Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
95. Kebahagiaan Kecil


__ADS_3

"Ahhh capeknya …." ucap Gea tatkala ia sampai di kamar. Ia melempar tubuhnya sendiri ke ranjang yang empuk. Papan catur telah ia letakkan di atas meja sebelumnya. Sedangkan Briel berhenti berdiri di ambang pintu. Ia geleng–geleng melihat tingkah Gea sembari tersenyum.


"Mandi dulu Gey, baru nanti istirahat."


Briel melepas jasnya lalu menyampirkannya di punggung sofa itu. Ia menggulung lengan kemejanya itu.


"Gak ah, Bang, kamu dulu saja yang mandi sana." Gea masih menikmati rebahannya. Ia masih ingin bermalas–malasan sembari memejamkan matanya.


"Kamu dulu Geyang, atau kamu sengaja menungguku untuk memandikanmu?" ucap Briel sembari tersenyum tengil.


Briel mencoba menggoda Gea agar Gea mau beranjak membersihkan diri agar rasa capainya hilang. Namun jika Gea sutuju untuk dimandikan, dengan senang hati Briel melakukannya.


Ternyata strategi Briel yang cukup jahil terbukti berhasil. Tubuh Gea menegang. Gea membulatkan matanya. Hal itu membuat Gea langsung bangkit berdiri dan bergegas lari ke dalam kamar mandi. Walaupun mereka sepasang suami istri, Gea masih saja malu jika harus mandi bersama.


Briel terkekeh melihat wajah Gea yang memerah menahan malu. Bahkan suara tawanya cukup mengesalkan di telinga Gea. Gea hanya bisa berdecak kesal karena ulah Briel. Ia menutup pintu kamar mandi, bahkan menguncinya agar Briel tak seenaknya masuk ke dalam kamar mandi.


"Ahh …. Aku malas mandi. Dingin …. Ada gak sih mandi tanpa air?" gerutu Gea.


Kebanyakan orang akan menyalakan air panasnya untuk menghalau rasa dingin. Namun tetap saja nanti setelah mandi rasanya tetap dingin. Itulah yang masih saja membuat Gea malas mandi ketika hawa dingin.


Dengan malas, Gea tetap mandi. Gea menggunakan air anget sebagai pilihannya mandi kali ini.


Sedangkan di dalam kamar, Briel mengambil papan catur itu. Ia mengangkat papan catur itu. Ia membolak–balikkan papan catur itu, mengamatinya dengan teliti.


Briel tersenyum. Ia tahu, papan catur itu bukanlah papan catur biasa. Desainnya yang klasik dan antik membuat papan catur itu bernilai estetik. Jika dilelang pun harganya tidak sembarangan. Tidak sembarangan orang bisa tahu bagaimana papan catur yang ia pegang itu. Namun bagi orang yang menyukai barang antik, papan catur itu pasti akan dikejar sampai didapatkannya.


Tak lama setelah itu, Gea keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono. Ia keluar dengan badan yang lebih segar, walau tak bisa dipungkiri ia kedinginan.


"Bang, air untukmu mandi sudah aku siapkan," ucap Gea santai sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Suara Gea membuat Briel meletakkan papan catur itu kembali dan mengalihkan perhatiannya pada Gea. Briel menatap Gea heran. Hal itu membuat Gea menyipitkan kedua matanya.


"Kenapa?"


Lagi–lagi Briel menggeleng heran. "Cepat sekali mandimu Gey? Apa jangan–jangan kamu hanya cuci muka?" tuduh Briel.


Pasalnya, belum genap sepuluh menit, Gea sudah keluar dari kamar mandi. Jika diperhitungkan saja, paling cepat waktu untuk menyiapkan air dan dan melepaskan pakaiannya sekitar 2 menitan. Belum membersihkan badan, belum gosok gigi dan yang lainnya. Ia sendiri membutuhkan waktu paling tidak selama 20 menit untuk menyelesaikan semuanya. Dan dalam waktu itu juga, Gea telah menyiapkan air untuknya mandi.


"Enak saja! Aku sudah mandi, Bang. Mau bukti? Nih cium bau badanku."

__ADS_1


Gea mendekatkan dirinya ke arah Briel. Briel mengendus wangi tubuh Gea. Memang benar, aroma wangi natural sabun itu tercium di hidungnya. Dan itu membuktikan bahwa Gea memang sudah mandi.


