Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Satu Di Antara Dua Pilihan


__ADS_3

Suara roda–roda kecil berputar di lorong rumah sakit. Seorang dokter dan para suster mendorong brankar rumah sakit itu dengan cepat. Briel dan yang lainnya mengikuti hingga ke arah mana brankar itu di dorong. Briel senantiasa berlari tepat di samping kepala Gea.


"Gey, kumohon bertahanlah Gey. Demi aku, demi anak kita."


Berulang kali Briel berbisik di dekat wajah Gea sembari terus berlari. Dirinya terlihat kacau. Tubuhnya sudah tak sebersih kepergiannya tadi. Baju sudah berlumuran darah, darah Gea yang membasahi tubuhnya.


Pintu ruang operasi pun terbuka. Mereka membawa masuk tubuh tak berdaya itu. Sedangakan seorang dari mereka menahan Briel agar tidak turut masuk ke dalam ruangan.


"Pak, maaf. Anda harus menunggunya di luar."


"Tapi sus! Saya ingin menemaninya!" tolak Briel. Ia tahu aturannya tapi ia tidak bisa meninggalkan Gea sendirian di sana.


"Tapi Pak, Anda harus mematuhi peraturan di sini." Suster itu berusaha sekuat hati memberikan pengertian kepada orang yang tengah khawatir. Tidak mudah, namun ia harus bisa sampai Briel tidak berusaha masuk.


"Sus ..."


Ucapan Briel terpotong oleh kehadiran Adam yang tiba–tiba saja bersuara.


"Jangan bodoh Bri! Kau sampai masuk di sana yang ada istrimu tidak akan selamat. Tunggu di sini!" larang Adam keras.


"Ck–"


Briel berdecak kesal. Waktu itu adalah waktu yang tepat bagi si suster untuk menutup pintu itu. Ia dan yang lainnya ingin prosesnya itu segera dilaksanakan agar dapat menekan segala risiko yang ada.

__ADS_1


"Arrghh sialll!" umpat Briel. "Semuanya gara–gara kau!" Briel menatap tajam ke arah Adam sembari menunjuk tepat di wajah Adam. Adam menggagalkan rencananya.


Adam menarik napas dalam, menghembuskannya kasar.


"Hati boleh kacau, tapi otak jangan bodoh! Kau bisa membunuh istrimu sendiri kalau kau di dalam sana! Gunakan akal sehatmu!"


Tidak terbendung lagi emosi yang sedari tadi meronta di dalam diri Adam. Tingkah Briel membuatnya geram. "Macam anak kecil saja!" omelnya lirih.


"Aaaarrgggh!!" Briel meraup kasar wajahnya, mengacak kasar rambutnya yang bisa dibilang tidak lurus itu.


"Kau tidak mengerti bagaimana berada di posisi diriku!" ucap Briel sendu namun cukup untuk menyinggung posisi Adam.


Adam tertawa. Ternyata perdebatan masih berlangsung. Ia sungguh tidak mengerti dengan lelaki dewasa di depannya ini.


"Yeah aku tidak mengerti. Tapi setidaknya aku lebih pintar dari pada kamu!" sindir Adam keras. Ia mulai kesal dengan sikap Briel, namun ia mencoba untuk mengertinya.


Pada akhirnya Briel mengalah. Posisinya salah. Ia mulai mendudukkan dirinya di kursi tunggu. Tak lama kemudian, terbukalah pintu ruang operasi itu. Seketika itu juga Briel berdiri lantas bergegas menghampiri dokter itu.


"Suami dari ibu Gea?"


"Saya sendiri Dok," ucap Briel yang kini berada di hadapan sang dokter. Adam, Bima, dan Hendri juga berdiri, menyimak pembicaraan Briel dan dokter itu.


Dokter itu menatap Briel dengan tatapan iba, namun ia harus menyampaikan hal itu agar mereka bisa mengambil tindakan medis. Keputusan Briel mempengaruhi apa yang dilakukan oleh mereka.

__ADS_1


"Saya harus menyampaikan hal ini. Anda harus membuat keputusan."


Dokter itu menjeda ucapannya. Terlihat sekali ia juga berat hati menyampaikan hal ini. Lantas ia mengucapkan antara menyelamatkan istri atau bayinya dan bayi yang ada di kandungan Gea ternyata bayi kembar. Yang dialami Gea sebelumnya membuat Gea harus melakukan persalinan lebih awal.


Pukulan berat untuk Briel. Setelah peristiwa itu tadi, ia dihadapkan dengan pilihan besar yang dapat menghilangkan nyawa di antara mereka.


"Selamatkan istri saya!" ucap Briel dengan tegas. Berulang kali ia meminta maaf pada anaknya di dalam batinnya lantaran ia memilih ibu mereka. Gea adalah separuh, bahkan seluruh hidupnya.


"Maafkan Ayah, nak," ucapnya dalam hati. Bagaimana mungkin seorang ayah tega menghilangkan nyawa anaknya seperti itu.


"Baiklah"


Dokter itu lantas kembali ke ruangan. Namun langkahnya terhenti lantaran Briel menahannya.


"Selamatkan keduanya Dok" Briel menatap sang dokter penuh harap. Jujur saja, ia tidak ingin kehilangan salah satu di antara mereka.


Dokter itu mengangguk. "Kami akan berusaha semampu kami. Serahkan semuanya pada Sang Maha," ucap dokter itu lantas berlalu.


Hanya untaian doa yang tersisa. Briel merapalkan doa doa itu di dalam hatinya. begitupun juga dengan yang lain. Mereka menantikan sebuah keajaiban.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕


__ADS_2