
Tenang dan aman
Adalah suatu rasa yang Gea rasakan saat ini. Semenjak diam–diam pulang kerja bersama Briel, keamanannya lebih terjamin. Orang yang sering mengintainya terkecoh dengan penyamarannya kali ini. Identitas Gea masih tertutup rapat untuk mereka yang tengah mencoba mengorek informasi.
Itulah kemauan Briel. Hal itu merupakan bagian dari rencana Briel dan untuk menjaga keselamatan Gea dari mereka semua. Hal itu juga tak lain atas bantuan Bima dan Frans. Mereka bertiga berkerjasama untuk melindungi Gea dari para pengintai. Karena nyatanya beberapa kali nyawa Gea hampir saja melayang jika pengawas dari antara mereka bertiga tidak menjaga Gea. Gea sendiri tidak tahu jika ia dijaga seketat itu. Mereka berjalan diam–diam.
Matahari mulai berjalan ke ujung barat. Briel ingin mengajak Gea ke suatu tempat terlebih dahulu sebelum ia pulang ke kediaman utama atas perintah Tere. Rupanya, Tere telah menjatuhkan rasa sayangnya untuk sang menantu, hingga ia menginginkan bertemu dengan Gea sesering mungkin.
"Mau kemana, Bayang?" tanya Gea sembari menatap Briel yang tengah fokus mengemudikan mobilnya.
"Nanti kamu akan tahu, Gey," ucap Briel santai. Sesekali Briel menoleh ke arah Gea sembari tetap fokus pada kendali.
Gea hanya mengedikkan bahunya. Walaupun penasaran, sekuat tenaga ia menahan rasa penasarannya. Toh nanti juga ia akan tahu, begitu pikirnya.
Gea menyalakan musik. Ia mulai menikmati perjalanan sembari mendengarkan lagu favoritnya. Briel turut menyenandungkan lagu yang diputar sesekali.
Sampai Briel menepikan mobilnya. Ia berhenti di depan sebuah toko bunga. Ia bergegas turun menghampiri sang penjual bunga. Gea hanya menatap Briel dari dalam mobil, melihat apa yang dilakukan Briel.
Tak lama kemudian, Briel masuk lagi ke dalam mobil dengan membawa se–bucket bunga lili putih. Ia meletakkan bunga itu di jok penumpang.
Gea mengerutkan dahinya.
"Untuk siapa, Bang?"
Briel hanya mengulas senyum manis tanpa menjawab pertanyaan Gea. Hal itu membuat Gea tambah penasaran.
"Aihh begitu ya sekarang Bayang! Main rahasia–rahasiaan sama aku!"
Mode ngambek Gea telah aktif. Lagi–lagi hal itu membuat Briel gemas dengan tingkah Gea. Ia mencubit pipi Gea yang tirus.
"Aaa … sakit, Bang!" keluh Gea manja. Ia mengelus–elus pipinya yang lumayan sakit karena cubitan gemas dari Briel. Wajahnya tertekuk sempurna, bibirnya maju ke depan beberapa centi. Ia menatap Briel dengan kesal.
Briel hanya terkekeh tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Malah ketawa lagi," gerutu Gea. Ia menghempaskan badannya ke punggung kursi. Namun Briel tak memperdulikan hal itu. Ia mulai melajukan mobilnya membelah jalanan kota.
Di perjalanan, berulang kali Briel menatap spion kanan. Briel melihat ada mobil yang membuntuti mobil Briel. Rupanya penguntit itu kembali menemukan keberadaan Gea.
__ADS_1
"Sial!" gumam Briel lirih.
"Ha? Apa Bayang?" tanya Gea. Samar–samar Gea mendengar gumaman Briel. Namun suara itu tak jelas di telinganya.
"Apa?" tanya Briel balik.
"Kamu tadi bilang apa, Bang?"
"Aku tida bilang apapun, Gey," kilah Briel.
Walaupun berbohong, namun penuturan Briel terdengar begitu meyakinkan. Gea pun hanya mengangguk saja. Briel menghela napas lega dan rasa itu menjalar ke dalam hati Briel. Ia bersyukur Gea tak menanyakan macam–macam hal yang membuatnya kesulitan untuk menjawab. Diam–diam Briel menekan tombol darurat yang ia letakkan di saku jas nya.