"Nah … wangi kan?" sombong Gea. Ia tak terima juga diledek tidak mandi oleh Briel, padahal sudah mandi. Hanya saja waktu mandi dia sangat singkat apalagi untuk ukuran seorang wanita dewasa. Begitulah Gea. Ketika ia malas mandi, maka mandinya akan secepat kilat.


Briel tersenyum. Kemudian Gea pergi menuju walk in closet untuk berganti pakaian. Namun ia tertarik mundur ke belakang. Briel memeluk Gea dari belakang. Ia melingkarkan tangannya di perut Gea, lalu menempelkan dagunya di pundaknya. Ia mencoba mencium wangi Gea yang sangat cukup membangkitkan gairahnya. Gea hanya bisa pasrah saat itu.


"Bang …."


"Hem?"


"Geli …. Jangan begini ah."


Gea berusaha melepaskan pelukan Briel itu, namun gagal. Briel mencoba mencari posisi ternyamannya dan menikmati posisinya itu. Wangi tubuh Gea yang bercampur dengan wangi sabun yang Gea gunakan sungguh menenangkan untuknya.


"Sebentar Geyang!"


"Geyang apaan? Dari tadi Geyang Geyang."


Sedari tadi Gea mendengar kata itu, namun ia tak mengetahui apa artinya.


"Gea Sayang."


Lagi–lagi jawaban Briel membuat pipi Gea memanas. Ia sudah tidak bisa membayangkan bagaimana merahnya pipinya saat ini. Ia sungguh tersipu malu.


Briel tertawa kecil melihat perubahan warna kulit wajah Gea. Ia meniup telinga Gea lalu mengecup pipi Gea dengan cepat. Aliran listrik seakan menyetrum di tubuh Gea. Sampai–sampai Gea tak sadar pelukan itu telah lepas dari padanya.


"Sudah ah, aku mau mandi. Makasih, Geyang …." ucap Briel sembari berlalu pergi dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Ia meninggalkan Gea yang masih saja tenggelam dalam keterkejutannya.


"Kenapa dia berubah menjadi semanis ini? Apakah dia tidak salah makan obat?" gumamnya lirih. Gea masih menatap punggung Briel yang terus berjalan ke kamar mandi.


"Astaga …. Jantung oh jantung, bisakah kamu anteng saja? Haihh detakkanmu lama–lama membuatku jantungan!" keluh Gea sembari memegang dadanya karena detak jantungnya meningkat lebih cepat, bahkan debarannya sangat terasa ketika tangannya menyentuh dadanya.


Gea berjalan tanpa mengedipkan mata. Ia berjalan seperti patung yang berjalan, dengan langkah yang pelan menuju tempat ganti. Tanpa sadar, hal itu telah menjadi suatu kebahagiaan kecil di hati Gea dan Briel.


🍂


Sementara itu, di kediaman utama Keluarga Wiyarta, Edi dan Clara tengah bersantai di ruang keluarga menunggu makan malam siap dihidangkan. Mereka tengah menonton televisi berdua. Saat ini mereka hanya tinggal berdua di sana, karena Dela sudah tinggal bersama Davin di apartemen.


"Pi …." panggil Clara.

__ADS_1


"Hem?" Edi mulai menatap Clara yang duduk di sebelahnya. Ia menunggu kelanjutan ucapan Clara.


"Tadi Dela bilang sama mami Pi."


"Apa Mi?"


"Itu Pi, Davin mau mengembangkan perusahaannya. Dan tadi Dela berencana meminta Papi untuk menjadi investor di perusahaan Davin."


"Kenapa mereka tidak datang sendiri ke Papi?"


"Belum Pi. Katanya mereka juga mau datang ke sini nanti di saat mereka senggang. Gimana Pi?"


Clara sangat mengharapkan persetujuan dari mulut Edi. Sedangkan Edi mengangguk ringan.


"Kalau papi sih oke oke saja. Asalkan perinciannya jelas."


Clara pun tersenyum. Akhirnya suaminya itu menyetujui maksudnya. Dari sana ia berharap jika kehidupan Dela akan berlimpah ruah tak kekurangan.


"Tuan, Nyonya, hidangan makan malam sudah siap," ucap Roinah dengan hormat. Ia telah selesai menyiapkan hidangan makan malam.


Edi hanya mengangguk. Kemudian mereka berdua beranjak dari sana untuk makan malam.


🍂


//


Hai semuanya .... Sambil menunggu Asa up lagi, kalian bisa mampir dulu ke karya kece dan menarik dari kakak online Asa di bawah ini 😊😊




🍂


//


Happy reading guys,


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2