
"Ck gara–gara kau aku harus meninggalkan Gea terlalu lama," sungut Briel. Mereka berdua berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Beberapa kali Briel melihat ke arah jarum jam di pergelangan tangannya. Ternyata hampir satu setengah jam ia meninggalkan Gea.
Adam memilih untuk menulikan telinganya. Mendebat Briel adalah hal yang sia–sia. Dari pada ia membuang energi, lebih baik ia diam.
Briel menghampiri ranjang Gea. Ia mencium kening Gea tanpa kata. Bahkan raut wajahnya tidak enak untuk dilihat.
"Eh eh Bayang kenapa?" tanya Gea menelisik.
"Tuh ..." Briel menunjuk Adam dengan lirikan tajam bin kesal.
"Gara–gara dia aku terlambat untuk kembali," jelas Briel. Briel merajuk seperti anak kecil. Hal itu terlihat menggemaskan di mata Gea.
"Sarapannya udah habis, Sayang?"
Gea mengangguk lemah. "Iya sudah. Makan obat juga sudah. Runi yang bantu tadi," jelas Gea.
Briel tersenyum. "Syukurlah kalau sudah."
"Kalau sudah, istirahatlah lebih dulu ya, Sayang," ujar Briel. Ia tidak ingin istrinya kelelahan dan berujung tidak bangun seperti sebelumnya lagi.
"Hemmm ... gak mau. Aku tidak ngantuk, Bayang," rajuk Gea. Entah mengapa walaupun obat itu telah masuk ke dalam tubuhnya, namun rasa kantuk masih enggan untuk datang.
"Usaha dulu, Sayang," tutur Briel lembut. Ia menyelipkan rambut Gea ke belakang telinga Gea.
"Hufft"
Gea menghela napas berat. Ia capek harus berbaring terus seperti itu. Terlalu lama tak sadarkan diri, membuat dia ingin terjaga lebih lama.
"Aihh istriku ingin istirahat. Sepertinya terlalu banyak orang di ruangan ini bisa membuatnya tidak nyaman." Briel sengaja menyindir keberadaan mereka untuk mengusir mereka secara halus.
Gea membeliakkan matanya. Ia tidak habis pikir dengan cara Briel untuk mengusir mereka dari sana. "Bayaang ..."
"Apa Sayang ..." ucapnya lembut namun malah semakin membuat Gea mencebik kesal. Sedangkan Adam yang sudah tahu maksud Briel hanya bisa mendengkus kesal.
"Haihh ... Jika banyak orang di sini, bagaimana kamu akan istirahat Sayang? Pasti pikiran kamu akan tetap terjaga karena kamu masih ingin mengobrol dengan Runi. Begitu kan?"
Tepat sasaran. Ucapan Briel memang benar meskipun terkesan sedikit mengekangnya.
__ADS_1
"Dan kalian ... Tidakkah kalian berniat untuk pergi dari sini? Lihatlah, istriku ingin istirahat."
Kali ini tidak ada kalimat penghalus. Ia mengucapkannya secara tegas. Hal itu membuat Runi tidak enak hati.
"Baiklah. Kami pergi. Selamat beristirahat Nyonya Briel," ucap Adam pada akhirnya. Ia tidak tega melihat wajah Runi yang terlihat merasa bersalah. Namun ia juga tidak bisa marah pada Briel karena memang seharusnya itulah yang dilakukan.
"Ayo Run," ajak Adam. Ia menatap ke arah Runi dengan tatapan yang cukup iba meskipun ia berusaha menyembunyikan rasa ibanya.
"Gey ..." Wajah Runi terlihat murung. Ia masih belum rela berpisah dengan Gea. Perjumpaan mereka hari itu terlalu singkat.
Tidak ada bedanya dengan Gea. Ia masih ingin bersama dengan Runi. Namun apa boleh buat. Ia memang harus istirahat dahulu. Mereka saling mendekap sebelum Runi pulang bersama dengan Adam.
Sepeninggalan Runi dan Adam, Gea masih merajuk. Itu adalah masalah yang cukup besar bagi Briel. Ngambeknya Gea adalah petaka baginya.
"Ayolah Sayang, tidurlah," bujuk Briel. Pasalnya setelah cukup lama Runi dan Adam pergi, Gea tak kunjung memejamkan matanya.
"Tidak mau..." rajuk Gea tanpa berniat untuk berdamai dengan Briel.
