Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Semakin Retak


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu. Kehidupan rumah tangga Dela dan Davin serasa tak ada kehidupan. Mereka hanya menjalankan kehidupan seperti pasangan pada umumnya namun tak ada lagi keselarasan di dalamnya.


Seperti kejadian di pagi ini, Dela telah berada di depan meja rias, memulas wajahnya dengan segala macam kosmetik ternama. Sedangkan Davin kini masih bergelung di ranjang, setelah semalaman penuh menggarap istrinya.


"Ck dasar suami gak berguna! Kerjaannya tidur dan niduri doang!"


Dela berhenti sejenak, menatap keberadaan Davin dalam pantulan cermin di depannya. Ia menutup lantas meletakan maskara itu kembali ke tempatnya. Ia mengambil bantal yang ada di pinggir ranjang. Tanpa perasaan ia melempar bantal itu ke arah Davin dengan kasar.


"Bangun!!! Kerja! Jangan tidur saja! Kasih aku uang yang banyak!"


Davin yang semula terlelap, kini terbangun paksa. Ia menundukkan kepalanya dengan kepala yang memejam. Tangannya kini menyentuh kepalanya yang pusing lantaran cara membangunkan Dela yang tiba–tiba.


Senyum miring itu terukir jelas di wajah Davin dengan tubuh yang bersandar di punggung ranjang. Tatapan matanya cukup mengerikan bagi Dela, namun tak Dela hiraukan.


"Dasar gila!"


Sret


Kini Dela menelan ludahnya. Tanpa ia duga Davin mengungkungnya dalam sebuah penjara tangan kekar yang Davin buat. Tubuhnya terkurung dengan tembok yang semakin menghimpitnya. Tangannya terangkat ke atas, tercekal erat dengan dagu yang di cengkeram oleh tangan Davin yang satunya. Tatapan Davin begitu membunuhnya, menusuk hingga membuat dirinya cukup gemetar ketakutan, namun sebisa mungkin ia menyembunyikan dalam keberanian semu.

__ADS_1


"Gila katamu? Fine! Mari kutunjukkan bagaimana gila yang sesungguhnya!"


Tanpa aba–aba, Davin merenggut paksa bibir ranum itu. Sangat kasar hingga membuat Dela tak mampu mengimbanginya. Bahkan bibir Dela terluka akan perbuatan Davin. Tak ada kelembutan. Davin membanting kasar tubuh Dela ke ranjang. Di sela aktivitas mereka, Dela merintih kesakitan. Davin tak memberi celah sedikitpun pada Dela untuk melarikan diri. Tenaga Davin yang lebih kuat tak mampu untuk dia lawan. Pasrah, hanya pasrah yang dapat ia lakukan saat ini dengan rintihan kesakitan yang semakin menyayat bagi siapapun yang mendengarnya.


Setelah cukup lama, Dela tak sadarkan diri. Davin berdiri menatap tubuh Dela yang terbaring tak berdaya dengan senyum devilnya. Tak ada belas kasihan di hatinya. Ia bergegas membersihkan dirinya. Seusai itu ia menggulung lengan kemeja yang telah melekat di tubuhnya lantas pergi begitu saja meninggalkan Dela sendirian di kamar itu.


Senyum miring masih terukir jelas sebelum ia menghilang di balik pintu apartemen. Entah apa yang ada dipikiran Davin, namun yang jelas, banyak rencana busuk di otaknya.


"Tunggulah satu persatu!"


🍂


"Arrghhh sial! Dasar laki–laki badjingan!!


"Aaww!" Rintihnya kesakitan kala tangannya penasaran menyentuh luka lebam itu.


Ia pun berjalan tertatih menuju ke kamar mandi. Perih, ia rasakan kala ia berjalan. Ia memutuskan untuk berendam air hangat untuk mengurangi rasa sakit itu.


"Mi, aku gak bisa ikut kalian," ucapnya pada Clara yang menelponnya.

__ADS_1


"Ck gak ada alasan. Pokoknya kamu harus ikut!" Clara memintanya untuk ikut dengannya dan Edi untuk memenuhi undangan makan malam. Awalnya ia pun menolak. Tapi setelah berpikir panjang, akhirnya Clara pun mau ikut dengan Edi.


"Mi ... Aku malas ke luar," rengek Dela.


Rasa sakitnya masih belum hilang sepenuhnya ditambah ia malas jika harus menutup luka lebam di wajahnya dengan make up. Luka lebam itu pasti membuat wajahnya tak terlihat cantik jika ia tak mampu meng–cover semuanya. Terlihat jelek adalah aib baginya.


"Oke oke ga papa, tapi jangan salahkan Mami kalau tak ada transferan lagi." Enteng, Clara berbicara.


Ancaman yang jitu. Ancaman itu mampu membuat Dela mengiyakan perintah maminya. Setelah Davin di jeruji besi, Davin tak pernah lagi menafkahinya. Dan kebutuhannya selama ini ditanggung maminya tentunya tanpa sepengetahuan Edi. Ingin sekali ia pergi. Namun syarat dari Edi waktu itu membuatnya tak bisa berkutik. Itulah sebabnya Dela selalu mengganggap Davin yang sekarang itu miskin.


"Arrrgghh semua ini gara–gara wanita sialan itu!!"


Rasa bencinya pada sang adik semakin besar. Ia melimpahkan kesalahan akan semua yang terjadi pada Gea. Karena Gea, ia harus mengalami semuanya ini. Dela menatap cermin di depannya itu lekat–lekat, dengan tatapan mematikan. Tangannya mencengkeram hebat hingga buku buku jemarinya memutih.


"Kau telah merenggut segalanya wanita sialan! Tak akan kubiarkan dirimu baik–baik saja di sana!"


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaess


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2