Tombol itu adalah sinyal peringatan agar anak buah Briel menghadang orang yang tengah membuntuti mobil Briel.
Dengan cepat, anak buah Briel mulai beraksi. Briel mulai melihat lagi spionnya. Ia tersenyum miring melihat kendaraan sang penguntit sudah dihadang halus oleh anak buahnya. Briel mengambil jalur alternatif. Ia membelokkan mobilnya ke jalan yang jarang Gea lalui. Tak ada curiga sedikitpun dari Gea. Gea tak mengetahui apa yang terjadi.
"Untung saja Geyang tak menyadari apa yang terjadi."
Briel menatap sekilas Gea yang duduk di sampingnya. Briel mulai menambah kecepatan mobilnya agar tak mudah dijangkau oleh mereka kembali.
🍂
"Ternyata Bayang telah mengetahui di mana pusara Mama tanpa ku beri tahu," batin Gea.
Briel menatap lembut netra Gea. "Ayo turun!"
Gea mengangguk antusias. Mereka berdua turun bersamaan. Tak lupa Gea memakai kudung jaket di kepalanya. Mereka berjalan beriringan. Sebelah tangan Gea menggandeng tangan Briel dan sebelahnya lagi membawa se–bucket bunga lili putih yang telah Briel beli.
"Mama, Gea datang."
Kata itu adalah kata pertama yang Gea ucapkan sesampainya di pusara mendiang mamanya. Rasa rindunya terobati tatkala ia mengunjungi pusara mendiang mamanya. Mereka berjongkok di dekat pusara itu.
"Ma kali ini aku tidak sendiri, Ma. Aku membawa suami Gea, Ma." Gea tersenyum tulus. Gea memperkenalkan Briel.
"Tapi maaf ya, Ma. Pria yang menjadi suamiku, bukanlah pria yang kuajak ke sini waktu lalu."
Gea tersenyum kecut mengingat pengkhianatan Davin. Namun sedetik kemudian, ia tersenyum manis kembali. Kebahagiaan terlihat di wajah Gea walau masih terlihat samar.
__ADS_1
"Namun tenang, Ma. Gea bahagia, Ma. Dia adalah obat Gea. Dan dia kebahagiaan Gea."
Penuturan Gea membuat hati Briel menghangat. Tanpa diminta, bibirnya telah mengembang ke atas.
Briel menatap Gea sejenak. Kemudian ia membuka mulutnya untuk berbicara.
"Ma, sesuai janji Briel, hari ini Briel membawa Gea ke sini bersama anakmu yang cantik ini," ucap Briel tulus.
Gea tertegun. "Berarti Bang Briel sudah pernah ke sini sebelumnya?" tanya Gea spontan.
Briel mengangguk.
"Kapan?"
"Saat kamu pergi. Dan saat itu, aku berjanji untuk membawamu ke sini bersamaku."
Briel menatap Gea untuk sejenak. Begitupun dengan Gea. Mereka saling melempar senyum.
"Dan hari ini, Briel ingin meminta restumu, Ma. Briel ingin menjaga Gea, putrimu, seumur hidup Briel. Briel ingin menjadikan putrimu sebagai teman hidup, sahabat, dan pendamping hidup Briel, Ma. Sampai maut memisahkan. Doakan Briel, Ma. Doakan Briel agar bisa melindungi Gea dan anak–anak kami kelak. Briel ingin membahagiakan mereka, Ma," ucap Briel panjang lebar. Kata–kata itu ia lontarkan tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.
Gea hanya memandang Briel penuh haru. Hari ini merupakan kejutan spesial baginya. Ia dibawa ke pusara mendiang mamanya lalu Briel meminta ijin untuk menjaga dirinya seumur hidup pada mendiang mamanya. Perlakuan Briel teramat menghangatkan hatinya.
Mereka pun mendoakan mendiang mama Gea. Cukup lama mereka di sana. Mereka bercanda seolah mendiang Anna ada di sana, ada bersama dengan mereka. Setelah cukup waktu, mereka beranjak pergi meninggalkan pusara mendiang mama Gea.
🍂
//
Hai semua ... sembari menunggu Asa up, kalian bisa mampir dulu ke karya kakak online Asa yang ada di bawah ini🤗
🍂
//
__ADS_1
Happy reading guys,
Jangan lupa bahagia 💕💕