Briel menarik napas dalam, berusaha bersabar pada istrinya itu. "Sabar Briel, sabar. Semenyebalkannya dia, koma seperti kemarin kau benar–benar kacau." Briel menenangkan dirinya dalam hati. Ia memilih untuk menurunkan egonya.
"Pengin ketemu Dedek Utun."
Tatapan mata Gea sendu. Sedari tadi dia menyimpan keinginannya untuk mendekap sang buah hati. Itulah yang sebenarnya membuatnya uring–uringan.
"Eh kok dedek utun saja? Mereka dua loh," ucap Briel memberitahu.
"Eh? Kok dua?" Gea menatap Briel dengan tatapan penuh tanda tanya.
Briel tersenyum. Ia memang belum memberitahukan perihal kedua buah hati mereka. Niatnya ia ingin memberitahukan semuanya setelah Gea sarapan. Namun tamu tidak diundang keburu datang mengacaukan semuanya.
"Iya dua. Anak kita kembar. Ternyata selama ini dokter salah mengira."
Berkaca–kacalah mata Gea mendengar keajaiban itu. Anak kembar adalah hadiah dari Tuhan yang memang ia inginkan sebelumnya. Gea menutup bibirnya dengan kedua tangannya lantaran kebahagiaan yang begitu membuncah yang masih berusaha ia cerna.
"Bayang, ayolah kita temui mereka," ucap Gea antusias. Kebahagiaan itu tidak bisa ia sembunyikan. Ia ingin segera melihat kedua buah hatinya.
"Ayo ... tapi nanti ya setelah Dokter mengijinkannya." Briel mencoba memberikan pengertian untuk Gea dengan hati–hati. Namun tetap saja, walaupun sudah hati–hati kekecewaan di hati Gea tidak bisa dipungkiri.
__ADS_1
"Yaaahh ... Kenapa? Bukankah juga ibu yang harus bertemu dengan mereka?" tanya Gea dengan hati yang kecewa.
Briel tersenyum sendu. "Belum waktunya, Sayang. Dokter tadi bilang sama aku bahwa kamu bisa menemui mereka setelah kamu sudah cukup pulih untuk bertemu mereka."
Gurat kesedihan terlihat jelas di wajah Gea. Briel paham itu, namun ia juga tidak bisa memaksakan, demi kebaikan mereka bertiga.
"Mereka terlahir prematur, Sayang. Dekapanmu sangatlah membantu untuk mempercepat pulihnya mereka. Namun kamu juga harus membaik terlebih dahulu."
Gea masih terlihat murung. Menunggu terasa sangatlah meskipun sebenarnya hanyalah waktu yang sebentar.
Briel menghembuskan napasnya berat. "Nanti siang, aku coba bicarakan lagi dengan dokter ya," ucap Briel.
Tangan Briel tidak tinggal diam. Tangannya sebelah kiri mengusap lembut tangan Gea yang ia genggam dengan ibu jarinya sedangkan tangan kanannya mengusap kepala Gea dengan lembut. Tatapannya begitu hangat, membuat hati Gea turut menghangat.
"Baiklah," ucap Gea dengan berat hati pada akhirnya. "Tapi aku tidak mau tidur. Tidak ngantuk," lanjut Gea.
Briel mengangguk. Ia setuju akan hal itu. Briel menyeret kursi mendekat, tepat di samping Gea. Ia menatap kembali wajah Gea yang kini terlihat lebih bugar dengan lembut. Ia tersenyum cerah. Gea menatap Briel. Tatapan mereka saling beradu.
"Ada apa ini?" tanya Gea penasaran. Tatapan Briel seakan ingin mengejar sesuatu darinya.
"Mm tidak." Briel masih enggan untuk menjawab. Ia ingin menatap istrinya dengan puas walaupun ia tahu tidak akan pernah cukup sampai akhir hidupnya.
"Wah wah wah sekarang main rahasia–rahasiaan ya," ucap Gea seraya mengangguk–angguk. Briel terkekeh ringan.
"Selama kamu tidak sadarkan diri, kenapa kamu tertidur selama itu dan tidak ingin bangun hmm?" tanya Briel lembut. Ia penasaran dengan apa yang Gea alami selama itu. Bukan waktu yang singkat untuk tidak sadarkan diri.
Gea mulai mengingat kembali apa yang terjadi padanya. Potongan–potongan ingatan ia kumpulkan.
"Mmm jadi ..."
🍂
//
Happy reading gaess,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1