa perih di dadanya.


"Haihh Run … kamu ingin membunuhku secepat ini, Run?" omel Gea sembari menelan sisa makanan di rongga mulutnya.


Runi memperlihatkan cengiran khasnya. "Gak sengaja, peace …" Runi mengacungkan kedua jarinya, jari tengah dan telunjuk sebagai simbol perdamaian.


Gea memutar bola matanya malas. Raut wajahnya terlihat begitu kesal. Makan siangnya harus terhenti sebentar karena tersedak. Ia melanjutkan makannya yang tertunda.


"Gey …."


"Apa Run?"


"Jawab dulu!"


"Nanti!"


"Yaudah deh terserah. Yang penting aku mau mengingatkan. Dosa hukumnya jika kamu masih belum memberikan haknya sebagai suami, Gey. Itu saja."


Runi langsung melahap kembali makanan yang telah ia ambil. Ia memakannya dengan lahap, membiarkan Gea yang menoleh padanya dengan tatapan yang cukup sulit diartikan. Ia mengabaikannya dengan terus memakan santapan makan siangnya.


"Run …"


"Apa?" jawab Runi acuh.


"Kamu beneran, Run?"


"Beneranlah, masak boongan?" Runi masih terus mengunyah makanan yang ia makan.


"Ha??? Kamu beneran belum melakukan yang iya–iya?!" ucap Runi tatkala ia menyadari apa maksud dari apa yang diucapkan Gea. Tubuhnya ia condongkan ke arah Gea. Otomatis Gea sedikit memundurkan tubuhnya.


"Gak usah ngledek!"


Gea memalingkan wajahnya. Ia tak mau mendengar kata ledekan dari sahabatnya itu. Namun Runi tetap saja tertawa.


"Astaga Gey … durhaka sekali kamu dengan suamimu!" Runi menggeleng lambat. "Apa kamu tidak takut suamimu jajan di luar?"


"Kyaaa .… amit–amit Run. Memangnya kamu mau sahabatnya jadi janda muda?"

__ADS_1


"Siapa tahu, kalau kamu tidak bertindak cepat?" ucap Runi yang sengaja memanas–manasi Gea. Gea mengerucutkan bibirnya sempurna.


"Ya bagaimana dong Run? Kita menikah juga bukan atas dasar cinta. Terus dia juga gak meminta haknya."


Gea tidak terima disudutkan oleh Runi, bahkan dianggap durhaka. Mungkin akan berbeda akhirnya jika ia menikah dengan orang yang dicintainya. Sedangkan ini? Kenal sebelumnya saja tidak.


"Heii Gea yang cantik tapi otaknya ternyata berhenti!! Dia bukannya gak mau minta, Gey. Tapi dia menghormati dirimu. Dia tahu kalau kamu memerlukan waktu. Siapa sih pria selain keluarga kita yang bisa menahan hasratnya tatkala ada wanita di dalam kamarnya? Belum sah aja mereka tergoda, apalagi mereka yang sudah sah? Pasti suamimu menahan mati–matian agar tak menerkammu ketika kamu tidur, Gey."


"Iyakah?" Gea mengingat–ingat kejadian apa saja saat malam sebelum tidur. Dan dia tak mengingat hal aneh dari dalam diri Briel. Kecuali saat Briel menciumnya di kala itu.


Runi hanya mengangguk–ngangguk sambil memasukkan kembali makanan ke rongga mulutnya yang kosong.


"Hihihi kena kamu, Gey ... padahal kan kemarin aku hanya gak sengaja baca artikel di 'simbah' yang isinya tentang rumah tangga." batin Runi tersenyum usil karena berhasil membuat Gea percaya dengan ucapannya.


"Lalu bagaimana caranya?"


Gea benar–benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia terlalu malu untuk menggoda Briel.


"Kyaaa … mana aku tahu? Tahu sendiri aku masih jomblo sampai sekarang. Tanya aja sana sama 'simbah'. Pasti di sana kamu bisa menemukan caranya."


Istilah 'simbah' yang Runi maksud adalah situs pencarian online.


Setelah percakapan itu, Gea memikirkan tentang hak dan kewajiban sebagai sepasang suami istri. Dan tidak disangka, tanpa perlu menggodanya saja, Briel telah meminta apa yang seharusnya Briel dapatkan.


