
Diam, termenung menatap ciptaan Tuhan yang sangat indah. Netranya seakan tak ingin lepas dari bidadari di depannya itu. Inci demi inci ia amati, tak terlewatkan walau sedikitpun.
"Manisnya istriku ketika terlelap seperti ini," gumam Briel dengan senyum yang mengembang di wajah tampannya itu. Jari jemarinya menyibakan anak rambut yang sedikit menutup wajah Gea. Wajah Gea terlihat begitu imut di matanya. Bibirnya sedikit terbuka.
"Momen seperti ini tak boleh dilewatkan."
Tiba–tiba terlintas ide seperti itu. Senyum jahil menguar di wajah Briel. Ia merogoh gawai di saku jasnya, mulai mengotak–atik gawainya. Ia mengambil gambar wajah Gea yang tidur dengan mulut yang sedikit terbuka.
Mata indah itu mulai mengerjap pelan. Perlahan, mata itu terbuka.
"Waaa!" teriak Gea kaget. Ia langsung terbangun. Tangannya reflek mendorong tubuh Briel yang membuat Briel terhuyung ke belakang. Wajah Briel terlalu dekat dengan wajahnya tatkala ia mulai membuka mata. Ia mengelus dadanya sendiri berulang kali.
"Sadis sekali istriku," rajuk Briel sembari menoel hidung Gea yang mancung. Ternyata tenaga istrinya cukup kuat untuk membuatnya mundur ke belakang.
"Astaga Bayang …!" sungut Gea.
Gea memukul ringan dada bidang Briel dengan sebelah tangannya. Suaranya terdengar agak serak, karena efek dari bangun tidur. Gelak tawa Briel terdengar kala melihat Gea yang seperti itu.
"Jauh–jauh sedikit Bayang, aku mau duduk," pinta Gea. Tak perlu menunggu dua kali perintah pun Briel menuruti apa kemauan Gea.
"Mau makan?" tanya Briel.
Seketika wajah Gea yang cemberut pun berseri–seri. Kebetulan sekali perutnya sudah meminta untuk diisi.
__ADS_1
"Pasta ya Bayang," ucap Gea dengan mata yang berbinar. Entah mengapa kali ini ia menginginkan makanan itu. Membayangkannya saja sudah membuatnya menelan ludah berkali–kali.
"Siyap Bu Bos!"
Briel memesan makanan melalui ponsel pintarnya. Setelah itu ia menghubungi bagian resepsionis untuk membawakan makanan ke ruangannya jika pesanannya itu telah tiba.
🍂
Sedangkan di kantor polisi, Davin tengah diintrogasi oleh pihak kepolisian tentang di mana keberadaan Kemal. Davin bungkam. Tatapannya bagaikan kilat yang menyambar, tajam. Ia tak menjawab apa yang ditanyakan oleh mereka.
"Baiklah, kali ini kau boleh bungkam. Namun tidak untuk lain kali," ucap salah satu dari mereka. Mereka semua meninggalkan Davin sendirian di sana.
Sementara itu, ada berita heboh yang muncul dari berita dunia perbisnisan. Siang itu juga, tatkala kejahatan Davin dan Kemal terbongkar, saham perusahaan mereka turun drastis. Para investor menyayangkan apa yang mereka perbuat. Para investor memilih untuk mencabut modal yang mereka investasikan.
Briel hanya termenung mendengar berita itu. Tak ada sedikitpun senyuman di wajah tampan itu walaupun ia mendengar kabar buruk dari musuhnya. Gea yang tengah menikmati makan siangnya pun bertanya–tanya.
"Berita tentang mereka telah tersebar di internet. Saham perusahaan mereka turun drastis dan bisa dikatakan bangkrut karena sebagian besar investor telah mencabut modal yang mereka tanamkan," jelas Briel.
Helaan napas Gea terdengar. Ia meletakkan sendok yang ia gunakan untuk makan. "Hemms … dunia internet memang kejam," ucapnya kemudian.
🍂
Tak ada yang Briel kerjakan hari ini. Ia memilih untuk menghabiskan waktunya bersama dengan Gea. Semua pekerjaannya ia limpahkan kepada Adam.
__ADS_1
"Dam urus semuanya. Aku ingin menghabis waktuku bersama istriku setelah beberapa hari lalu kami tidak bersama," titah Briel pada Adam yang masih berkutat pada pekerjaannya sendiri.
Adam menghentikan aktivitasnya. Ia melongo mendengar mandat dari sang bos itu.
"Astaga … pekerjaanku saja masih banyak Bos!" keluh Adam dengan wajah melas. Memang benar apa yang dikatakan Adam. Banyak hal yang masih harus Adam lakukan saat ini.
"Bodo amat! Aku tidak mau tahu. Bye Adam!" ucap Briel yang berlalu dengan sebelah tangan yang ia angkat. Ia tak memperdulikan bagaimana banyaknya pekerjaan Adam. Yang ia inginkan hanyalah berdua dengan istrinya. Adam hanya bisa melongo menatap kepergian Briel.
"Astaga Bos Gila!" teriak Adam. Briel menulikan telinganya. Wajah kusut Adam tak menjadi bahan pertimbangannya. Bahkan senyum penuh kemenangan tercetak jelas di wajah Briel.
"Bos dilawan? Oh tidak bisa …." gumam Briel sembari terus berlalu.
"Haihh ... Banyak sekali pekerjaan ini. Dasar Bos gak ada akhlak!" umpat Adam. Adam meraup wajahnya frustasi.
Adam meraih telepon yang ada di atas meja kerjanya. Tanpa berpikir panjang, ia menghubungi Mark.
"Mark datang ke ruangan saya sekarang!" ucapnya singkat lalu menutup sambungan telepon. Suara gagang telepon yang Adam letakkan terdengar dengan jelas. Ia kesal dengan Briel saat ini.
Ia akan mendelegasikan sebagian pekerjaannya pada Mark. Tak sanggup jika ia mengerjakan seorang diri. Atau dia akan merasa seperti di penjara yang tak mengijinkannya untuk pulang.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaess
Jangan lupa bahagia 💕💕