
"Bayang belanja, yuk?" ajak Gea. Ia membuka lemari es di dapur apartemen, namun tak ada bahan makanan yang tersisa.
"Oke. Kita ke pusat perbelanjaan."
Briel mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas nakas.
"Gak mau ke sana, Bang."
Briel mengernyitkan dahinya. Matanya pun menyipit.
"Lalu ke mana kalau tidak ke sana?"
"Ke pasar tradisional, Bang."
"Ha?"
Briel terperangah dengan apa yang Gea ucapkan. Seumur–umur baru kali ini ia diajak ke pasar tradisional.
"Kenapa harus ke sana? Bukankah di swalayan aja ada?"
Membayangkannya saja sudah membuat Briel ragu. Pasar tradisional menurutnya adalah tempat yang kurang higienis, berbeda dengan swalayan.
"Di swalayan sudah tidak fresh, Bang. Enakan di pasar. Semua sayuran fresh, langsung dari alamnya."
"Lah terus kalau yang di swalayan dari apa? Bukankah juga dari alamnya? Tidak mungkin kan dari dalam rumah?" gurau Briel dengan wajah yang sok serius.
Puk
Gea menabok ringan lengan Briel. Mulutnya sampai maju beberapa centi
"Aiiss .... Istriku galak sekali."
"Biarin! Auk ah. Ayok berangkat!"
Gea berjalan terlebih dahulu mendahului Briel. Sedangkan Briel yang dibelakangnya pun hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya ringan. Ada yang berubah dari diri Gea, namun hal itu malah membuatnya semakin gemas saja.
🍂
Beberapa waktu kemudian, Briel dan Gea telah sampai di pasar tradisional yang terletak tidak begitu jauh dari kawasan apartemen mereka. Hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk pergi ke sana. Gea dan Briel turun bersamaan. Mereka beriringan masuk ke pasar itu.
Banyak orang berlalu lalang. Aktivitasnya begitu padat. Penjual menawarkan barang dagang mereka dengan antusias, dengan semangat yang membara. Pembeli berkeliling mencari barang yang dicari. Ada juga yang melakukan transaksi jual beli. Ada juga kuli panggul yang mengerahkan tenaganya untuk membawa sekarung bahkan dua karung bahan makanan di pundaknya.
"Bersih juga."
Itulah kesan pertama yang Briel gumamkan lirih. Ia mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Bahkan got yang ia lihat pun terlihat bersih. Briel tersenyum. Ternyata tak seperti yang ia bayangkan dalam pikirnya.
"Kenapa kamu senyam senyum sendiri macam orang sesendok, Bang?" tanya Gea sembari mengernyit heran. Ia merasa ada yang aneh dengan Briel.
"Enggak," jawab Briel singat dengan senyum simpul di wajahnya.
__ADS_1
Gea hanya mengedikkan bahunya, bodo amat dengan yang Briel lakukan. Kemudian ia melanjutkan mencari apa yang ingin ia cari.
Briel berjalan di belakang Gea. Mereka berjalan menuju penjual cabai rawit merah.
"Bu, cabenya setengah kilo ya, Bu," pinta Gea pada seorang penjual cabai di sana.
Bukannya menjawab permintaan Gea, ibu itu malah terpesona dengan kehadiran Briel. Ia melongo heran dengan gumaman kecil, "Ada bule ganteng," begitulah kata ibu penjual cabai.
Ketampanan Briel memikat seluruh perhatian ibu itu, hingga lupa bagaimana untuk merespon Gea. Gea menghela napas kasar. Ia kesal melihat ibu itu memandangi Briel seperti itu. Sedangkan yang ditatap tengah mengecek gawainya. Ia tak menyadari bahwa ia saat ini menjadi pusat perhatian.
"Ibuk, cabainya setengah kilo, Buk!" ucap Gea lebih keras.
"Kenapa sih, Geyang? Kenapa bicaranya keras?"
"Tauk ah!"
Ibu penjual yang masih tertegun itu tersadar. "Beli apa, Neng?"
"Cabai setengah kilo!" ucap Gea ketus.
"Astaga, Sayang." ucap Briel sembari mengelus lembut pundak Gea.
Seketika Gea mendadak menyesal telah membawa Briel ke pasar tradisional. Pesona Briel mampu mengalihkan perhatian sebagian besar ibu–ibu yang lalu lalang.