🍂


Di pagi ini, Briel masih mengeratkan dekapannya pada wanita yang telah ia tandai menjadi miliknya ini. Ia masih ingin menikmati waktu bersama dengan sang istri. Ia masih belum rela melepas kebersamaan malam indah yang mereka lalui.


"Astaga … jam berapa ini?"


Seketika mata Gea membuka sempurna. Gea teringat akan pekerjaannya. Ia berusaha bangun untuk melihat jam dinding. Namun Briel tak mau melepaskan Gea.


"Bang … udah ah Bang. Ayo kita bekerja, sudah siang!" bujuk Gea.


"Tidak mau! Kita nikmati saja waktu kita bersama." Briel semakin mengeratkan dekapannya, tak memberikan celah untuk Gea beranjak.


"Tapi Bang–"


"Tidak ada tapi–tapian," potong Briel cepat. Ia tak mau mendengar berbagai macam alasan yang keluar dari mulut Gea.


"Istri Bos ya seharusnya tidak perlu bekerja," ucap Briel lagi. Ia memejamkan matanya. Sedari awal Briel sebenarnya menyuruh Gea untuk diam di rumah saja menghabiskan uangnya. Namun Gea tidak mau.


"Ih Bang... Tapi aku karyawan biasa, Bang. Tidak bisa seenaknya sendiri." Gea menggoyangkan tubuh Briel. Hal itu membuat Briel membuka matanya malas. Gea tidak ingin dipecat dari Mega Raya Group.


Briel menatap Gea dalam. "Sudah tenang saja. Biar aku yang mengurusnya."


Akhirnya Gea pun menurut. Setidaknya ia telah merasa tenang.


Mereka berdua saling menatap dalam diam. Saling meneliti bagaimana wajah yang ada di hadapan mereka masing–masing.

__ADS_1


"Gey …"


"Hem?"


"Terimakasih … Terimakasih telah menjaga kehormatanmu untukku, pria yang telah menjadi suamimu ini."


Briel mencium semua wajah Gea tanpa terkecuali dengan lembut. Gea menerima perlakuan Briel dengan memejamkan matanya, menikmati setiap kecupan lembut dari sang suami.


Briel sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Gea. Ia meneliti lagi setiap inci wajah Gea. Dari mulai alis, mata hidung bibir, bentuk wajah, bahkan pori–pori Gea yang tak terlihat karena wajah Gea yang terlalu mulus. Hingga pandangan matanya terkunci pada luka memar di dahi Gea.


"Untuk obat memar pada dahi istriku yang ceroboh."


Briel mengecup luka memar itu dengan lembut. Briel mengecupnya cukup lama. Wajah Gea merona. Hal itu membuat Gea mengingat malam indah yang telah mereka lalui bersama. Rona merah jambu itu terlihat jelas di wajah Gea. Briel menjauhkan wajahnya dari wajah Gea. Ia tersenyum melihat wajah Gea yang memerah.


"Hayo kamu membayangkan apa?" goda Briel.


"Ti–tidak apa–apa," kilah Gea.


Jawaban Gea terdengar gugup, seperti maling yang tertangkap basah. Briel menertawakan tingkah laku Gea.


"Atau kamu mau kita mengulanginya lagi?" Suara Briel sudah terdengar parau. Tanpa menunggu jawaban Gea, Briel melancarkan aksinya di pagi hari. Gea pun tak menolak segala permainan Briel.


🍂


Sementara itu, di lain tempat, Runi tengah kesal dengan wajah yang tertekuk sempurna. Karena ulah Gea yang ijin mendadak, membuatnya harus dimarahi Heri karena kunci gudang peralatan cleaning service terbawa oleh Gea. Segala macam umpatan ia lontarkan untuk sahabatnya itu.


🍂


//


Dudududu Asa numpang lewat wkwk kabor ajalah 🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀


🍂


//


Eh tidak jadi kabur 😅 sebelumnya terimakasih bagi semua yang telah mendukung karya Asa. Tanpa kalian, ini hanya tumpukan bab saja.


Sembari menunggu cerita Gea up, kalian bisa mengunjungi karya uwuw dari othor keceeh 💃




🍂


//


Happy reading guys

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2