Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Penyelamatan 2


__ADS_3

TIN TIIN!!


Xavier membunyikan klakson mobil agar mobil mobil yang ada di depan mereka memberi mereka jalan. Keberadaan mereka menghalangi jalan mobil yang mereka kendarai.


"Ck tabrak saja!" ucap Briel yang juga mulai geram. Keberadaan mobil–mkbil itu tidaklah tepat dalam keadaan genting seperti ini.


Xavier tidak menanggapi omelan Briel. Ia masih mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata–rata. Mereka menuju ke tempat di mana lokasi berada, seperti yang telah dikirimkan oleh Nichol. Briel hanya diam menatap jalanan, sesekali ia menyuruh Xavier untuk mengemudikan mobil itu lebih cepat lagi. Dan nyatanya Briel lebih gila dari pada Xavier. Kecepatan Xavier dalam mengemudi masih dinilai kurang cepat bagi Briel.


"Cepatlah sedikit! Lambat sekali kau mengemudikan mobil ini!"


"Heii!! Jaga mulutmu! Kau mau kita mati karena kehilangan kendali?"


Xavier kesal dengan setiap kata yang terlontar dari bibir Briel. Kalimat protes itu begitu mengganggu pendengarannya.


"Heih ... Tahu begini aku saja yang menyetir!"


Briel benar–benar tidak sabar untuk segera menemukan Gea.


"Atau jangan–jangan kamu tidak tahu di mana tempatnya?" Briel mulai menaruh curiga pada Xavier. Akal sehatnya mulai hilang lantaran perasaannya yang mulai kacau.


"Kau pikir aku sebodoh itu?!" Xavier mulai geram dengan segala ucapan Briel. Sementara itu, Briel hanya menanggapinya dengan senyuman miring namun singkat.


Yeah ... mereka hanya berbekal maps yang telah dikirimkan itu. Xavier memang warga negara asing, namun ia ahli dalam bidang itu. Tidak perlu tahu seluk beluk, asal ada GPS semuanya berjalan semestinya.


"Diamlah! Ocehanmu hanya akan mengganggu konsentrasiku!"


Ucapannya terdengar datar, namun cukup untuk membuat Briel terdiam. Benar–benar rendah namun menusuk.


"Okay!"

__ADS_1


Pada akhirnya Briel menyerahkan semuanya pada Xavier. Ia mengalah. Briel juga tahu jika emosi di dalam hatinya mulai meledak–ledak, namun ia membiarkan emosi menguasai dirinya. Adam, Bima, dan Hendri menggunakan mobil lain untuk turut bersama dengan mereka. Di dalam mobil mereka, suasana begitu mencekam lantaran tidak ada dari mereka yang berniat memulai pembicaraan. Pikiran mereka terfokus tentang bagaimana keadaan Gea dan calon bayi itu.


Tidak lama kemudian, sampailah mereka di sebuah gedung yang tersembunyi. Tempat itu cukup gelap dan jauh dari pemukiman warga. Namun yang mencengangkan, baru saja mereka sampai, mereka telah disambut oleh beberapa peluru yang melesat ke arah mereka. Untung saja mobil yang mereka gunakan telah dilengkapi dengan kaca anti peluru sehingga mereka tidak perlu khawatir terlalu.


"Siall! Rupanya mereka memang mau bermain–main." Xavier tersenyum miring. "Baiklah jika itu mau kalian."


Xavier mulai mengambil jalan ekstrem. Ia mengemudikan ke arah mereka. Mereka kalang kabut berusaha menghindar dari mobil itu atau mereka akan mati. Sembari menyingkir, mereka menembak ban mobil. Ban mobil itu meletus.


Pada akhirnya mereka terkepung. Xavier harus berputar otak. Mereka harus menyelesaikan satu persatu anak buah Davin. Sedangkan Bima, Adam, dan Hendri telah dikepung oleh yang lainnya.