"Iya iya, Neng," jawab ibu itu malas. Briel hanya terkekeh ringan.
"Kalian pengantin baru ya?" tanya ibu itu kepo. Briel hanya tersenyum sebagai jawabannya.
"Semoga ya, Bu." Briel mengamini apa yang diucapkan ibu itu meski tidak tahu kebenarannya seperti apa.
"Berapa, Bu?" tanya Gea tatkala ibu itu selesai membungkuskan cabai dengan nada bicara yang lebih lembut.
"Lima puluh ribu aja, Mbak."
"Mahal sekali, Bu," ucap Gea. Yang ia tau, harga cabai telah turun menjadi 70 ribu per kilo.
"Kan memang harganya segitu, Mbak." kilah ibu itu.
"Boleh kurang ya, Bu?"
Ibu itu menggeleng sembari memilah cabai yang layak dan tak layak jual.
Gea berdecak kesal. Bagaimana tidak kesal? Harga yang seharusnya dinaikkan lebih banyak. Gea menatap Briel sekilas. Terbesitlah ide untuk menggunakan Briel sebagai jurus pamungkas. Gea mengkode Briel lewat kedipan matanya. Briel mengernyitkan dahinya. Tidak sah bagi Gea jika tak berhasil menawar harga di pasar.
"Kenapa?"
Sorot matanya seakan berkata demikian. Gea hanya menggerakkan dagunya, berharap Briel mengerti. Briel melirik kemana arah dagunya itu. Briel pun menghela napas tatkala ia mengetahui maksud Gea.
"Tiga puluh lima ribu aja ya, Bu?" tawar Briel. Ia juga mengetahui harga cabai yang tengah beredar saat ini.
__ADS_1
"Untuk Mas Ganteng boleh deh."
Gea mencebik kesal melihat tingkah laku ibu itu.
"Giliran Bang Briel dibolehkan. Sedangkan aku?" gerutu Gea.
Setelah menerima cabai itu, Gea bergegas pergi dari sana dengan kesal. Briel hanya menggelengkan kepalanya pelan. Mereka masih lanjut mencari bahan makanan yang mereka butuhkan. Dan lagi–lagi Briel menjadi pusat perhatian mereka. Sungguh, mood Gea saat ini begitu hancur karena ulah para ibu–ibu yang ada di sana.
🍂
"Masih marah?"
"Aku gak marah!"
"Tapi kenapa ngegas?"
"Kalau gak digas gak bisa jalan!"
"Utu utu … menggemaskannya istriku." Briel mencubit ringan pipi Gea. Gea semakin mencebikkan bibirnya.
Briel tertawa pelan.
Tak lama kemudian sampailah mereka di apartemen mereka.
Namun tak dia sangka, mereka bertemu dengan Dela yang tengah berada di sana. Ia bertemu dengan temannya yang ternyata satu kawasan apartemen dengan Gea dan Briel.
"Wah wah wah …. Ada pembantu bawa belanjaan nih!" ejek Dela yang melihat Gea membawa sejumlah barang belanjaan. Gayanya terlihat sangat sombong dan sok berkuasa.
"Kurang ajar!" gumam Briel menahan amarah.
"Di–"
Briel ingin mengatakan 'dia itu istriku' namun Gea menahan lengan Briel agar lebih bersabar. Briel membuang napas kasar untuk menetralisir kemarahannya.
"Memang kenapa kalau aku pembantu? Masalah buatmu?!" jawab Gea ketus.
"Dih pembantu saja sombong. Bagaimana kalau kamu jadi nyonya?" Dela tersenyum culas.
Gea tersenyum miring. Ia tak menjawab sepatah katapun.
"Belum tahu aja dia siapa aku," gumam Gea dalam hati.
"Mari, Tuan, kita langsung ke dalam saja. Siang ini semakin terik. Tak bagus untuk kesehatan kulit, Tuan!"
Briel mengangguk. Mereka berdua berjalan masuk meninggalkan Dela yang kesal di sana. Sedangkan Dela menatap kepergian Briel dan Gea dengan kesal. Lagi–lagi ia tak bisa memancing keributan dengan Gea.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading guys,
Jangan lupa bahagia 💕💕