Briel dan Xavier saling menatap. Dari tatapan mata saja mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka mengangguk samar lantas keluar dari dalam mobil. Mereka berusaha mengalahkan anak buah Davin dengan begitu mudah, walau mereka kalah jumlah.


Bunyi patahan tulang terdengar. Xavier yang terkenal dengan kebrutalannya mampu mematahkan tulang mereka dengan tangan kosong. Tidak sulit, namun mereka butuh waktu untuk menghadapi mereka.


"Carilah istrimu! Biar aku yang menyelesaikannya!" ucap Xavier dengan tangan dan kaki yang bergerak lincah melumpuhkan lawan–lawannya.


"Shiitt mereka mengikutiku!" gumam Briel yang masih berlari meinggalkan mereka.


Dor dor!!


"Upss tumbang," ucap Xavier tanpa beban.


Dua orang yang mengikuti Briel mati seketika kala Xavier menggunakan kelincahannya dalam menggunakan pistol. Ia melakukan itu semua dengan mengambil sedikit celah kala mereka sedikit lengah. Ia tidak bisa membiarkan Briel terhambat sedikit saja.


🍂


"Mundur, atau nyawa ini akan segera melayang," ancam Davin dengan senyum liciknya. Hal itu membuat Daniel dan Nico tidak bisa berkutik.


"Kurang ajar," desis mereka berdua, lirih. Mereka gamang. Satu sisi beberapa langkah lagi mereka bisa mengambil alih Gea dari tangan Davin, namun strategi itu sangat berisiko bagi Gea. Apa lagi saat ini Gea tengah mengandung. Ruang gerak Gea sangatlah terbatas.

__ADS_1


Davin tertawa sumbang beberapa saat. Lantas ia terdiam. Ia berbicara kepada Gea tanpa mengalihkan pandangannya pada dua manusia yang menjadi musuhnya itu. Ia membiarkan dirinya lengah karena satu gerakan kesalahan.


"Kau lihat Gey? Mereka tidak bisa melakukan apapun lagi untukmu. Karena sedikit saja mereka bergerak, timah panas ini dengan mudahnya akan menembus pelipismu," ucap Davin tepat di samping telinga Gea. Suara itu hanya mengalun halus, tanpa, penekanan, namun terdengar begitu mengerikan.


Daniel dan Nico mengepalkan jari jemarinya kuat hingga buku–buku tangannya memutih.


"BIADAAB!!" desis Daniel.


"Ya, itu aku," celetuk Davin dengan santainya.


"Hmm ..." gumamnya. Davin menjeda kalimatnya. Suasana di sana sangatlah menengangkan. "Atau kalau tidak, mungkin aku akan menarikkan pelatuk ini ke rahimmu terlebih dahulu?" tanya Davin pada dirinya sendiri tanpa membutuhkan jawaban dari orang lain.


Ucapan Davin membuat Daniel dan Nico begitu geram. Mereka berniat untuk melangkah maju, namun Gea menahan mereka berdua dengan gelengan–gelengan lemah. Buliran air bening telah menetes beberapa tetes dari manik indah ibu hamil yua itu. Sungguh, Gea tidak ingin terjadi sesuatu apapun pada anaknya.


"Aaakhh Tuhan, kenapa sakit sekali," rintih Gea dalam hati. Ia merasakan hal yang tidak beres dengan kandungannya saat ini. Namun ia berusaha kuat agar Davin tidak melihat kelemahannya itu. Gea meringis tertahan.


Davin tersenyum. Kebengisan itu tak terelakkan. Dia benar–benar dibutakan oleh egonya. Dan ia benar–benar menikmati pemandangan seperti ini dengan dirinya sebagai pemegang kendali.


🍂


//


dudududu bersambung 🤭


Terimakasih semuanya telah menyempatkan waktu untuk membaca kisah ini. Novel ini akan segera usai. Sampai jumpa besok ya 😗


Happy reading gaess,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕

__ADS_1


__ADS_2